Korban penembakan masjid di Selandia Baru: Mereka yang meninggal saat salat Jumat

Lilik Hak atas foto KBRI Wellington

Sebanyak 50 orang meninggal dunia dalam penembakan massal di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, hari Jumat (15/03).

Sebagian besar pindah ke Selandia Baru untuk bekerja atau kuliah dan berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Beberapa di antaranya pernah menyandang status pengungsi dan memilih bermukim di negara ini karena jauh lebih aman dibandingkan di negara sendiri.

Pemakaman terhadap para korban dimulai hari Rabu (20/03). Termasuk yang pertama di makamkan adalah ayah dan anak, Khaled dan Hamza Mustafa, yang berasal dari Suriah, negara yang dikoyak perang.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan mestinya para korban mendapatkan ketenteraman di Selandia Baru. "Ini sungguh sangat menyedihkan...," kata PM Ardern.

Ia berkunjung ke Christchurch untuk kedua kalinya sejak insiden penembakan.

Para korban penembakan berasal dari berbagai negara, seperti Pakistan, India, Malaysia, Turki, Somalia, Afghanistan, Bangladesh, dan Indonesia. Berikut nama-nama mereka:

Lilik Abdul Hamid

Dikenal juga dengan nama Muhammad Abdul Hamid.

Laki-laki asal Jakarta ini pindah ke Christchurch bersama istrinya pada 2003.

Ia bekerja sebagai staf bidang perawatan maskapai penerbangan Air New Zealand dan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).

Asosiasi insinyur di Selandia Baru (AMEA) mengatakan bahwa Hamid dikenal sebagai sosok yang disukai.

Pengurus AMEA, Stan Renwick, kepada Newshub mengatakan Hamid ia anggap sebagai anggota keluarga.

Pada akhir pekan setelah penembakan, keluarga Hamid banyak menerima tamu yang ingin mengucapkan belasungkawa.

Anak perempuan Hamid, Zhania Anindya, kepada Radio New Zealand mengatakan, "Kepribadiannya membuat kami tak pernah merasa kesepian, ia berteman baik dengan siapa saja."

Ia mengatakan banyak yang meminta bantuan ayahnya untuk memperbaiki sesuatu.

"Bahkan untuk memperbaiki jam ... ia siap membantu dengan obeng. Ia selalu tahu apa yang harus dikerjakan," kata Zhania.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Serangan teror di Christchurch: 'Hari terkelam di Selandia Baru'

Mucad Ibrahim, 3

Mucad berada di Masjid Al Noor yang berlokasi di Deans Avenue bersama Abdi, sang kakak dan ayahnya, yang selamat dalam insiden ini.

"Sungguh berat, semua orang menelepon dan menanyakan apakah kami butuh bantuan. Ini momen yang sangat sulit, kami belum pernah mengalami hal seperti ini," kata Abdi.

Abdi menyebut Mucad adalah bocah yang "penuh energi, ceria, dia suka tersenyum dan tertawa."

Atta Elayyan, 33

Hak atas foto Photosport
Image caption Elayyan adalah pemain futsal dan direktur perusahaan teknologi.

Elayyan adalah penjaga gawang tim Futsal Selandia Baru (NZF).

Ia berasal dari Palestina dan memegang paspor Yordania. Keluarganya menetap di Selandia Baru sejak 1994, kata sepupunya kepada surat kabar Israel, Haaretz.

Selain dikenal sebagai pemain futsal, ia adalah direktur perusahaan konsultan teknologi dan pengembang aplikasi LWA Solutions, yang ia dirikan pada 2010.

Ia juga pemain gim video profesional. "Kami sungguh kehilangan," kata Josh Margetts, pengurus NZF.

"Semua orang suka dengannya ... tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kesedihan kami. Kami sangat kehilangan," tambahnya.

Elayyan meninggalkan seorang istri, Farah, dan anak perempuan berusia dua tahun, Aya.

Sudah diluncurkan skema crowdfunding untuk mendukung keluarganya.

Daoud Nabi, 71

Hak atas foto Reuters
Image caption Daoud Nabi pindah ke Selandia Baru pada 1980-an untuk melarikan diri dari invasi Uni Soviet di Afghanistan.

Daoud Nadi adalah korban pertama yang berhasil diidentifikasi.

Dia lahir di Afghanistan, namun kemudian pindah ke Selandia Baru bersama keluarganya pada tahun 1980-an, untuk melarikan diri dari invasi Uni Soviet.

Dia berprofesi sebagai insinyur, dan disebut sangat menyukai mobil antik.

Setelah pensiun, Daoud menjadi ketua komunitas di lingkungan rumahnya.

Dia adalah ketua asosiasi warga Afghanistan di lingkungannya dan dikenal sebagai pendukung kolompok migran.

Daoud Nabi diyakini mengadang pelaku penembakan untuk melindungi jemaah lain saat serangan terjadi.

Putranya, Omar, mengatakan pada NBC News, "Tidak peduli dari mana Anda berasal, baik itu Palestina, Irak, Suriah — dia akan selalu jadi orang pertama yang menyambut kedatangan Anda."

Sayyad Milne, 14

Hak atas foto Al Khadeem Youth Club

Sayyad Milne bercita-cita menjadi pemain sepak bola saat dia besar nanti.

Pada hari Jumat, dia sedang berada di Masjid Al Noor bersama ibunya.

Sang ayah mengatakan kepada media Selandia Baru pada Sabtu (17/03), "Saya belum mendengar secara resmi bahwa dia sudah meninggal, namun sekarang saya tahu karena dia sudah diidentifikasi."

"Saya ingat pertama kali melihatnya saat bayi. Saya hampir kehilangan dia waktu dia dilahirkan. Dia adalah prajurit kecil pemberani. Ini sangat sulit, melihat dia ditembak oleh seseorang yang tidak peduli terhadap orang lain."

"Saya tahu di mana dia berada sekarang. Dia sudah tenang."

Saudara tiri Sayyad, Brydie Henry, mengatakan kepada reporter dia terlihat "terbaring di lantai masjid, tubuhnya berlumuran darah".

"Dia hanyalah bocah Kiwi (Selandia Baru) biasa," kata Brydie.

Mark Wilson, kepada sekolah Cashmere High School, kepada Newshub mengatakan bahwa Sayyad adalah murid yang luar biasa. "Ia murid yang sangat baik hati," katanya.

Naeem Rashid, 50

Naeem Rashid berasal dari Abbottabad di Pakistan. Dia bekerja sebagai guru di Christchurch.

Hak atas foto Family handout
Image caption Naeem Rashid saat berfoto bersama putranya Talha, beberapa waktu lalu.

Dalam video penyerangan di masjid Al Noor, Naeem Rashid terlihat berusaha melumpuhkan sang pelaku.

Rashid terluka parah dalam serangan teror tersebut.

Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Kementerian Luar Negeri Pakistan mengonfirmasi kematiannya. Dia disebut sebagai pahlawan.

Saudara Rashid, Khurshid Alam, mengatakan bangga dengan apa yang dilakukan adiknya.

"Dia adalah seorang pemberani. Saya mendengar dari beberapa orang di sana, ada saksi mata... mereka mengatakan dia menyelamatkan beberapa orang karena mencoba menghentikan pelaku," kata Alam kepada BBC.

"Ini sangat sulit bagi kami. Dia dianggap pahlawan dan kami bangga, tapi ini juga musibah. Rasanya seperti kehilangan anggota tubuh."

Talha Rasheed, 21

Talha adalah putra tertua Naim Rasyid. Dia baru berusia 11 tahun saat keluarganya pindah ke Selandia Baru.

Kematiannya juga dikonfirmasi Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Teman-temannya mengatakan Talha baru saja mendapatkan pekerjaan dan akan segera menikah.

"Beberapa hari lalu, saya berbicara pada Naeem Rashid, dia mengatakan rencananya untuk datang ke Pakistan dan menikahkan putranya," kata paman Talha di Lahore.

Adapun putra Naeem Rashid lainnya kini tengah dirawat di rumah sakit.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Saksi mata: "Tangan saya gemetar tidak bisa berhenti"

Zeeshan Raza, Ghulam Husain, Karam Bibi

Hak atas foto Maryam Gul

Zeeshan Raza, 38, adalah anak laki-laki pasangan Ghulam Husain dan Karam Bibi.

Raza adalah lulusan teknik mesin dengan spesialisasi mesin sepeda motor.

Pada 2014 ia pindah ke Auckland sebagai warga tetap Selandia Baru. Hanya beberapa hari sebelum serangan ia pindah ke Christchurch dan menyewa rumah di dekat Masjid Al Noor.

Hak atas foto Maryam Gul
Image caption Ghulam Husain, Karam Bibi dan Zeeshan Raza tengah salat Jumat di Masjid Al Noor saat ditembak.

Kedua orang tuanya mengunjunginya pekan lalu.

Ghulam Husain besar di Karachi, Pakistan, dan bekerja di maskapai Pakistan Airlines sampai ia pensiun. Karam Bibi lahir di Karachi dari orang tua yang berasal dari Provinsi Punjab.

Keduanya salat Jumat bersama Raza dan ketiga tewas

Ghulam Husain dan Karam Bibi meninggalkan seorang anak perempuan, Maryam Gul.

Haroon Mehmood, 40

Hak atas foto Dokumentasi Keluarga

Mehmood pindah ke Selandia Baru sekitar lima tahun lalu dari Pakistan untuk menempuh pendidikan S3 di bidang biokimia.

Ia ke Selandia Baru bersama istri dan dua anak.

Keluarganya di Pakistan kepada BBC Urdu mengatakan bahwa meninggalnya Mehmood tak akan mengurangi semangat dan keinginan warga Pakistan untuk belajar di luar negeri.

Mereka mengatakan orang seperti Mehmood bisa membantu mematahkan persepsi buruk tentang Islam di Barat.

Syed Jahandad Ali

Ali bekerja untuk perusahaan teknologi informasi, Intergen. Rekan-rekannya di Intergen menggambarkan Ali sebagai "orang yang baik hati, bersahabat, dan banyak disuka".

Ia meninggalkan seorang istri, Amna, dan tiga anak yang masih kecil.

Syed Areeb Ahmed

Ahmed adalah warga Pakistan yang bekerja untuk perusahaan akuntansi PwC New Zealand.

Perusahaan mengatakan mereka sangat kehilangan.

Rekan-rekannya melakukan penggalangan dana untuk membantu keluarga Ahmed.

Sohail Shahid

Hak atas foto Nabeel Shahid
Image caption Nabeel Shahid

Shahid pindah ke Selandia Baru dari Pakistan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia bekerja di satu perusahaan lokal sebagai manajer.

Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan, yang paling kecil berusia dua tahun.

Ibu Saheed mengatakan kepada BBC, "Setiap hari ia menelepon saya, biasanya pukul 10.00 atau 11.00... kini tak ada lagi yang menelepon..."

Saudara Sohail Shahid, Nabeel, mengatakan selama satu setengah hari ia tak memberi tahu kematian Sohail ke sang ibu sambil berharap "teroris yang melakukan serangan tak menembak saudaranya".

Ibu Shahid berharap pemerintah Selandia Baru akan mengurus istri Shahid dan dua anaknya.

Farhaj Ahsan, 30

Berkewarganegaraan India, Farhaj Ahsan pindah ke Selandia Baru dari Hyderabad 10 tahun lalu dan berprofesi sebagai insinyur.

Dia punya dua anak yang masih kecil, anak perempuan berusia tiga tahun dan bayi laki-laki berusia enam bulan.

Otoritas Selandia Baru telah menginformasikan kematiannya pada keluarganya, sebut saudara Farhaj, Kasyif, kepada BBC.

"Tidak ada yang membayangkan di Selandia Baru, negara yang cinta damai, terjadi peristiwa seperti itu," ujar Sayiduddin, ayah Farhaj, pada BBC Telugu.

Hosne Ahmed, 44

Hosne Ahmed berada di aula untuk perempuan di Masjid Al Noor.

Ketika penembakan terjadi ia berlari ke aula laki-laki untuk mencari suaminya, Farid Uddin Ahmed, yang menggunakan kursi roda.

Kronologi dan pemetaan aksi penembakan jemaah dua masjid di Christchurch, Selandia Baru

Ahmed mengatakan tak membenci pelaku atau menyimpan dendam.

"Saya sudah memaafkannya. Saya berdoa sebagai Tuhan akan membimbingnya," kata Ahmed.

Pasangan yang berasal dari Bangladesh ini memiliki anak perempuan berusia 14 tahun.

Hosne Ahmead adalah satu dari empat warga Bangladesh yang meninggal dalam penembakan.

Khaled Mustafa

Kelompok Solidaritas Suriah Selandia Baru mengatakan Khalid Mustafa terbunuh di masjid Al Noor.

Hak atas foto SSNZ

Mustafa merupakan pengungsi Suriah yang pindah bersama keluarganya ke Selandia Baru pada 2018, yang mereka anggap sebagai tempat yang aman.

Salah satu putra Mustafa, masih hilang. Sementara itu, putranya yang lain terluka parah dan kini sedang menjalani operasi.

Amjad Hamid, 57

Pria yang berprofesi sebagai dokter ini belum terlihat sejak peristiwa penembakan di masjid tempat dia melakukan salat Jumat setiap minggunya. keluarganya mengatakan mereka telah memeriksa rumah sakit dan tempat lain, tapi Hamid belum juga ditemukan. Mereka meyakini Hamid sudah meninggal.

"Ini sangat buruk. Kami berharap menemukan tempat yang aman di Selandia Baru," ujar istri Hamid, Hahan, kepada New Zealand Herald. Hahan menyebut suaminya sebagai "pria yang sangat baik".

Pasangan ini hijrah ke Selandia Baru 23 tahun lalu, dan memiliki dua putra. Hamid adalah dokter spesialis penyakit paru-paru dan bekerja di Dewan Kesehatan Distrik Canterbury.

"Negera ini seharusnya jadi tempat yang aman. Selandia Baru kini berubah," ujar putranya, Husam Hamid.

Hussain al-Umari, 35

Setiap Jumat, Hussain al-Umari akan pergi ke masjid untuk salat Jumat kemudian ke rumah orang tuanya untuk makan malam.

Dia terakhir kali berbicara pada orang tuanya pada kamis. Dia sangat bersemangat karena baru saja membeli mobil.

Janna Ezat dan Hazim al-Umari, yang pindah ke Selandia Baru dari Uni Emirat Arab di tahun 1990-an, belum mendengar kabar terbaru dari putra mereka setelah serangan terjadi.

Kepada Stuff.co.nz, orang tua Hussain mendeskripsikan putra mereka sebagai "anak yang baik dan selalu membantu orang lain."

Empat warga negara Mesir

Kementerian Sumber Daya Manusia dan Imigrasi Mesir mengonfirmasi kematian empat warga negara mereka melalui unggahan di Facebook, yakni atas nama Munir Suleiman, Ahmad Gamaluddin Abdul Ghani, Ashraf al-Mursi dan Ashraf al-Masri.

Berita terkait