Pembela korban penyitaan lahan Cina, Wang Quangzhang, dipenjara karena tuduhan subversif

Cina Hak atas foto Dokumen keluarga
Image caption Wang Quanzhang hilang sejak pemerintah menangkap banyak pejuang HAM tahun 2015.

Pengadilan Cina menjatuhkan vonis empat setengah tahun penjara untuk pengacara pejuang hak asasi manusia ternama, Wang Quangzhang, yang antara lain banyak membela korban penyitaan lahan.

Wang adalah satu dari sejumlah pegiat HAM yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena tuduhan subversif atau melawan pemerintah Cina.

Senasib dengan para koleganya, Wang ditangkap otoritas keamanan Cina tahun 2015. Ia adalah aktivis terakhir yang diadili pasca penangkapan besar-besaran tersebut.

Pengadilan di kota Tianjin menyatakan Wang terbukti berupaya menggulingkan pemerintah Cina. Selain hukuman penjara, majelis hakim melarang Wang melakukan aktivitas politik hingga lima tahun ke depan.

Proses persidangan terhadap Wang tertutup untuk umum. Jurnalis dan diplomat asing dilarang masuk ke gedung pengadilan.

Kantor berita Reuters melaporkan, di tengah persidangan Wang memutus hubungan dengan pengacara yang ditunjuk pemerintah Cina untuk mendampinginya.

Istri Wang, Li Wenzu, juga dilarang menghadiri sidang. Ia ditetapkan menjadi tahanan rumah dan tak diizinkan keluar dari kediamannya di Beijing.

Li baru-baru ini menggunduli kepalanya sebagai bentuk protes terhadap otoritas Cina. Ia mengajukan petisi gugatan terhadap pengadilan tinggi setempat.

April lalu kepolisian Cina mencegat Li yang tengah melakukan aksi jalanan kaki sejauh 100 kilometer untuk menuntut pembebasan Wang.

Li dipaksa kembali ke Beijing dan dipaksa berdiam di rumah sementara bersama putranya yang berusia lima tahun.

Setelah putusan pengadilan diketok hakim, Li mengunggah pernyataan ke akun Twitter miliknya: "Wang Quanqi tidak bersalah, tuntutan pidanalah yang bersalah!"

Hak atas foto Reuters
Image caption Li Wenzhu memperlihatkan foto keluarganya dan dokumen penahanan Wang.

'Pesan mengerikan'

John Sudworth, BBC News, Beijing

Wang Quanzhang menghilang sepenuhnya ke dalam lubang hitam hukum selama tiga setengah tahun terakhir. Keluarganya tak mengetahui apakah ia masih hidup atau tidak.

Wang menolak dikunjungi sanak keluarga. Ia pun tak menggunakan hak untuk mendapat pendampingan hukum.

Barangkali Wang benar-benar terluka, begitu pemikiran orang-orang yang mengenalnya.

Atau barangkali, meski peluang itu sangat tipis, Wang berhasil bertahan - menolak tekanan dan mungkin juga penyiksaan serta bersikukuh tidak mengaku.

Hak atas foto Reuters
Image caption Li Wenzu berjalan kaki dari Beijing ke Tianjin, lokasi penahanan suaminya.

Sejumlah pengacara HAM lain ditangkap pada momentum yang sama seperti Wang tahun 2015. Sejak saat itu mereka telah diadili, divonis bersalah, dan dipenjara.

Persidangan Wang akhirnya digelar dalam satu hari akhir Desember lalu. Apapun alasan di balik penundaan kasus Wang, dia dinyatakan bersalah untuk perihal yang sama: mendesak otoritas Cina mempertangungjawabkan peradilan yang dijalankan Partai Komunis.

Dan satu-satunya partai di Cina itu sepertinya menegaskan bahwa konsep konstitusionalisme dan sistem peradilan yang independen merupakan gagasan Barat yang berbahaya.

Nasib yang dijalani Wang sepertinya dibuat sedemikian rupa untuk menyampaikan pesan mengerikan tersebut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Cina, Xi Jinping, dianggap menjalankan pemerintahan secara tangan besi.

Michael Caster, peneliti sekaligus penulis buku The People's Republic of the Disappeared, berkata kepada BBC bahwa kasus Wang mencerminkan serangan rezim Xi Jinping terhadap HAM dan komunitas hukum.

"Pejuang HAM dan komunitas sipil lainnya di Cina sepatutnya marah."

"Saat ini mereka mendukung Wang Quanzhang dan istrinya, Li Wenzu, sebagai simbol kesewang-wenangan dan perlawanan di bawah rezim Xi Jinping," kata Caster.

Caster mengutip temuan Kelompok Kerja PBB untuk Isu Penahanan Sewenang-wenang bahwa Wang ditahan secara melawan hukum.

Artinya, kata Caster, menurut hukum internasional Wang seharusnya tidak pernah dibawa ke meja hijau, apalagi dijatuhi hukuman.

Kelompok HAM mengutuk peradilan terhadap Wang itu. Amnesty International menganggapnya sebagai pengadilan tipu daya dan menyebut vonis untuk Wang sebuah ketidakadilan yang menyolok mata.

"Sangat memalukan, Wang Quanzhang dihukum atas secara damai membela HAM di Cina," kata peneliti Amnesty International, Doriane Lau.

Hak atas foto AFP
Image caption Proses peradilan terhadap para aktivis HAM digelar secara tertutup.

Penindakan otoritas Cina terhadap para advokat HAM dikenal dengan istilah '709' karena dimulai tanggal 9 Juli. Ini dipandang para aktivis sebagai tanda tumbuhnya pemaksaan atas perbedaan pendapat di era Xi Jinping.

Lebih dari 200 orang telah ditahan sejak otoritas Cina mengambil kebijakan atas gerakan HAM ini. Banyak dari orang-orang itu dipenjara dan diharuskan menjalani penahanan di rumah.

Sebagian pejuang aktivis HAM yang ditangkap lainnya harus menunggu nasib karena pengadilan menunda eksekusi hukuman untuk mereka.

Topik terkait

Berita terkait