Pembobolan Kedutaan Korea Utara: Kelompok CCD ingin gulingkan Kim Jong-un, siapa mereka?

The Free Joseon logo as it appears on the group's YouTube channel Hak atas foto Free Joseon/YouTube

Sebuah kelompok yang menamakan diri Pertahanan Sipil Cheollima (Cheollima Civil Defense/CCD) mengklaim sebagai pelaku pembobolan Kedutaan Korea Utara di ibu kota Spanyol, Madrid, bulan lalu.

Sebagaimana disebutkan dalam dokumen Pengadilan Tinggi Spanyol, kelompok tersebut memasuki Kedutaan Korut pada 22 Februari bersenjatakan parang, pisau, pentungan besi, dan ikatan kabel.

Saat meninggalkan kedutaan, mereka membawa dua komputer, sejumlah hard drive, beberapa USB drive, dan sebuah telepon seluler. Barang-barang itu disebut telah diserahkan kepada Badan Investigasi Federal AS (FBI).

Para staf kedutaan dilaporkan diikat dan dipukuli.

Namun, organisasi itu menepis laporan tersebut. Menurut mereka, "tidak ada senjata yang digunakan" dan para staf kedutaan "diperlakukan dengan hormat dan sikap waspada yang sepatutnya".

Meski memiliki laman internet dan saluran YouTube, kelompok itu hampir tidak pernah berhubungan dengan media massa sehingga identitas mereka masih menjadi tanda tanya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kedutaan Korea Utara di Madrid, Spanyol.

Apa yang diketahui tentang CCD?

CCD, yang juga dikenal dengan sebutan Free Joseon, menyebut diri mereka sebagai "organisasi yang membantu para pembelot" dan berkomitmen menggulingkan dinasti Kim di Korea Utara.

Kata "Cheollima" merujuk pada kuda bersayap yang banyak terdapat pada mitos-mitos Asia dan ditampilkan dalam materi yang disebarkan pemerintah Korut untuk mempromosikan pembangunan ekonomi, menurut kantor berita AP.

Hak atas foto Free Joseon/YouTube
Image caption Keponakan Kim Jong-un, Kim Han-sol, muncul dalam video yang dilansir CCD di YouTube pada 2017.

Organisasi ini melambung namanya pada 2017, tatkala mengklaim memberi perlindungan kepada Kim Han-sol, keponakan Kim Jong-un. Ayah Han-sol adalah Kim Jong-nam yang dibunuh menggunakan zat syaraf di bandara Malaysia.

Han-sol kemudian tampil dalam video yang ditayangkan saluran CCD di YouTube, disaksikan lebih dari dua juta kali.

Tatkala sidang dugaan pembunuhan Kim Jong-nam akan dimulai, CCD membuat coretan graffiti pada tembok Kedutaan Korut di Kuala Lumpur.

Awal bulan ini, reporter Channel News Asia, Sumisha Naidu, mencuitkan foto graffiti pada tembok Kedutaan Korut di Madrid setelah kantor tersebut dilaporkan telah dibobol. Gambarnya mirip dengan logo yang ditampilkan pada laman CCD.

Dalam pernyataan yang dirilis pada awal Maret, kelompok ini mendeklarasikan diri sebagai "pemerintahan sementara" Korea Utara dengan ikrar "menggulingkan" yang mereka sebut "sistem penindasan" rezim Kim.

"Pemerintahan ini adalah organisasi tunggal dan adil yang mewakili rakyat Korea Utara," sebut pernyataan CCD.

Dalam video yang dilansir saluran CCD di YouTube pekan lalu, seseorang tampak merobek foto pemimpin pertama dan kedua Korut, Kim Il-sung and Kim Jong-il, dari dinding dan membantingnya ke lantai.

Besaran organisasi, pendanaan, dan keanggotaannya belum jelas. Namun, jangkauannya terlihat luas.

Hak atas foto Google Maps
Image caption Kedutaan Korut di Madrid memiliki kolam renang dan terletak sebelah barat laut dari pusat kota.

Apa yang diketahui soal anggota-anggotanya?

Salah satu anggota kelompok ini bernama Adrian Hong Chang, pegiat hak asasi manusia yang berbasis di AS dan turut mendidikan lembaga bantuan pengungsi Liberty di Korea Utara.

Menurut dokumen pengadilan, Adrian adalah pemimpin pembobolan Kedutaan Korut di Madrid.

Mengutip sumber yang dekat dengan Adrian, laman NK News melaporkan bahwa sang pegiat yang merupakan warga Meksiko, "berada di balik seluruh Cheollima Civil Defense."

Sumber dalam laporan itu menambahkan, orang tua Adrian merupakan misionaris di Meksiko sehingga "saya pikir dengan cara itulah dia mendapat paspor Meksiko".

"Aksi terkini…dia pernah melakukan yang serupa pada 2006 ketika dia pergi ke Cina dan ditahan bersama sejumlah pengungsi Korea Utara".

Menurut dokumen pengadilan, Adrian Hong Chang diyakini telah membeli barang-barang dari sebuah toko di Madrid sebelum aksi pembobolan, termasuk lima sarung pistol, empat pisau tempur, enam senjata sembur, dan beberapa kacamata pelindung.

Harian Spanyol, El País, juga melaporkan bahwa dua anggota kelompok itu punya keterkaitan dengan badan intelijen AS, CIA. CIA menolak berkomentar kepada BBC.

Dengan identitas para anggotanya kini mencuat di media massa, bakal berisiko jika CCD menggelar aksi serupa dalam waktu dekat.

Topik terkait

Berita terkait