Vaksinasi polio: Kisah ulama Pakistan yang patahkan isu vaksin membuat perempuan Muslim mandul

Vaksinasi polio Hak atas foto AFP
Image caption Pemerintah Pakistan mengatakan sekitar 500.000 anak di bawah usia lima tahun belum mendapatkan vaksin polio, namun diyakini jumlah anak yang belum divaksin lebih tinggi.

Pemerintah Pakistan menghadapi tantangan berat untuk memberantas polio, antara lain dipicu oleh rumor bahwa vaksinasi polio adalah konspirasi negara-negara Barat yang ditujukan membuat perempuan Muslim mandul.

Pandangan seperti ini disebarkan ulama seperti Hameedhullah Hameedi, meski ia sekarang sudah berubah pikiran dan justru membantu program pemerintah.

"Saya tadinya menolak vaksinasi karena apa yang saya dengar dari ulama-ulama sepuh adalah vaksinasi bertujuan menghancurkan kaum Islam, membuat para perempuan Muslim tak bisa memiliki anak," kata Hameedi kepada wartawan BBC di Pakistan, Shumaila Jaffery.

Banyak ulama di Pakistan, terutama di kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Taliban, mengeluarkan fatwa melarang menolak vaksninasi berdasarkan pandangan tersebut.

Para ulama juga menyatakan vaksin mengandung bahan-bahan yang haram seperti lemak babi yang bisa membuat anak-anak nanti akan impoten ketika beranjak dewasa.

Ada pula rumor bahwa para petugas vaksinasi adalah pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat yang menjalankan program Kristenisasi atau para petugas vaksinasi sejatinya adalah mata-mata pemerintah Amerika Serikat.

Perubahan pandangan oleh Hameedi berawal ketika petugas vaksinasi datang ke rumahnya membawa buku berisi pendapat ulama-ulama besar bahwa para ulama ini mendukung vaksinasi.

Buku tersebut mendorongnya mengumpulkan warga di masjidnya dan ia mengatakan akan mendatangi ulama-ulama besar yang mendukung vaksinasi.

Dalam beberapa bulan berikutnya ia mengadakan perjalanan ke Karachi, Peshawar, Lahore, Quetta dan beberapa tempat lain untuk bertanya secara langsung kepada ulama-ulama tersebut.

Diancam akan dibunuh

Beberapa waktu kemudian ia pulang ke desanya dan mengeluarkan pengumuman setelah memimpin salat Zuhur.

"Saya katakan, saya telah menemukan jawaban soal vaksin. Saya sampaikan ke warga desa bahwa menurut para ulama besar, bahan vaksin tak berbahaya. Saya katakan juga bahwa orang tua berkewajiban mencegah anak-anak menjadi cacat," kata Hameedi.

Di depan para jemaah, ia memberi sendiri vaksin tetes polio ke anak-anaknya.

Pidato Hameedi berhasil meyakinkan warga bahwa vaksinasi tak semestinya ditolak. Mereka berjanji akan membolehkan anak-anak divaksinasi.

Ia mengakui tak mudah mengubah pandangan orang.

Pernah, ia menerima telepon berkali-kali dari seorang pendukung Taliban yang mengancam akan membunuhnya jika ia menganjurkan warga desa menerima vaksinasi.

Anacaman sempat membuatnya khawatir.

"Tapi akhirnya saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya tak semestinya takut dengan mati karena suatu saat nanti saya pasti juga akan meninggal dunia," katanya.

Memang tak mudah melakukan vaksinasi di Pakistan.

Ada penolakan yang sangat besar ditandai dengan aksi warga menghadang para petugas kesehatan. Kadang warga membawa senjata untuk menghalau tim.

Vaksinasi massal di salah satu sekolah di Desa Mashokhel, Peshawar, bahkan berakhir dengan kekerasan dan aksi pembakaran.

Dalam beberapa kesempatan, kepala sekolah menolak program vaksinasi. Setelah dipaksa oleh pemerintah, ia tak bisa menolak menerima kedatangan tim kesehatan. Namun setelah vaksinasi ia memberi tahu para orang tua bahwa anak-anak mereka pingsan dan muntah-muntah.

Puluhan murid dibawa ke rumah sakit, namun tak ada gejala mintah-muntah dan mereka langsung dipulangkan.

Image caption Negara yang masih ditemukan polio, dua di antaranya adalah Pakistan dan Afghanistan.

Tapi, warga sudah cenderung panik. Kabar bahwa para murid pingsan dan jatuh sakit akibat vaksinasi menyebar cepat di media sosial.

Para orang tua yang marah mendatangi dan merusak fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Aksi perusakan dan pembakaran ditayangkan secara langsung oleh televisi setempat yang membuat suasana tegang semakin terasa.

Seorang pejabat kesehatan, dalam keterangan pers, mengatakan bahwa kepanikan antara lain dipicu oleh masjid-masjid yang mendesak orang agar anak-anak yang divaksinasi untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Pengumuman semacam ini disiarkan melalui pengeras suara.

Hasilnya, sekitar 30.000 anak dibawa orang tua mereka ke rumah sakit. Padahal, setelah diperiksa, anak-anak ini tak memperlihatkan gangguan kesehatan. Mereka baik-baik saja, kata pejabat tersebut.

Insiden-insiden semacam ini menjadi kendala serius program vaksinasi yang tengah digalakkan pemerintah Pakistan.

Pada April lalu, saat digelar program vaksinasi massal selama tiga hari, seorang petugas kesehatan dan dua polisi yang mengawalnya tewas.

"Warga meminta kami pergi. Mereka mengatakan kami meracuni anak-anak," kata salah seorang petugas vaksinasi.

Penolakan warga dan suasana tegang memaksa pemerintah membekukan vaksinasi. Namun bagi para pekerja kesehatan, jelas bahwa vaksinasi sangat penting.

Situasi ini membuat prihatin banyak pihak karena vaksinasi adalah satu-satunya cara untuk membentengi anak-anak dari polio, penyakit yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

Jika menyerang paru-paru, penyakit ini mematikan dan sejauh ini belum ada obatnya.

Di banyak negara, vaksinasi berhasil memberantas penyakit ini.

Di dunia, hanya ada tiga negara yang masih menghadapi wabah polio: Pakistan, Afghanistan dan Nigeria.

Di Nigeria tak ditemukan kasus sejak Agustus 2016 dan dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan akan bebas polio.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ibu dan anak, dua-duanya petugas vaksinasi, tewas diserang warga yang menolak di Quetta, Pakistan barat daya.

Pemberantasan polio di Pakistan berjalan relatif lancar, namun tahun ini pemerintah menghadapi banyak kendala.

Warga tak hanya menolak vaksinasi, mereka juga menyerang, bahkan menembak mati para petugas. Di Pakistan ada sekitar 262.000 petugas lapangan, sekitar 70% adalah perempuan karena petugas perempuan lebih gampang masuk ke rumah-rumah.

Pejabat mengatakan setidaknya 94 petugas vaksinasi tewas sejak program digulirkan pada 2012.

Seiring dengan penolakan warga yang makin besar, jumlah kasus polio di Pakistan meningkat.

Pada 2012 hanya ditemukan 58 kasus, pada 2014 angkanya naik menjadi 307 kasus.

Pada tahun tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta semua warga mendapatkan imunisasi polio tetes agar penyakit ini tak menyebar secara global.

Pemerintah Pakistan menerima rekomendasi ini dan mengumumkan "perang melawan polio".

Para petugas mendapat pengawalan polisi sedangkan orang tua yang menolak dan yang membahayakan petugas ditahan.

Pemerintah Pakistan mengatakan, dari 40 juta anak di bawah lima tahun, sekitar setengah juta di antara mereka belum mendapatkan vaksinasi, namun banyak yang meyakini angkanya lebih tinggi lagi.

Berita terkait