Konflik Timur Tengah: Mengapa PM Jepang Shinzo Abe berkunjung ke Iran ketika AS-Iran bersitegang?

Ayatollah dan Abe Hak atas foto AFP/Getty
Image caption Ayatollah Ali Khamenei dijadwalkan akan menggelar perundingan dengan Abe.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan lawatan ke Iran mulai Rabu (12/06) di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait dengan program nuklir Iran.

Di antara tujuan kunjungan itu adalah untuk meredakan ketegangan antara dua musuh bebuyutan, tetapi sejumlah pengamat mengungkapkan keraguan atas hasil yang sebenarnya dapat diwujudkan.

Menurut mereka, kunjungan Shinzo Abe ini mungkin membantu mendongkrak citranya sebagai negarawan global menjelang pemilihan di Jepang.

Shinzo Abe merupakan perdana menteri pertama Jepang yang berkunjung ke Iran dalam tempo 40 tahun. Ia dijadwalkan berunding dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Presiden Hassan Rouhani.

Mengapa Iran berkunjung ke Iran?

Secara resmi, Jepang dan Iran menandai hubungan diplomatik yang kini telah memasuki tahun ke-90.

Yang lebih penting adalah kenyataan bahwa lawatan ini dilakukan tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Trump bertemu dengan PM Abe awal Juni.

Dan hubungan antara AS dan Iran memburuk yang dipicu oleh penarikan mundur AS dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

Ketegangan meningkat lebih lanjut ketika AS mengerahkan kapal induk ke kawasan Teluk yang memicu kekhawatiran tentang kemungkinan konfrontasi nyata.

Oleh karena itu ada secercah harapan bahwa Abe mungkin bisa menjembatani diplomasi kedua negara, mengurangi ketegangan dan mendorong AS berunding.

Sehari sebelum bertolak ke Iran, menurut juru bicara PM Jepang, Abe berbicara lewat telepon dengan Presiden Trump dan bertukar pikiran tentang Iran.

Apakah kesepakatan nuklir itu?

Pada intinya, tahun 2015 Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi-sanksi internasional yang diterapkan terhadap negara itu.

Kesepakatan itu ditandatangani ketika AS masih diperintah oleh Presiden Barack Obama, dan Trump menarik AS dari kesepakatan.

AS kemudian kembali menerapkan sejumlah sanksi secara sepihak, sementara pihak-pihak lain yang turut meneken perjanjian - seperti Uni Eropa, Rusia dan Cina - masih berharap kesepakatan itu dapat dilanjutkan.

Sebagai balasan atas mundurnya AS, bulan lalu Iran mengumumkan akan menghentikan sementara sebagian komitmennya.

Baru pada Selasa kemarin (11/06), Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan Iran meningkatkan produksi uranium yang diperkaya walaupun tidak jelas kapan produksnya akan menembus batas yang ditetapkan dalam kesepakatan tahun 2015.

Mengapa Jepang berkepentingan?

Tokyo tidak pernah menjadi bagian dari perjanjian nuklir Iran, tetapi tidak berarti Jepang tidak terkena dampak.

Hak atas foto Reuters
Image caption Jepang berusaha menjalin hubungan dengan semua negara di Timur Tengah.

Jepang sebelumnya membeli minyak dari Iran. AS menerapkan sanksi baru sehingga Jepang terpaksa tunduk kepada Washington dan tidak lagi mengimpor minyak Iran.

"Jepang mendukung perjanjian 2015 dan tidak senang AS mundur dan menganggap keputusan AS merupakan kesalahan besar," jelas Profesor Jeff Kingston, direktur Kajian Asia di Universitas Temple, Tokyo.

Meskipun Tokyo dapat bertahan tanpa stok minyak dari Iran, konflik apapun di Timur Tengah kemungkinan akan mendongkrak harga minyak dan tentu saja akan mempengaruhi Jepang.

Sejak akhir Perang Dunia Kedua, Jepang selalu menjalankan langkah yang disebut kebijakan luar negeri semua jurusan.

Bagi Timur Tengah, kebijakan itu artinya adalah Tokyo berusaha bebicara dengan semua negara, berkawan dengan siapa pun untuk memastikan pasok minyak mengalir.

Apakah Jepang dapat menjadi perantara antara AS dan Iran?

Para pengamat meragukan apakah Ape mempunyai pengaruh besar untuk membuat perbedaan.

"Pendapat saya adalah peluang menjembatani 'kesepakatan' antara Iran dan AS hampir nol," kata Profesor Robert Dujarric, kepala Institut Kajian Asia Kotemporer di Tokyo, kepada BBC.

Hak atas foto AFP
Image caption Berkawan baik di dunia politik dan juga di lapangan golf.

Meskipun tidak seperti Barat, Jepang bebas dari beban sejarah maupun agama ketika berunding dengan Iran , "Abe akan tetap tidak dianggap sebagai perantara yang jujur oleh Teheran," jelas Profesor Jeff Kingston dari Universitas Temple.

Perantara yang baik adalah seseorang yang dianggap imparsial oleh kedua pihak, tetapi Abe dan Trump baru saja bertemu di Jepang dan mereka telah lama membanggakan hubungan baik mereka.

Apakah kunjungan Abe ke Iran akan mendongkrak citranya di dalam negeri?

Mayoritas analis berpendapat tujuan sejati dari kunjungan ini adalah agenda dalam negeri.

Mungkin saja tidak akan banyak membuahkan hasil dalam kaitannya dengan hubungan AS-Iran, "tetapi bermanfaat bagi Abe," jelas Dujarric dari Institut Kajian Asia Kotemporer di Tokyo.

"Ini menunjukkan kepada pemilih bahwa ia adalah negarawan dunia."

Hak atas foto AFP
Image caption Shinzo Abe telah berjanji memulihkan kejayaan Jepang.

Dan citra tersebut penting bagi perdana menteri Jepang. Negara itu akan menggelar pemilihan anggota anggota Majelis Tinggi Juli mendatang dan muncul spekulasi Abe mungkin saja akan mengumumkan pemilihan umum yang dipercepat jika ia merasa yakin akan menang.

Abe berkuasa dengan janji untuk mengembalikan kejayaan Jepang di tengah perasaan bahwa kejayaan negara itu mungkin sudah berlalu.

Laporan disusun oleh wartawan BBC, Andreas Illmer.

Berita terkait