Krisis Venezuela: Ingin ganti presiden, pemimpin oposisi Juan Guaido tunggu dukungan militer

Juan Guaidó Hak atas foto Reuters
Image caption Juan Guaido mengklaim hampir 90% warga Venezuela mendukungnya

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, mengakui pergantian presiden dan pemerintahan hanya akan terjadi jika ada dukungan dari militer. Hanya saja, sejauh ini para pemimpin militer tetap loyal kepada Presiden Nicolás Maduro.

Guaidó menyatakan dirinya sebagai pemimpin sementara Venezuela pada Januari lalu dan mengklaim dirinya didukung oleh "hampir 90%" rakyat Venezuela dan disokong Amerika Serikat.

Pada Minggu (31/03), pemerintah Venezuela mengatakan mereka akan mempersingkat hari kerja dan menutup sekolah karena pemadaman listrik.

Kantor akan berhenti bekerja pada pukul 14:00 waktu setempat "untuk mencapai konsistensi dalam penyediaan listrik", ujar Menteri Komunikasi Jorge Rodriguez dalam pernyataan yang disiarkan di TV pemerintah.

Guaido mengatakan kepada BBC bahwa pemadaman listrik dan kekurangan air yang melanda rumah sakit, transportasi umum, pelayanan air dan layanan lainnya - memicu kemarahan publik yang intens terhadap pemerintah Maduro.

"Kondisi sekarang adalah protes di lebih dari 20 distrik ibu kota, Caracas, dan di semua negara bagian Venezuela. Orang-orang menuntut agar pasokan listrik dan air dipulihkan, tetapi juga untuk perampas, Nicolás Maduro, untuk pergi. Ini merupakan pesan utama," katanya.

Pemerintah mengklaim pemadaman itu adalah sabotase yang dilakukan untuk memaksa Maduro hengkang dari jabatannya.

Hak atas foto EPA
Image caption Orang-orang Venezuela harus menghadapi pemadaman listrik dan minimnya pasokan air setiap harinya.

Namun Guaidó mengatakan Maduro tidak dapat dilengserkan kecuali militer Venezuela mendukungnya.

"Dukungan dan sokongan angkatan bersenjata akan diperlukan untuk mencapai perubahan demokratis dan damai di Venezuela di semua bidang, termasuk untuk melindungi pengunjuk rasa dari milisi bersenjata pro-pemerintah," katanya.

Guaidó - yang menurut pemerintah akan dilarang memegang jabatan publik selama 15 tahun - menolak kedatangan pasukan Rusia di Venezuela baru-baru ini.

Dia menyebut hal itu sebagai "provokasi" oleh Maduro untuk "mencoba menunjukkan semacam dukungan yang sebenarnya tidak dimilikinya".

"Rusia belum membuat langkah nyata, mereka belum menunjukkan dukungan nyata selain dari, mungkin, beberapa pernyataan diplomatik," katanya.

Pada hari Sabtu (30/03), Palang Merah (IFRC) mengatakan mereka bisamulai mendistribusikan pasokan bantuan penting ke Venezuela yang dilanda krisis selama dua minggu terakhir.

Kepala IFRC, Francesco Rocca, mengatakan kelompok itu bisa membantu 650.000 orang yang menderita kekurangan makanan dan obat-obatan.

Pada bulan Februari, pemerintah memblokir pengiriman konvoi bantuan yang didukung AS, yang katanya adalah invasi terselubung AS.

Apa latar belakangnya?

Maduro memenangkan pemilihan presiden pada April 2013 setelah kematian mentornya, Presiden Hugo Chavez. Ia terpilih untuk masa jabatan kedua pada Mei 2018 dalam pemilihan yang dianggap cacat oleh pengamat internasional.

Venezuela telah mengalami krisis ekonomi - inflasi melonjak 800.000% dibanding tahun lalu. Tiga juta orang telah pergi dari negara itu.

Guaido menuduh Presiden Maduro tidak layak untuk jabatan itu, dan memenangkan dukungan banyak orang di dalam negeri serta para pemimpin AS dan Uni Eropa.

Pemerintah Maduro menjadi semakin terisolasi tetapi Moskow telah memperluas kerja sama dengan Caracas - meningkatkan penjualan senjata dan menambah pinjaman.

Berita terkait