Tiga perempuan anggota Kongres, dua di antaranya Muslim, yang mengubah wajah politik AS

Rashida Tlaib, Ilhan Omar dan Alexandria Ocasio-Cortez Hak atas foto Getty Images
Image caption Rashida Tlaib, Ilhan Omar dan Alexandria Ocasio-Cortez diambil sumpahnya pada tanggal 3 Januari 2019.

Trio perempuan yang baru terpilih menjadi anggota Kongres telah mengguncang politik Amerika Serikat.

Ketiga perempuan kulit berwarna ini memenangkan kursi sebagai wakil Partai Demokrat lewat pemilihan umum sela AS bulan November lalu.

Meskipun pendatang baru, mereka secara terbuka mempertanyakan konvensi lama kelompok mapan Amerika, baik dalam hal domestik maupun luar negeri, sehingga mendapatkan pendukung antusias, di samping pengecam keras, termasuk dari dalam partainya sendiri.

Jadi apakah perempuan ini wakil banyak suara yang radikal atau revolusioner yang sudah lama dinantikan politik AS?

Bersejarah

Hak atas foto iStock
Image caption Alexandria Ocasio-Cortez memasuki Kongres sebagai bagian dari jumlah terbanyak wakil perempuan di DPR dalam sejarah AS.

Di usia 29 tahun, Alexandria Ocasio-Cortez, mantan bartender dan pelayan dari New York menjadi perempuan termuda yang masuk ke Kongres. Keluarganya berasal dari Puerto Rico.

Ihan Omar dari Minnesota adalah warga Amerika keturunan Somalia berumur 38 tahun yang memakai hijab. Dia tiba di AS pada tahun 1995 sebagai pengungsi.

Pada pemilu sela November, dia dan rekannya Rashida Tlaib menjadi perempuan Muslim pertama yang terpilih di Kongres.

Rashida Tlaib, 42 tahun, wakil dari Michigan, adalah seorang pengacara dari generasi pertama Amerika-Palestina. Nenek dan kerabatnya masih tinggal di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Bisa dikatakan bahwa ketiganya mewakili politik progresif Demokrat AS.

Mereka mendukung hak LGBT, aborsi sebagai hak perempuan dan membela hak imigran.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rashida Tlaib dan Ilhan Omar mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim pertama di Kongres.

Bintang media sosial

Dalam kaitannya dengan masalah luar negeri, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib sangat berbeda dengan warga AS pada umumnya terkait dengan Israel, sekutu Amerika sejak lama dan penerima bantuan.

Sementara dalam hal politik dalam negeri, Alexandria Ocasio-Cortez atau AOC nama yang dipakai penggemarnya di Twitter, telah mengguncang dan mendapatkan banyak perhatian karena pandangannya yang sangat kiri, suatu hal yang langka di politik AS.

Tidak diragukan lagi bahwa perempuan-perempuan Demokrat ini sangat menentang Presiden Donald Trump.

Tetapi kadang-kadang pesaing serius pun memiliki kesamaan.

Misalnya dalam hal penggunaan 280 karakter sebuah Tweet.

Jika Donald Trump telah membuat terobosan dengan membuat Twitter sebagai saluran utama untuk berbicara langsung dengan masyarakat Amerika, politikus perempuan ini mengikuti jejaknya dengan mengedepankan pesan politik lewat kehadiran kuat di media sosial.

Hak atas foto Twitter
Image caption Twitter telah menjadi 'medan pertempuran' para politikus Amerika.

Perlombaan interaksi

Ini adalah strategi yang terutama berhasil bagi Alexandria Ocasio-Cortez.

Menurut sebuah kajian yang dilakukan situs internet berita Axios, selama sebulan anggota Kongres ini menciptakan lebih banyak interaksi di Twitter (retweets dan likes) dibandingkan enam situs berita paling berhasil AS di Twitter, termasuk organisasi besar seperti CNN dan New York Times.

Saat penelitian dilakukan, Donald Trump masih di atasnya dengan jumlah sekitar tiga kalinya, tetapi data ini - mengalahkan anggota Demokrat lainnya - tetap saja mewakili keberhasilan besar bagi Alexandria Ocasio-Cortez mengingat dirinya baru saja menjadi anggota DPR.

Melakukan streaming video-nya di Instagram saat membuat sup di dapur sambil membicarakan usulan peningkatan pajak bagi orang kaya kemungkinan tidak sukai semua orang, tetapi bagi generasi baru yang tumbuh dengan media sosial, dia sangatlah menarik.

Hak atas foto Instagram
Image caption AOC juga aktif di Instagram dan video memasaknya terbukti sangat populer.

Di samping peningkatan pajak sampai 70% bagi orang berpemasukan tinggi, dia juga mempromosikan rencana Green New Deal untuk menjadikan Amerika sama sekali bebas dari bahan bakar fosil dengan berinvestasi pada energi bersih, asuransi kesehatan bagi semua warga dan universitas gratis.

Masalah Amazon

Dia juga menentang bisnis besar pada sejumlah masalah, termasuk tentang pendanaan kampanye politik, keuntungan perusahaan obat besar yang dituduh "menggunakan penelitian yang dibiayai masyarakat untuk mendapatkan obat swasta yang mahal" dan perdebatan terbuka dengan pengecer terbesar dunia, Amazon, terkait rencana mendirikan markas di New York City.

Donald Trump mengatakan dia seorang sosialis, menekankan bahwa 'Amerika tidak akan pernah menjadi negara sosialis'.

Jadi apakah itu memang benar? Ocasio-Cortez menjawab dengan mengatakan dirinya adalah Sosialis-Demokrat, dengan penekanan pada kata Demokrat.

Dia tentu saja memiliki sejumlah pengecam, salah satunya adalah mantan Senator Joe Lieberman dari partainya sendiri, yang mengatakan Alexandria Cortez-Ocasio tidak boleh menjadi masa depan Demokrat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pengunjung Kongres mulai meninggalkan pesan cinta dan dukungan di pintu kantor Alexandria Ocasio-Cortez.

Dalam beberapa bulan ke depan, memang meloloskan rancangan undang-undang kemungkinan akan lebih sulit bagi Alexandria Ocasio-Cortez dibandingkan mendapatkan 3,2 juta pengikut di Twitter, tetapi hampir semua orang sepakat dia adalah kekuatan besar yang mendominasi wacana politik.

Lain dari biasa

Jika kemenangan Trump pada pemilu sebagai petunjuk, usahanya yang sering terdengar mengingatkan bahwa Amerika bosan dengan politik pada umumnya, sepertinya juga terjadi di sebagian besar masyarakat AS.

Anggota Kongres perempuan yang baru terpilih menyerang Trump dengan semangat yang sama: dia tidak bisa mengharapkan dirinya dapat bekerja seperti biasa.

Ketika Ilhan Omar, wakil masa jabatan pertama kelahiran Somalia mempertanyakan utusan yang baru ditunjuk Trump untuk Venezuela, diplomat veteran Elliott Abrams pada sebuah sidang Kongres, videonya langsung menjadi viral.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ilhan Omar terpilih menjadi bagian dari Foreign Affairs Committee DPR.

"Apakah Anda akan mendukung kelompok bersenjata di dalam Venezuela yang terlibat kejahatan perang, kemanusiaan atau genosida jika Anda percaya mereka melakukannya untuk kepentingan AS, seperti yang Anda lakukan di Guatemala, El Salvador, dan Nikaragua?" Ilhan Omar menanyakannya, sehingga memicu perdebatan menegangkan di antara keduanya.

Dia mengacu kepada peran Elliott Abrams dalam skandal yang dikenal sebagai Iran-Contra.

Ketika diketahui bahwa Amerika secara diam-diam menjual senjata ke Iran pada tahun 1980-an dan menyalurkan dananya untuk kelompok anti-komunis Nikaragua.

"Sepertinya adil"

Selama masa jabatannya, milisi yang dilatih AS melakukan pembantaian di El Salvador, membunuh lebih dari 800 warga sipil.

Elliott Abrams mengatakan interogasinya 'konyol' dan 'sebuah serangan pribadi'.

Tetapi Alexandria Ocasio-Cortez yang bereaksi lewat Twitter, mendapatkan 62.000 likes. "Menyaksikannya menanyai utusan Trump ... sepertinya keadilan ditegakkan," tulisnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ilhan Omar adalah pengungsi Somalia yang tiba di AS saat berumur 12 tahun.

Pihak-pihak yang membela Ilhan Omar mengatakan dia mengangkat masalah kelompok elite Washington yang sejak lama tidak diperhatikan.

Meskipun demikian, perbedaan pandangan terkait posisi Ilhan Omar terhadap Israel memicu kontroversi yang lebih tajam.

Kontroversi Israel

Wakil Minnesota ini mendukung gerakan BDS, kampanye pimpinan Palestina yang terinspirasi gerakan anti-apartheid Afrika Selatan, untuk menerapkan boikot, divestasi dan sanksi terhadap Israel terkait dengan kebijakan Palestinanya.

Israel menuduh gerakan tersebut mengancam keberadaan mereka, sebuah pandangan yang juga didukung sebagian besar politikus kedua partai di Kongres.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wakil Minnesota terlibat dalam sengketa anti-Yahudi.

Ketika diketahui bahwa anggota paling senior Republik di House of Representatives, Kevin McCarthy, menegaskan akan menindak Ilhan Omar terkait dugaan anti-Yahudi, dia mengirim tweet, mengisyaratkan bahwa kelompok lobi pro-Israel, Aipac (The American Israel Public Affairs Committee) menggunakan insentif keuangan untuk mendukung agenda pro-Israel.

Komentarnya membuka berbagai masalah dengan pendukung dan pengecamnya, memulai perang Twitter terkait peran Aipac dalam politik AS dan mempertanyakan apakah Ilham rasis terhadap Yahudi.

Permintaan maaf Aipac

Jumlah orang yang tersinggung cukup berarti, mereka menekankan bahwa dia mendukung stereotip bahwa "Yahudi kaya mengendalikan dunia".

Presiden Trump menuntutnya mundur, Chelsea Clinton menyerangnya karena menggunakan masalah anti-Yahudi dan senator senior Demokrat Chuck Schumer menuduhnya tidak toleran dan menggunakan kiasan anti-Yahudi.

Sebagai jawabannya, pembela Ilhan di Tiwtter menyebarkan video pidato Schumer di konferensi Aipac hampir setahun lalu.

Mereka memintanya untuk meminta maaf terkait dengan apa yang mereka pandang sebagai kefanatikan keagamaan dan anti-Palestina.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu Demokrat senior di Kongres, Senator Chuck Schumer, berbicara di Aipac Policy Conference bulan Maret 2018.

Pada di video tersebut, Senator Schumer, seorang Yahudi, mengatakan kepada anggota Aipac, "Tentu saja, kita mengatakannya tanah kita, Taurat mengatakan itu, tetapi mereka (Palestina) tidak mempercayai Taurat. Jadi itulah alasannya mengapa tidak tercipta perdamaian."

Tweets masa lalu

Ini bukanlah untuk pertama kalinya pengaruh lobby Aipac pada politik Amerika diperhatikan.

Pada tahun 2005, Steven Rosen, saat itu pejabat senior Aipac, mengatakan kepada seorang wartawan New Yorker lewat sebuah wawancara makan malam bahwa "Dalam 24 jam, Aipac kemungkinan mendapatkan tanda tangan 70 senator di serbet ini."

Ketika Twitter membicarakan apakah Ilhan khusus dijadikan sasaran karena dirinya adalah Muslim perempuan pendukung BDS, dia mengirim tweet tentang 'permintaan maaf tegas', menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan yang "mendidiknya terkait dengan sejarah menyakitkan kiasan anti-Yahudi.'

Ini adalah untuk kedua kalinya politikus Amerika Somalia ini menyampaikan permintaan maaf setelah dikecam karena tweet anti-Yahudi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dua Muslim perempuan di Kongres AS juga menjadi yang pertama sebagai pendukung gerakan BDS.

Setelah memasuki Kongres, posting tahun 2012-nya muncul kembali, di mana dia menulis "Israel telah menghipnotis dunia, semoga Allah membangunkan orang dan membantu mereka melihat kejahatan yang dilakukan Israel".

Tweet dipasang bersamaan dengan Operation Pillar of Defense melawan Gaza yang dilakukan Israel, menewaskan enam warganya dan 158 orang Palestina termasuk paling tidak 30 anak-anak dan 13 perempuan, menurut data PBB.

Menyumpah

Rashida Tlaib, anak perempuan pengungsi Palestina, adalah anggota perempuan Kongres lainnya yang secara terbuka mendukung gerakan BDS melawan Israel.

Tetapi setelah kemenangannya di pemilu, dia memicu kemarahan karena alasan yang sangat berbeda.

Beberapa jam setelah diambil sumpahnya, wakil Michigan mengundang kontroversi karena menyumpahi Trump, mendesak pemakzulannya di depan kerumunan pendukungnya.

"Kita akan memakzulkan the mother****r"(si keparat)", kata-kata Tlaib yang segera membuat viral videonya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagai perempuan anggota Kongres pertama dari keturunan Palestina, Rashida Tlaib mengenakan thobe.

#UnapologeticallyMe

Presiden membalas dengan mengatakan komentarnya memalukan dan dia telah mencemari dirinya dan keluarganya.

Demokrat Michigan yang diambil sumpahnya dengan mengenakan pakaian tradisional Palestina, thobe dan menggunakan Quran keluarga tersebut tidak merasa perlu meminta maaf, lewat tweet-nya dia mengatakan dirinya akan selalu menyuarakan kebenaran bukannya kekuasaan, lewat hashtag #UnapologeticallyMe.

Dia menerima banyak kecaman, termasuk dari sejumlah Demokrat, tetapi pengadilan terbukanya di Twitter menunjukkan Tlaib memiliki banyak pendukung, sebagian bahkan memujinya sebagai ikon feminis karena menjawab presiden dengan menggunakan 'bahasanya (yang dipakai Trump) sendiri'.

Kolumnis New York Times. Michelle Goldberg, membela Rashida Tlaib dengan mengingatkan pembacanya bahwa bahasa Trump sampai sejauh ini termasuk - yang sama sekai tidak sopan - meremas alat kelamin perempuan dan mengatakan negara Afrika penuh kotoran manusia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Paman Rashida Tlaib yang tinggal di desa Beit Ur al Foqa, Tepi Barat.

"Wajah baru kekuasaan politik Amerika ini membuat banyak orang merasa tidak nyaman," tulisnya.

Alternatif Tepi Barat

Rashida Tlaib, yang kemudian membicarakan kejadian tersebut dengan situs internet berita Politico mengatakan,"Saya tidak menginginkan apa pun yang saya lakukan atau katakan membuat kita terkecoh. Dan hanya karena itulah saya akan meminta maaf, bahwa ini mengalihkan perhatian."

Warga Amerika keturunan Palestina ini kemungkinan akan menjadi perhatian kembali jika rencananya untuk melakukan kunjungan ke Tepi Barat sebagai anggota Kongres, bukannya lawatan ke Israel yang biasa dilakukan, akan terjadi.

Anggota baru Kongres AS yang baru terpilih setiap tahun diundang ke Israel secara gratis, disponsori bagian pendidikan Aipac.

Kebanyakan dari mereka menerima undangan tersebut, tetapi tahun ini mereka kemudian akan mendapatkan pilihan lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga Amerika keturunan Palestina yang dibesarkan di Detroit ini adalah anak tertua dari 14 saudara.

Rashida Tlaib berencana mengundang anggota baru untuk bergabung dengan dirinya, mengunjungi Tepi Barat, memusatkan perhatian kepada segregasi dan pengaruh pendudukan militer Israel selama 52 tahun.

"Saya pikir Aipac tidak memberikan lensa yang nyata dan adil terkait masalah ini," katanya dalam wawancara dengan situs Intercept.

"Mereka tidak memperlihatkan sisi yang saya ketahui nyata, yaitu apa yang dialami nenek saya dan apa yang terjadi kepada keluarga saya disana."

Dia dituduh sejumlah pengecamnya bersimpati kepada teroris.

"Saya Muslim dan Palestina," tulisnya pada sebuah posting Twitter, "Hadapilah itu."

Berita terkait