Kisah orang tua yang selamat dari tsunami lumpur di Brasil

luapan lumpur. Hak atas foto Getty Images
Image caption Lumpur 12 juta m3 meluap dari bendungan, menurut perusahaan pertambangan Vale.

"Bendungan jebol, kita harus keluar dari tempat ini".

Vera Souza baru saja tiba di rumah tetangganya yang sudah tua, di mana dia membawakan makan siang setiap harinya, ketika dirinya diberitahu terjadinya kecelakaan di kompleks pertambangan di dekat kota Brumadinho, Brasil tenggara.

Mereka tinggal sekitar tujuh kilometer dari bendungan yang jebol hari Jumat (25/01) lalu dan menutupi daerah tersebut dengan lautan lumpur.

Sampai sejauh ini, paling tidak 58 orang dipastikan meninggal, tetapi lebih 300 lainnya masih dinyatakan hilang.

Hak atas foto Family album
Image caption Vera dan Geraldo (kanan) dengan Manuel (paling kiri), satu dari ratusan orang hilang.

Mereka hanya memiliki waktu beberapa menit untuk mencapai tempat yang lebih aman, tetapi petani berumur 64 tahun itu justru bergerak ke arah berlawanan, turun bukit, menuju tsunami lumpur, untuk menyadarkan suami dan saudara laki-lakinya yang berada di dalam rumah.

"Saya menerobos pagar kawat jembatan sempit dan berlari secepat mungkin," kenang Vera.

"Kaki saya masih sakit," Vera menambahkan, yang harus beristirahat karena masalah pembekuan darah dan patah tiga tulang dalam beberapa tahun terakhir.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lautan lumpur mengubur semua.

Ketika dia mencapai rumah keluarga, mereka tidak bisa membuang-buang waktu.

Vera kemudian berlari mendaki bukit sementara Geraldo, suaminya, berusaha mencari kendaraan.

"Tetapi kunci saya jatuh. Jadi saya hanya bisa berlari," cerita Geraldo, 70 tahun.

'Mirip film horor'

Saat itulah mereka mendengar suara menakutkan bahaya yang akan datang.

"Mirip film horor. Lumpur merusak pohon dan genteng, menarik rumah dan kendaraan."

Geraldo berlari mengikuti Vera dan mengambil jalur lain untuk mencari daratan yang lebih tinggi, melewati hutan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bangunan milik raksasa pertambangan Vale juga terkena.

"Saya berlari sepanjang 120 meter tanpa berhenti, saya merasa seperti masih berumur 17 tahun. Saya juga harus mendengarkan gerakan lumpur. Saya harus berlari menjauh jika gerakannya mendekat."

Mereka akhirnya selamat tetapi di dua tempat yang berbeda.

Keduanya menyaksikan banjir merusak semuanya yang mereka telah bangun selama 12 tahun terakhir.

Semuanya sekarang terendam lumpur sedalam 10 meter - rumah, kebun, 50 ekor ayam dan empat dari lima anjing mereka - satu ekor diselamatkan petugas kebakaran pada hari Sabtu (26/01) lalu.

Lembah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal mereka sekarang dikubur lumpur.

Hak atas foto AFP
Image caption Rumah ini selamat dari banjir lumpur.

Setelah lumpur tidak bergerak lagi Geraldo mencari istrinya. Para tetangga lain muncul dan melakukan penghitungan warga.

Seseorang hilang

Satu orang hilang: Manuel, saudara laki-laki Vera.

Mereka berharap dia berhasil menyelamatkan diri lewat jalan lain, tetapi nama Manuel sekarang tercantum dalam daftar orang hilang.

Menurut para petani, tidak ada sistem kesiagaan resmi, meskipun perusahaan pemilik bendungan, raksasa pertambangan Brasil, Vale, baru-baru ini menempatkan sistem peringatan dini di pemukiman.

"Jika mereka mendengar sirene, kami memiliki 20 menit untuk pergi. Kami kemungkinan dapat menyelamatkan Manuel," dia meyakini.

"Tetapi kami nyaris tidak memiliki waktu untuk berlari. Jika kami bertahan beberapa detik saja, kami bertiga sudah meninggal saat ini."

"Saya tidak mementingkan barang-barang. Saya tidak masalah jika tidak memiliki apapun, selama saya dapat menyelamatkan saudara laki-laki saya," tambahnya, sambil berusaha menahan air mata.

Topik terkait

Berita terkait