Papua Nugini: Anak-anak dan perempuan jadi korban pembunuhan massal dalam perang suku terburuk belakangan ini

Jalan lintas melalui hutan tropis di Tari, Papua Nugini. Hak atas foto Education Images
Image caption Perang suku kerap terjadi di kawasan pedalaman ini selama bertahun-tahun.

Anak-anak dan perempuan hamil turut menjadi korban terbunuh dalam perang antar suku yang terjadi di dataran tinggi Papua Nugini (PNG).

Sekurangnya 24 orang dipastikan terbunuh dalam kekerasan brutal yang terjadi antar suku dalam beberapa hari belakangan di Provinsi Hela. Beberapa laporan menyatakan jumlah korban lebih tinggi.

Perdana Menteri (PM) Papua Nugini Kames Marape menyatakan bahwa "ini merupakan hari paling menyedihkan dalam hidup saya," katanya seraya berjanji akan mencari tahu siapa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu.

Peristiwa ini merupakan yang terburuk yang menimpa PNG dalam beberapa tahun terakhir.

Gubernur Hela Philip Undialu, menyatakan kepada kantor berita Reuters, "ini sangat menyedihkan" dan menjelaskan bahwa pembunuhan tersebut merupakan bagian dari konflik menahun di sana.

"Ini merupakan pembalasan dari serangan sebelumnya. Kedua serangan terjadi di komunitas yang tak tahu apa-apa, dan mereka tak memperkirakan hal seperti ini terjadi. Kita semua kaget."

Pihak berwenang menyatakan wilayah ini tengah berjuang mengatasi kekerasan, yang kerap dipicu oleh pembagian lahan dan sumber daya.

Bagaimana pembunuhan terjadi?

Rincian peristiwa masih berdatangan dari daerah terpencil tempat kejadian, tapi sudah diketahui bahwa kekerasan yang terjadi adalah rangkaian saling membalas serang dalam beberapa hari terakhir.

Kantor berita AFP mengutip pejabat setempat, William Bando, yang mengatakan sekurangnya 24 orang terbunuh.

Media lokal EMTV melaporkan setidaknya ada dua peristiwa di desa-desa kecil di distrik Tari-Pori.

Hari minggu (07/07) tujuh orang terbunuh di desa Munima. Lalu Senin (08/07), 16 perempuan dan anak-anak dibunuh dengan parang di desa Karida. Dua di antara perempuan itu sedang hamil.

Menurut koran Post-Courier serangan terjadi hari Sabtu dan Minggu dengan enam korban jiwa. Dalam serangan balasan di hari berikutnya, 16 orang jadi korban.

Image caption Peta Papua Nugini dan lokasi terjadinya perang suku yang memakan korban sekurangnya 24 orang.

Pills Pimua Kolo dari Dinas Kesehatan Provinsi Hela memasang foto di laman Facebook, mengatakan itu adalah korban pembunuhan massal di Desa Karida.

Foto itu meggambarkan jenazah yang terbungkus kain dan terikat di tiang panjang. Ia menyatakan jenazah itu dipotong-potong dan sulit untuk dikenali.

Bagaimana tanggapan pihak berwenang?

PM Marape, yang berasal dari daerah itu, mengatakan pembunuhan dipimpin oleh pria bersenjata dari suku Hagui, Okiru dan Liwi, dan ia menegaskan akan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas peristiwa ini.

Marape menambahkan keamanan di provinsi itu sulit dijaga karena minimnya jumlah polisi untuk menangani 400.000 jiwa.

William Bando mengatakan ia meminta tambahan sekurangnya 100 orang polisi untuk memperkuat 40 polisi lokal yang ada.

Apakah perang suku sering terjadi di PNG?

Dataran tinggi di Papua Nugini sangat terpencil. Komunitas hidup berdasarkan tradisi suku dan banyak desa kecil tak punya fasilitas jalan.

Tahun 2018, bencana gempa menghancurkan beberapa wilayah terpencil ini.

Perang suku kerap terjadi dipicu oleh pemerkosaan atau pencurian, atau sengketa wilayah.

Sekalipun ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun, kekerasan yang terjadi kali ini tetap mengejutkan PNG.

Dalam beberapa tahun terakhir, masuknya senjata otomatis membuat konflik menjadi lebih mematikan dan mempercepat lingkaran kekerasan.

Perusahaan Amerika ExxonMobil mengoperasikan pabrik gas alam di lokasi terjadinya pembunuhan itu, tapi mereka meghentikan pembangunan jaringan pipa tahun lalu karena kerusuhan.

Papua Nugini merupakan salah satu negara termiskin di Asia, di mana 40% penduduknya hidup dengan kurang dari US$1 per hari, menurut PBB.

Berita terkait