Kasus meninggalnya Jamal Khashoggi, PBB: Putra mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman 'harus diselidiki'

Mohammed bin Salman di KTT OKI di Mekah, 30 Mei 2019 Hak atas foto EPA
Image caption Pangeran Mohammed bin Salman berkeras bahwa para pembunuh Jamal Khashoggi tidak bertindak atas perintahnya.

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan beberapa pejabat terkemuka lainnya "harus diselidiki" terkait pembunuhan terhadap wartawan veteran Saudi, Jamal Khashoggi, kata penyelidik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Laporan yang dibuat oleh utusan khusus Agnes Callamard mengatakan bukti-bukti ini layak ditindaklajuti oleh pihak penyelidik internasional yang independen dan tidak memihak.

Khashoggi dibunuh di kompleks konsulat Saudi di Istanbul oleh agen rahasia Arab Saudi.

Pihak berwenang Saudi berkeras bahwa mereka tidak berindak atas perintah pangeran Mohammad bin Salman.

Kerajaan Saudi telah menetapkan 11 orang untuk diadili di pengadilan tertutup untuk pembunuhan terhadap Khashoggi dan sedang menuntut lima orang di antaranya dengan hukuman mati.

Namun Callamard menyatakan pengadilan di Saudi itu tidak memenuhi syarat baik secara prosedural maupun substansi perkara, sehingga ia menyatakan pengadilan itu harus dihentikan.

Apa kata laporan itu?

Bulan Januari 2019, kantor hak asasi manusia PBB menugaskan Callamard menyelidiki "negara dan individu yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan" Jamal Khashoggi.

Pejabat senior Arab Saudi berkeras pembunuhan Khashoggi dilakukan dalam opeprasi "liar" tetapi laporan khusus PBB menyimpulkan bahwa ini merupakan "pembunuhan tidak sah (extrajudicial killing) di mana Kerajaan Arab Saudi bertanggung jawab".

"Dari sudut pandang hukum hak asasi manusia, tanggung jawab negara bukan soal - misalnya - siapa pejabat negara yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi."

Callamard menegaskan bahwa dalam pembunuhan tersebut ada "bukti kredibel yang mengharuskan penyelidikan lebih jauh menyangkut tanggung jawab pribadi pejabat-pejabat tingkat tinggi, termasuk putra mahkota," menurut laporan tersebut.

Hak atas foto Anadolu Agency
Image caption Jamal Khashoggi dibunuh di konsulat Arab Saudi di Istanbul 2 Oktober 2018.

Pembunuhan Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi adalah seorang wartawan terkemuka yang pernah melaporkan berita seperti invasi Soviet ke Afghanistan serta naiknya Osama Bin Laden.

Selama puluhan tahun ia dekat dengan pihak keluarga kerajaan dan menjadi penasehat pemerintah Arab Saudi, tetapi tahun 2017 ia tidak lagi disukai dan dipaksa untuk mengasingkan diri ke Amerika Serikat.

Dari sana ia menulis kolom bulanan di koran The Washington Post yang banyak mengkritik kebijakan Mohammed bin Salman, yang dikenal dengan sebutan MBS.

Khashoggi mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul 28 September untuk meminta dokumen perceraian karena ia bermaksud untuk menikah lagi.

Ia diminta kembali pada tanggal 2 Oktober, dan terakhir kali terlihat di CCTV konsulat hari itu pukul 13.14 waktu setempat.

Dari kunjungan ke konsulat itu, ia tak pernah keluar lagi.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Tunangan Khashoggi Hatice Cengiz sempat menunggu di luar konsulat selama lebih dari 10 jam.

Apa yang dilakukan oleh Arab Saudi?

Selama lebih dari dua minggu, pihak Arab Saudi menyatakan tidak mengetahui nasib Khashoggi.

Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan kepada wartawan Bloomberg bahwa Khashoggi meninggalkan konsulat "sesudah beberapa menit atau satu jam" sesudah kunjungan.

Namun pada tanggal 20 Oktober, terjadi perubahan.

Stasiun televisi pemerintah melaporkan Khashoggi dibunuh dalam "operasi liar" atas perintah petugas intelejen.

Tanggal 15 November, kejaksaan Arab Saudi menyatakan Khashoggi disuntik dan tubuhnya dimutilasi di dalam konsulat sesudah dibunuh, lalu diserahkan ke "kolaborator" setempat di luar konsulat.

Arab Saudi lalu menahan 21 orang dan memecat dua orang pejabat senior Deputi Ketua Intelejen Ahmad al-Assiri dan penasehat senior Saud al-Qahtani.

Raja Salman juga memerintahkan perombakan badan intelejen menjadi di bawah Pangeran Mohammed bin Salman.

Sebelas orang dituduh dituduh melakukan pembunuhan itu dan lima orang terancam hukuman mati.

Namun nama-nama para tersangka tidak pernah diumumkan.

Hak atas foto AFP
Image caption Awalnya konsulat Arab Saudi menyatakan Khashoggi meninggalkan konsulat segera sesudah mendapat dokumen yang dibutuhkannya.

Apa kata Turki?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan ada bukti bahwa pembunuhan "biadab" itu telah direncakan beberapa hari sebelumnya.

Katanya, 15 orang anggota tim berkebangsaan Arab Saudi tiba di Istanbul sebelum pembunuhan dan menyingkirkan kamera keamanan dan rekaman pengawasan dari gedung konsulat sebelum kedatangan Khashoggi.

Erdogan mengatakan perintah pembunuhan Khashoggi datang dari pejabat tinggi pemerintah Arab Saudi tapi menyatakan kecil kemungkinan Raja Salman berada di belakangnya.

Arab Saudi membantah bahwa putra mahkota memerintahkan pembunuhan dan menolak melakukan ekstradisi para tersangkaa ke Turki.

Adakah bukti?

Pertengahan November 2018 Turki membagikan rekaman suara pembunuhan dengan Arab Saudi, Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Prancis.

Rekaman ini bocor ke media Turki.

Satu sumber media yang mendukung pemerintah Yeni Safak, mengatakan konsul jenderal Arab Saudi terdengar di rekaman itu berkata kepada tersangka agen Saudi, "Lakukan di luar. Saya bakal dapat masalah."

CNN melaporkan Khashoggi berkata kepada pembunuhnya, "saya tak bisa bernapas" di saat-saat akhir hidupnya.

Berdasarkan sumber anonim yang melihat transkrip rekaman suara itu, CNN melaporkan adanya suara yang diacu sebagai tubuh Khashoggi "sedang dipotong dengan gergaji".

Topik terkait

Berita terkait