Bom gereja Filipina: Nama WNI terduga pelaku disebut, Kemlu RI tekankan investigasi belum tuntas

Filipina Hak atas foto AFP
Image caption Satu dari dua pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Jolo, Filipina, diduga kuat bernama Abu Huda dan berkewarganegaraan Indonesia.

Otoritas keamanan Filipina menyebut warga negara Indonesia bernama Abu Huda merupakan satu dari dua terduga pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo, Sulu.

Meski Filipina telah menemukan nama pelaku, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan investigasi masih bergulir dan dugaan keterlibatan WNI dalam serangan itu belum dapat dipastikan.

Nama Abu Huda disebut Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, kepada CNN Philippines. Ia berkata, Abu Huda bekerja sama dengan kelompok milisi Abu Sayyaf untuk meledakkan dua bom di Gereja Katolik Maria Gunung Karmel.

Bom bunuh diri yang terjadi saat ibadah mingguan berlangsung itu menewaskan setidaknya 22 orang dan melukai 100 orang lainnya.

Ano menduga Abu Huda telah cukup lama berada di Provinsi Sulu. Satu WNI lain yang juga diduga pelaku bom bunuh diri diyakini merupakan istri Abu Huda, namun namanya belum diungkap.

Ano menyebut dua WNI itu mendapat sokongan dari pelaku teror lokal bernama Alias Kamah. Alias merupakan anggota Ajang Ajang, kelompok kecil yang berjejaring dengan Abu Sayyaf.

Tak cuma Alias, Abu Huda juga dituduh berkomplot dengan Hatib Hajan Sawadjaan, salah seorang pimpinan Abu Sayyaf.

Lebih dari itu, Ano menduga, melalui serangan ke gereja di Sulu tersebut, kedua WNI hendak memberi contoh aksi bom bunuh diri yang jarang dilakukan kelompok teror setempat.

Hak atas foto AFP
Image caption Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyebut keterlibatan WNI dalam serangan di Jolo belum dapat dipastikan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, belum dapat memastikan keterlibatan WNI dalam serangan tersebut. Ia berkata, pengungkapan kasus belum menemukan kesimpulan.

"Sampai pagi, informasi yang kami peroleh menyatakan bahwa identifikasi pelaku belum dapat dikonfirmasi," kata Retno di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (02/02).

"Hari ini saya akan melanjutkan komunikasi dengan Filipina. Masih hipotetis, apakah dia WNI, itu yang perlu kami ketahui terlebih dahulu," ucapnya.

Kepala Kepolisian Provinsi Sulu, Pablo Labra, sebelumnya mengatakan beberapa saksi mata menunjuk pria dan perempuan yang mereka percaya berada di balik pemboman itu.

Mengutip para saksi mata, Labra menyebut saat terjadi pengeboman, pelaku perempuan duduk di dalam gereja, sementara satu pelaku laki-laki lainnya suaminya keluar.

Perempuan - yang digambarkan memakai jaket berwarna keabuan- membawa ransel.

Hak atas foto EPA
Image caption Tentara dikerahkan ke kawasan Jolo sesaat setelah bom bunuh diri terjadi. Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklaim akan membasmi kelompok teror di negaranya.

Labra mengatakan sampai Jumat (01/02), dua pasang kaki yang penuh luka, tak ada yang mengklaim dan ini menunjukkan kemungkinan milik pengebom bunuh diri.

Hasil dari uji DNA potongan-potongan tubuh akan diumumkan dalam beberapa hari ini, kata Labra, seperti dikutip ABS CBN News, Filipina.

Serangan bom bunuh diri di Jolo terjadi beberapa hari setelah referendum yang diikuti 2,8 juta orang menyepakati pembentukan Wilayah Otonomi Bangsamoro di wilayah Filipina selatan, daerah berpenduduk Muslim terbesar di negara tersebut.

Mayoritas pemilih menyetujui pembentukan itu, tetapi para pemilih di Provinsi Sulu yang mencakup Jolo, berbeda. Penduduk daerah itu menolak otonomi khusus tersebut.

Berita terkait