Reiwa: Jepang umumkan kata yang menandai era baru kekaisaran

"Reiwa" Hak atas foto Reuters
Image caption Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, mengungkap kata yang menandai era baru kekaisaran Jepang.

Jepang mengumumkan bahwa kata 'Reiwa'—yang bermakna ketertiban dan harmoni—akan menjadi kata yang menandai kekaisaran baru.

Era kekaisaran saat ini, yang disebut 'Heisei', akan berakhir bulan ini seiring dengan turun takhtanya Kaisar Akihito.

Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, mengumumkan kata baru itu dengan mengusung papan bertuliskan huruf kanji.

Perdana Menteri Shinzo Abe kemudian menyampaikan pidato guna menjelaskan maknanya.

Nama baru itu terdiri dari dua karakter, yaitu "perintah" atau "memerintah" serta "perdamaian" atau "harmoni".

Setiap pemerintahan suatu kekaisaran, atau disebut dengan "gengo", memiliki nama. Nama itu digunakan sejalan dengan kalender Masehi untuk menghitung tahun - sehingga pilihan nama harus dipertimbangkan dengan matang.

Nama gengo muncul pada uang koin, koran, surat izin mengemudi, dan dokumen-dokumen resmi sebagai penanda waktu. Namun ia juga mewakili semangat sebuah masa - seperti istilah "90-an" atau "era Victoria" - yang merangkum budaya dan momen-momen pada masa itu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Putra Mahkota Naruhito akan menjadi kaisar Jepang pada 1 Mei 2019.

Pemerintah Jepang memastikan pada Desember 2017 bahwa Kaisar Akihito yang telah berusia 85 tahun akan lengser pada April 2019 karena usia senja dan menyerahkan tampuk kekaisaran kepada anaknya, Putra Mahkota Naruhito.

Biasanya nama era baru kekaisaran Jepang diungkap hanya ketika kaisar telah mangkat dan penerusnya telah menduduki takhta. Keadaannya berbeda saat ini karena Kaisar Akihito turun takhta.

Akihito bakal menjadi kaisar Jepang yang turun takhta selama lebih dari dua abad terakhir.

Pengungkapan kata yang menandai era baru kekaisaran mengemuka setelah selama berminggu-minggu rakyat Jepang berspekulasi dan diskusi rahasia digelar oleh kabinet menteri.

Kabinet Jepang memilih kata itu dari daftar kata yang diusulkan sejumlah akademisi dan pakar.

"Beberapa waktu lalu, pemerintah memutuskan nama era baru dalam sebuah rapat kabinet dan bagaimana mengucapkannya," kata Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, dalam jumpa pers.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kaisar Akihito, bersama Pemaisuri Michiko, mengatakan usianya membuat dirinya sulit menjalankan tugas-tugas kekaisaran.

Kekuasaan Kaisar Akihito selama 30 tahun dikenal dengan era 'Heisei', yang berarti "mencapai perdamaian" dalam bahasa Jepang.

Era sebelumnya disebut "Showa" ("harmoni yang tercerahkan"), dipimpin oleh kaisar Jepang di era perang, Hirohito. Terentang selama 64 tahun, era tersebut meliputi masa Perang Dunia Kedua dan pertumbuhan pesat Jepang pascakonflik.

Penggunaannya dikabarkan semakin menurun, mengingat Jepang semakin membuka diri terhadap pengaruh global.

Sepertiga masyarakat biasanya menggunakan sistem gengo - angka itu ada di tingkat 82% pada tahun 1975 - sementara 25% lainnya lebih memilih menggunakan kalendar Masehi, menurut sebuah survei terbaru pada surat kabar Mainichi.

Karena kedua jenis kalendar sama-sama menggunakan nama bulan dalam kalendar Masehi, banyak orang yang menggunakan keduanya secara bersamaan.

Topik terkait

Berita terkait