Mampukah militer Venezuela menangkal intervensi bersenjata pimpinan AS?

Venezuela Hak atas foto Getty Images
Image caption Militer Venezuela memainkan peranan lunci dalam konflik sosial dan politik di negara tersebut.

Ancaman konflik bersenjata menyelimuti Venezuela.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beberapa kali menolak mencoret opsi intervensi militer untuk melengserkan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro.

Sang presiden Venezuela berikrar untuk melawan upaya pelengseran dirinya.

"Kami harus membela hak kami untuk eksis sebagai sebuah negara dengan menyakitkan," kata Maduro kepada BBC, awal bulan ini.

Washington, bersama dengan sejumlah negara di Eropa dan Amerika Latin, telah menyatakan dukungan terhadap pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang pada Januari lalu mendeklarasikan dirinya sebagai "presiden sementara" Venezuela.Ancaman konflik bersenjata menyelimuti Venezuela.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Maduro mendapat sokongan militer.

Akan tetapi, Maduro mendapat sokongan dari dua negara adidaya, Rusia dan Cina.

Perkembangan terkini krisis politik ini adalah Guaido mengumumkan iring-iringan bantuan kemanusiaan dari AS akan memasuki Venezuela mulai 23 Februari sebagai cara mengatasi kelangkaan pangan dan obat-obatan di negara itu.

Maduro, di lain pihak, menolak memberikan izin masuk kepada konvoi tersebut. Dia membantah telah terjadi krisis kemanusiaan dan menuding iring-iringan bantuan itu bakal dimanfaatkan untuk membuka intervensi awal.

Dia memperingatkan bahwa pasukan bersenjata Venezuela akan mempertahankan perbatasan.

Praktis ketegangan meningkat dan semua mata tertuju pada militer Venezuela.

Bagaimana reaksinya di bawah tekanan? Apakah militer mampu memikul tanggung jawab menangkal serangan pimpinan AS?

Tentara Venezuela

Kementerian Pertahanan Venezuela menyatakan militer, atau istilah resminya Pasukan Bersenjata Nasional Bolivarian, berkekuatan dari 95.000 hingga 150.000 serdadu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pasukan Bersenjata Nasional Bolivarian, berkekuatan dari 95.000 hingga 150.000 serdadu.

Jumlah itu ditambah bantuan Milicia Nacional, pasukan yang terdiri dari para sukarelawan.

Bulan lalu, Maduro mengumumkan Milicia Nacional akan diperkuat dua juta personal pada April mendatang.

Namun, jumlah personel sebenarnya, kualitas pelatihan, dan persenjataan mereka diragukan.

Di samping Pasukan Bersenjata Nasional Bolivarian dan Milicia Nacional, Venezuela masih punya Guardia Nacional, kesatuan militer yang tugas utamanya adalah menertibkan keamanan, termasuk membubarkan pawai oposisi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Keterlibatan militer dalam fungsi sipil dikritik sejumlah kalangan.

Peralatan dan persenjataan

Saat Hugo Chavez berkuasa (1999-2013), Venezuela memanfaatkan pemasukan dari sektor minyak guna memodernisasi pasukan bersenjata, termasuk membeli peralatan dan persenjataan dari Moskow dan Beijing.

Sokongan Rusia tampak jelas pada Desember 2018 lalu, tatkala dua pesawat pengebom Tu-160 ikut ambil bagian dalam latihan militer dengan Angkatan Udara Venezuela, yang memunculkan protes dari Departemen Luar Negeri AS.

Rusia juga memasok Venezuela dengan sejumlah pesawat Sukhoi Su-30. Menurut para pakar, pesawat itu mampu menyaingi peralatan Amerika paling canggih.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pesawat pengebom Tu-160 ambil bagian dalam latihan militer di Venezuela.

Rusia pula yang menjadi pemasok utama sistem rudal anti-pesawat Venezuela.

Kemudian, dengan bantuan Beijing, Venezuela punya jaringan radar yang disebut-sebut paling canggih di Amerika Latin.

Pada bidang Angkatan Laut, Venezuela menggelontorkan dana cukup besar.

Secara keseluruhan, negara itu menempati peringkat 46 pada daftar kekuatan militer di dunia yang disusun oleh laman khusus bidang pertahanan Globalfirepower.org.

Dalam daftar itu, AS menempati urutan teratas.

Bagaimana kekuatan militer Venezuela sebenarnya?

Eskalasi krisis politik di Venezuela mendorong militer negara itu menunjukkan kekuatannya di depan khalayak umum.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Maduro mengatakan militer Venezuela dapat menghadapi AS.

Namun, seorang pakar militer asing yang berbasis di Caracas (dan meminta identitasnya dirahasiakan), mengatakan kepada BBC bahwa ada "sejumlah keraguan mengenai kapasitas operasional sebenarnya" mengingat negara tersebut mengalami krisis ekonomi parah sehingga persenjataan militer dilanda masalah perawatan.

Kurangnya perawatan dipandang sebagai masalah yang lebih serius ketimbang alat utama sistem persenjataan yang usang, seperti helikopter Super Puma buatan Prancis atau pesawat F-16 bikinan AS.

Alutsista tersebut dibeli sebelum mendiang Chevez memenangi pemilu 1998 dan tidak ada bukti bahwa barang-barang itu dirawat dengan baik.

Apakah tentara akan bertempur membela Maduro?

Sejak Juan Guaido menyatakan diri sebagai presiden sementara, kubu oposisi Venezuela berulang kali menyeru kepada militer untuk menarik sokongan mereka dari Maduro dan "berpihak pada konstitusi".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mengomandani pasukan bersenjata.

Namun, meskipun militer juga dihadapkan pada kelangkaan pangan dan hiperinflasi seperti dialami warga kebanyakan, tindakan desersi besar-besaran sejauh ini belum terjadi.

Memang ada tuduhan telah terjadi penahanan besar-besaran terhadap personel militer yang tidak puas dengan pemerintahan Maduro, namun akun Twitter resmi yang terkait dengan Komando Strategis dan Operasional Angkatan Bersenjata serta Kementerian Pertahanan terus mencuitkan pesan kesetiaan pada Maduro.

Mengapa mereka mendukung Maduro?

Ada banyak alasan mengapa militer mendukung Maduro.

Beberapa analis menyoroti Chavismo—gerakan yang dibentuk Chavez dan diwariskan kepada Maduro sejak 2013—pada dasarnya adalah militer.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Juan Guaido meminta militer "berpihak pada konstitusi".

Chavez sendiri adalah perwira angkatan darat.

Dalam artikel terbaru terbitan harian Spanyol, El Pais, wartawan Cristina Marcano yang merupakan penyusun biografi Chavez, menulis "militer bukan saja pendukung rezim, mereka adalah faktor fundamental dari rezim".

Marcano menekankan bahwa begitu Chavez menjadi presiden, para perwira militer mulai menduduki posisi-posisi tinggi di pemerintahan dan sektor publik.

Hak atas foto EPA
Image caption Hugo Chavez berpangkat letnan kolonel angkatan darat sebelum menjadi presiden.

Dan, sebagaimana terjadi di negara yang militernya terlibat dalam urusan politik—seperti Kuba dan Mesir—angkatan bersenjata menguasai porsi terbesar dalam ekonomi Venezuela.

Jadi, mampukah militer menangkal serangan AS?

Ted Galen Carpenter, seorang pakar pertahanan dan urusan luar negeri di lembaga kajian Cato Institute, mengatakan kepada BBC bahwa meskipun ada laporan mengenai perpecahan internal di tubuh militer, berbagai kesatuan dalam angkatan bersenjata Venezuela akan bertempur melawan intervensi pimpinan AS.

Carpenter juga memperingatkan bahwa keunggulan militer AS tidak akan membuat Washington terhindar dari tingginya ongkos keuangan dan nyawa jika memutuskan menggunakan aksi militer di Venezuela.

"Tiada yang bisa menandingi AS dalam perang terbuka. Tapi, Maduro dikelilingi pengikut garis keras yang dapat melakukan perang gerilya. Dan taktik itu bisa sangat efektif," jelas Carpenter.

Hak atas foto AFP
Image caption Penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, mengatakan Washington tidak menepis opsi intervensi militer di Venezuela.

Sejarah mencatat AS kehilangan pasukan dalam jumlah besar saat terlibat konflik di Vietnam dan Irak. Dan hal itu sangat tertanam pada kesadaran publik AS.

Maduro menggunakan ingatan itu agar AS urung menerapkan pilihan aksi militer.

"Venezuela akan menjadi Vietnam jika suatu hari Trump mengirim tentara AS untuk menyerang kami," serunya.

Koneksi Kuba

Pascal Fletcher, Analis BBC Monitoring

Sejak kudeta yang gagal terhadap Presiden Hugo Chavez pada 2002, pemerintah Venezuela telah melebur para pemberontak bersenjata ke tubuh militer serta menerapkan model indoktrinasi politik yang sangat mirip dengan yang pernah diterapkan Kuba.

Chavez dan Maduro juga mengadopsi elemen lain yang serupa dengan militer Kuba, seperti 'perang semesta', yang memungkinkan warga sipil bergabung ke tubuh militer untuk memerangi "serangan imperialis'.

Kesatuan antara rakyat dan tentara ini telah dikuatkan melalui latihan-latihan militer.

Adapun keterkaitan militer antara Caracas dan Havana diselubungi kerahasiaan.

Akan tetapi, media pemerintah Kuba merujuk "kesepakatan teknis-militer" yang mencakup pelatihan personel militer Venezuela oleh perwira Kuba.

Beberapa analis mengatakan kerja sama antara kedua negara tidak terbatas pada sektor pendidikan dan kesehatan, tapi juga kerja sama militer dan intelijen.

Media Venezuela bahkan melaporkan bahwa menteri pertahanan mereka punya penasihat dari Kuba.

Karena itu, tak lama setelah mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela, Juan Guaido, menuntut agar Kuba meninggalkan militer negaranya.

Topik terkait

Berita terkait