Venezuela: Kelompok oposisi 'diam-diam temui' pejabat militer, Maduro siap berdialog

Juan Guaido dan Nicolas Maduro Hak atas foto YURI CORTEZ/AFP
Image caption Guaido (kiri), yang bersikeras bahwa ialah presiden sementara Venezuela yang sah, mengatakan setiap transisi membutuhkan dukungan militer.

Presiden majelis nasional Venezuela, Juan Gaido, mengatakan bahwa kelompok oposisi telah melakukan pertemuan diam-diam dengan anggota militer dan pasukan keamanan.

Dalam sebuah kolom di suratkabar New York Times, Rabu (30/01), Guaido, yang bersikeras bahwa ialah presiden sementara Venezuela yang sah, mengatakan setiap transisi membutuhkan dukungan militer.

"Kami telah melakukan pertemuan rahasia dengan anggota militer dan pasukan keamanan, "tulis Guaido.

Dia kemudian menuliskan: "Penarikan dukungan militer terhadap Maduro sangatlah penting untuk memungkinkan perubahan dalam pemerintahan."

Dalam artikel itu, Guaido mengulangi tawarannya untuk memberikan amnesti kepada pejabat militer yang tidak terbukti melakukan dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Nicolas Maduro: 'Militer Venezuela mendukung saya'

Sementara itu, Presiden Venezuela Nicolás Maduro menolak seruan digelarnya pemilu presiden yang baru di tengah terus bergulirnya unjuk rasa terhadap kepemimpinannya.

Maduro kembali menegaskan bahwa kemenangannya dalam pemilu presiden pada musim semi lalu itu adalah sah.

Hak atas foto LUIS ROBAYO/AFP/Getty Images
Image caption Tokoh intelektual Juan Carlos Apitz (kanan, tidak terlihat) dari Universitas Central di Caracas membaca pernyataan mendukung kubu oposisi di hadapan anggota polisi, 30 Januari 2019.

Pernyataan Maduro ini merupakan tanggapan atas pernyataan pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara pada pekan lalu.

Walaupun demikian, dalam wawancara dengan Kantor berita Rusia, Maduro mengatakan dirinya siap menggelar pembicaraan dengan kubu oposisi.

"Saya siap duduk di meja perundingan dengan pihak oposisi sehingga kita dapat membicarakannya demi kebaikan Venezuela," katanya kepada kantor berita Rusia, RIA di Caracas.

Hak atas foto LUIS ROBAYO/AFP
Image caption Tokoh intelektual Juan Carlos Apitz (kanan) dari Universitas Central di Caracas membaca pernyataan mendukung kubu oposisi di hadapan anggota polisi, 30 Januari 2019.

Maduro mengatakan apabila AS dan negara lainnya menginginkan perubahan, mereka harus menunggu sampai 2025.

Dia menambahkan bahwa dia mendapat dukungan dari militer Venezuela, dan menuduh anggota militer yang melakukan disersi hendak melakukan kudeta.

"Mereka adalah tentara bayaran oligarki Kolombia dan berkonspirasi dari Kolombia untuk memecah belah militer," katanya, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Hak atas foto Lokman Ilhan/Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Aksi Protes telah digelar di seluruh negeri sejak Maduro memulai masa jabatan keduanya pada 10 Januari lalu.

Dia menambahkan bahwa dia tidak siap menerima ultimatum atau pemerasan, dan bersikeras bahwa dia mendapat dukungan dari militer Venezuela, dan menuduh para desertir berkonspirasi untuk merencanakan kudeta.

"Para desertir militer telah menjadi tentara bayaran dari oligarki Kolombia dan berkonspirasi dari Kolombia untuk membagi pasukan bersenjata," katanya, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Apa yang diputuskan Mahkamah Agung Venezuela?

Sebelumnya, Mahkamah Agung, yang setia kepada Maduro, dengan cepat menyetujui permintaan Jaksa Agung Tarek William, Selasa lalu, yang memintanya mengambil "tindakan pencegahan" terhadap Guaido.

Pemimpin oposisi itu "dilarang meninggalkan negara itu" sampai penyelidikan tingkat awal selesai setelah dia dituduh "mengusik perdamaian", kata ketua MA Maikel Moreno.

Sebagai pemimpin lembaga legislatif Majelis Nasional, Guaido memiliki kekebalan dari tuntutan hukum kecuali ada keputusan dari lembaga hukum tertinggi di negara itu.

Hak atas foto EPA
Image caption Nicolas Maduro mengatakan dia mendapat dukungan dari militer Venezuela, dan menuduh anggota militer yang melakukan disersi hendak melakukan kudeta.

Berbicara kepada wartawan ketika tiba di gedung parlemen, pemimpin oposisi itu mengatakan upaya pencegahan atas dirinya "bukan hal baru".

"Saya tidak abaikan ancaman, atau penganiayaan yang kami alami, tetapi kami di sini, akan terus melanjutkan aksi kami," katanya.

Keputusan pencegahan atas Guaido muncul setelah AS mengatakan telah menyerahkan kendali atas aset keuangan Venezuela di AS kepada Gauido, yang dianggap sebagai presiden yang sah.

Menanggapi perkembangan terbaru di Venezuela, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengeluarkan cuitan di akun Twitternya bahwa akan ada "konsekuensi serius bagi mereka yang berusaha menumbangkan demokrasi dan membahayakan Guaido".

Mengapa Guaido mendeklarasikan sebagai presiden sementara?

Guaido mengatakan konstitusi memungkinkan dia, sebagai ketua Majelis Nasional, mengambil alih kekuasaan ketika presiden sudah dianggap tidak memiliki legitimasi.

"Tugas saya adalah menyerukan adanya pemilu yang bebas, karena ada penyalahgunaan kekuasaan dan kami hidup dalam kediktatoran," kata Guaido kepada BBC, Senin.

Dia menambahkan: "Di Venezuela, kami ditindas secara total, mengalami penyiksaan ... dari rezim Maduro, atau kami memilih kebebasan, demokrasi dan kemakmuran bagi rakyat kami."

Guaido mengatakan pemerintahan Maduro "telah membunuh kaum muda yang miskin" di jalanan.

Apa tindakan Amerika Serikat?

Pada hari Senin, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengumumkan penerapan serangkaian sanksi terhadap perusahaan minyak BUMN Venezuela, PDVSA.

Sanksi itu diterapkan agar uang hasil penjualan minyak Venezuela tak akan jatuh kepada pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. "Agar Maduro tidak lagi dapat menjarah aset rakyat Venezuela".

Saat Bolton menghadiri jumpa pers, sejumlah wartawan melihat sebaris tulisan tangan pada buku catatannya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, membawa buku catatan dalam jumpa pers mengenai Venezuela. Sebaris kalimat tulisan tangan pada buku itu berbunyi, "5.000 serdadu ke Kolombia".

"5.000 tentara ke Kolombia," demikian bunyi tulisan itu, walau tidak sepenuhnya jelas apa maknanya.

Pada Selasa, Menteri Pertahanan sementara AS Patrick Shanahan menolak berkomentar saat ditanya apakah Pentagon mempertimbangkan mengirim pasukan. "Saya belum membicarakan hal itu dengan Bolton," katanya kepada wartawan.

Pada hari yang sama, AS meminta agar warga AS tidak melakukan perjalanan ke Venezuela karena "kerusuhan sipil, infrastruktur kesehatan yang buruk, dan penangkapan serta penahanan sewenang-wenang terhadap warga AS".

Bagaimana sikap dengan negara lain?

Lebih dari 20 negara telah mengikuti langkah AS dalam mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela. Tidak sedikit anggota Uni Eropa yang menyerukan digelar pemilu ulangan.

Namun demikian, sejumlah negara seperti Rusia, Cina, Meksiko dan Turki menyatakan secara terbuka bahwa mereka mendukung Maduro.

Hak atas foto FEDERICO PARRA/AFP
Image caption Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, yang berusia 35 tahun, menyatakan dirinya sebagai presiden sementara negara tersebut.

Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan bahwa sanksi AS melanggar "semua norma internasional" dan "berjanji untuk melakukan segala upaya untuk mendukung pemerintah Presiden Maduro yang sah".

Mengapa ada gerakan oposisi terhadap Presiden Maduro?

Venezuela menghadapi krisis ekonomi yang akut dan telah terjadi kerusuhan yang diwarnai kekerasan dalam beberapa pekan terakhir.

Aksi Protes telah digelar di seluruh negeri sejak Maduro memulai masa jabatan keduanya pada 10 Januari lalu.

Dia terpilih tahun lalu dalam pemilu kontroversial yang ditandai larangan kepada kandidat oposisi untuk dapat dicalonkan, atau bahkan dipenjara.

Setidaknya 40 orang diyakini telah tewas dan ratusan lainnya ditangkap sejak 21 Januari, kata PBB.

Hiperinflasi dan kekurangan barang-barang kebutuhan pokok, seperti makanan dan obat-obatan, telah memaksa jutaan orang meninggalkan negara itu.

Berita terkait