Imigrasi AS: Foto ayah dan putrinya yang mati tenggelam menggambarkan kondisi mengerikan di perbatasan AS-Meksiko

Balita asal Amerika Tengah menunggu untuk dibawa ke tahanan perbatasan AS-Meksiko Hak atas foto Getty Images
Image caption Kebijakan pemerintahan Trump terhadap migran anak-anak menimbulkan protes keras di Amerika Serikat.

Foto itu menggambarkan dua jenazah - seorang ayah dan putrinya yang masih balita - terbungkus sama-sama dan terapung di perairan dangkal.

Itu adalah foto Oscar Ramirez dan putrinya Valeria, yang tenggelam ketika menyeberang Sungai Rio Grande.

Foto ini tersebar di internet dan menyebabkan protes keras terhadap perlakuan pemerintahan Donald Trump kepada migran anak-anak di kamp tahanan sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko.

Kami memutuskan menampilkan foto itu di artikel ini, dan memperingatkan para pembaca bahwa foto ini bisa menyebabkan Anda terganggu.

Foto ini sudah memiliki dampak dalam perdebatan publik di Meksiko di mana Presiden Andrés Manuel López Obrador menyebut foto ini "sangat patut disesali".

Sementara di AS, perdebatan tentang kebijakan pemerintahan Trump terhadap migran anak jadi dipenuhi emosi.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat Alexandria Ocasio-Cortez dengan tidak ragu menyebut kamp penahanan migran - di mana anak-anak ditahan selama berminggu-minggu - sebagai "kamp konsentrasi".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Migran anak ditahan di fasilitas penahanan sementara dengan kondisi buruk.

Kontroversi ini menyebabkan mundurnya pejabat Badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS, John Sanders, hari Selasa (25/06).

Di tengah panasnya debat, parlemen Amerika meloloskan paket bantuan sebesar US$4,5 miliar (sekitar Rp63 triliun) guna meningkatkan standar kehidupan bagi migran yang terjebak di perbatasan AS-Meksiko.

Presiden Trump sudah mengancam akan menggunakan hak veto membatalkan rencana itu.

BBC berbincang dengan dua pengacara yang telah mengunjungi fasilitas penahanan sementara di Clinton, Texas, yang menggambarkan kondisi kehidupan anak-anak di sana, "jorok dan mengerikan".

"Anak-anak itu lapar, kotor, sakit dan ketakutan"

Elora Mukherjee, adalah direktur Immigrants' Rights Clinic di Columbia Law School. Ia sudah 12 tahun bekerja dengan anak-anak dan keluarga di tahanan imigrasi federal. Elora mengaku belum pernah melihat kondisi yang begitu merendahkan dan tak manusiawi seperti yang ia lihat di Clinton, Texas.

Berikut adalah penggambaran lebih lanjut dari Elora:

"Anak-anak itu kelaparan, kotor, sakit dan ketakutan. Mereka tak tahu kapan akan dikeluarkan dari sana.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Menurut pengacara yang kami temui, anak-anak ditahan berminggu-minggu padahal seharusnya mereka dilepaskan setelah 72 jam.

Banyak anak yang saya wawancara bilang mereka sudah ditahan di sana selama beberapa hari atau beberapa minggu. Beberapa bahkan sudah hampir sebulan.

Menurut hukum, anak-anak harus dipindahkan ke luar dari fasilitas tahanan perbatasan dalam waktu 72 jam.

Anak-anak ini berbau busuk. Mereka tak diberi kesempatan untuk mandi sejak melintas perbatasan.

Mereka belum ganti baju sejak melintas perbatasan, baju minggu lalu yang penuh noda ingus, air kencing serta ASI - buat para remaja yang sudah memiliki bayi.

Kebijakan pemerintah AS - sebagaimana disampaikan di pengadilan federal pada 18 Juni - adalah anak-anak di fasilitas ini tidak butuh akses kepada sabun untuk mencuci tangan mereka, tak butuh akses ke sikat gigi atau tempat tidur.

Anak-anak yang kami ajak bicara bilang bahwa mereka punya anggota keluarga di AS dan putus asa utuk berkumpul lagi dengan keluarga mereka.

Anak-anak ini tidak pantas untuk dikurung di kandang seperti itu selama berhari-hari dan berminggu-minggu."

Hak atas foto EPA
Image caption Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez menyebut fasilitas penahanan itu sebagai "kamp konsentrasi".

Pemerintahan Trump memiliki kebijakan yang kejam terhadap anak-anak.

Anak-anak ini lari dari trauma buruk dan pemerintahan AS seharusnya taat hukum dan menyediakan kondisi yang aman dan bersih untuk anak-anak itu.

'Toilet di udara terbuka, tempat di mana mereka makan dan tidur'

Profesor Warren Binford adalah direktur Clinical Law Program di Willamette University, negara bagian Oregon. Ia ahli dalam hak-hak anak.

Ia bercerita kepada BBC:

"Mereka menahan 350 anak di fasilitas yang asalnya diperuntukkan bagi 104 orang dewasa. Beberapa anak mengatakan sudah di sana selama tiga minggu.

Lebih dari 100 anak yang ditahan di sana merupakan anak usia sekolah, anak usia prasekolah, balita dan bayi. Juga ada sejumlah anak-anak yang sudah menjadi ibu, ditahan bersama bayi mereka.

Tak ada yang merawat anak-anak ini. Mereka diabaikan begitu saja. Mereka tidak mandi secara rutin.

Hak atas foto AFP
Image caption Tenggelamnya migran ayah dan putrinya yang berumur dua tahun asal El Salvador ketika mencoba menyeberang ke AS ini telah menyebabkan debat politik yang emosional di Amerika.

Beberapa ratus di antara anak-anak ini ditahan di sebuah gudang yang baru saja didirikan di sana.

Pada dasarnya anak-anak ini dikurung di sel yang mengerikan, di mana ada toilet terbuka di tengah ruangan dan mereka makan dan tidur di ruang itu juga.

Sel-sel itu penuh sesak. Kami melihat daftar nama, dan ada beberapa sel yag dihuni 100 anak, ada yang dihuni 50 dan 25 anak.

Ada wabah kutu di sana, juga wabah influenza.

Anak-anak ini dikurung, diisolasi tanpa pengawasan orang dewasa. Beberapa anak sakit, dan mereka terbaring saja di atas alas tikar di tanah.

Beberapa anak ini menyatakan mereka - atau mereka melihat anak lain - tidur di atas lantai beton, termasuk para balita dan bayi.

Sangat bikin frustrasi bahwa standar perawatan bagi anak-anak ini disatukan dengan persoalan-persoalan imigrasi. Masalah di sini bukan masalah imigrasi.

Setiap orang tua tahu bahwa kita bertanggung jawab setiap malam untuk menyediakan akses kepada sabun, sikat gigi dan pasta gigi untuk anak-anak.

Anak-anak ini dipaksa untuk buang air besar, kencing, makan, tidur dan menghabiskan hari-hari mereka - 24 jam sehari, tujuh hari seminggu - dalam sel-sel yang penuh sesak bersama anak-anak lain, tidur di lantai.

Ini gila."

Berita terkait