Krisis Timur Tengah: Uni Emirat Arab sebut empat kapal tanker 'diserang aktor negara', AS dan Arab Saudi tuding Iran

Kapal A. Michel Hak atas foto HANDOUT/Getty Images
Image caption Kapal minyak A. Michel berbendera Uni Emirat Arab termasuk empat kapal yang rusak dalam insiden yang disebut "sabotase kapal".

Uni Emirat Arab mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa "aktor negara" kemungkinan besar berada di balik serangan terhadap empat kapal minyak di perairannya pada 12 Mei lalu.

Uni Emirat Arab tidak menyebut "aktor negara" yang dimaksud berada di balik aksi yang sebelumnya disebut sebagai "serangan sabotase".

Sejauh ini Amerika Serikat menuduh Iran berada di balik serangan dua kapal minyak dari Arab Saudi, satu kapal berbendera Uni Emirat Arab dan satu kapal Norwegia itu, tetapi pemerintah Iran membantah tegas tuduhan itu dan justru menyerukan perlunya penyelidikan.

Serangan pada tanggal 12 Mei lalu terjadi di perairan Uni Emirat Arab, di timur Fujairah, tak jauh dari Selat Hormuz yang strategis.

Peristiwa tersebut memperburuk ketegangan yang sudah berlangsung lama antara Iran, Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.

Apa isi laporan Uni Emirat Arab?

Uni Emirat Arab memimpin penyelidikan dalam kasus serangan terhadap kapal minyak di wilayah perairannya dan menyampaikan hasil penyelidikan kepada Dewan Keamanan PBB dalam rapat tertutup di New York, Kamis (06/06).

Hak atas foto AFP
Image caption Kapal Al-Marzoqah merupakan salah satu dari empat kapal yang mengalami kerusakan dalam peristiwa "sabotase kapal".

Acara itu juga dihadiri oleh perwakilan dari Arab Saudi dan Norwegia dan dalam laporan bersama, ketiga negara mengatakan serangan tersebut memerlukan keahlian dalam menavigasi kapal cepat dan penyelam terlatih yang diperkirakan memasang ranjau magnet yang ditempelkan di kapal.

"Serangan tersebut memerlukan keahlian nagivasi kapal cepat" yang kemudian "mampu menyusup ke wilayah perairan Uni Emirat Arab."

Demikian sebagian isi dari laporan awal hasil penyelidikan.

Peristiwa itu tidak sampai menimbulkan korban tetapi Arab Saudi sebelumnya mengatakan kedua kapalnya mengalami kerusakan "besar".

Mengapa Iran dituduh?

Serangan terhadap kapal minyak terjadi di tengah peningkatan ketegangan antara musuh bebuyutan Amerika Serikat dan Iran.

Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk dan pesawat tempur untuk mengantisipasi hal yang disebutnya sebagai rencana tak spesifik dari Iran untuk menyerang pasukan Amerika di kawasan itu.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Penumpang kapal mendarat di Pulau Hormuz yang terletak di Selat Hormuz. Selat itu memisahkan negara-negara Teluk dan Iran, sekaligus menjadi rute pelayaran migas penting di dunia.

Meskipun sejauh ini tidak jelas mengapa Iran melancarkan serangan skala kecil terhadap kapal-kapal minyak multinegara, jika tuduhan tersebut memang benar, para pengamat berpendapat bahwa serangan itu mungkin bertujuan untuk mengirimkan sinyal ke negara-negara yang bermusuhan dengan Iran bahwa negara itu mampu mengganggu pelayaran di perairan tersebut tanpa harus berperang.

Ketika memberikan tanggapan atas laporan Uni Emirat Arab, Duta Besar Arab Saudi untuk PBB, Abdallah Y al-Mouallimi, mengatakan negara kerajaan itu meyakini "tanggung jawab atas aksi itu terletak di atas pundak Iran. Kami tidak ragu-ragu mengeluarkan pernyataan ini." Itulah pernyataan al-Mouallimi seperti dikutip kantor berita Reuters.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton sebelumnya mengatakan "ranjau laut yang hampir dipastikan dari Iran" menjadi penyebab kapal rusak, meskipun ia tidak membeberkan bukti untuk mendukung tuduhannya.

Namun Bolton membantah pandangan bahwa pemerintah AS di bawah Presiden Trump berusaha menggulingkan pemerintah Iran.

"Kebijakan yang kita tempuh bukan kebijakan mengganti rezim," kata Bolton pekan lalu.

Kementerian Luar Negeri Iran menepis tuduhan AS dan menyebutnya "menggelikan".

Apa yang menyebabkan ketegangan terbaru?

Mulai awal Mei, pemerintah Amerika Serikat mencabut pengecualian sanksi-sanksi yang diberlakukan kepada sejumlah negara yang masih membeli minyak dari Iran.

Dengan cara itu, Amerika Serikat berharap Iran tidak mampu lagi mengekspor minyak sehingga sumber pendapatan utamanya tersumbat.

Presiden Trump kembali menerapkan sankso-sanksi kepada Iran satu tahun lalu setelah menarik AS dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015. Perjanjian itu diteken Iran dengan enam negara, lima negara anggota Dewan Keamanan PBB dan Jerman.

Iran kemudian mengumumkan sekarang membatalkan sejumlah komitmen yang tercakup di dalam perjanjian itu.

Berita terkait