Boris Johnson menjadi PM Inggris dengan dukungan suara kurang dari 0,34% pemilih

Johnson dan ratu Inggris Hak atas foto Reuters
Image caption Boris Johnson diterima oleh ratu Inggris sebelum secara resmi memulai jabatan sebagai perdana menteri menggantikan Theresa May.

Dalam pidatonya sebagai Perdana Menteri baru Inggris, Boris Johnson antara lain berjanji akan mengantar Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober.

"Kita akan mewujudkan janji-janji berulang dari parlemen ke rakyat, bahwa kita akan keluar dari Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober. Kita tak berandai-andai lagi. Kita akan merundingkan kesepakatan baru, kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi Inggris," kata Johnson.

Ia langsung membentuk kabinet. Dua politisi berdarah Asia, Sajid Javid dan Priti Patel masing-masing diangkat menjadi menteri keuangan dan menteri dalam negeri.

Sebelumnya ia bertemu Ratu Elizabeth Rabu (24/07), yang menandai ia secara resmi diangkat sebagai perdana menteri.

Sejumlah pengunjuk rasa yang mencoba menghadang kendaraan yang membawanya bertemu ratu di Istana Buckhingham, ditarik ke pinggir oleh polisi.

Boris Johnson terpilih sebagai perdana menteri baru bukan melalui pemilihan umum, dengan partisipasi rakyat.

Dia dipilih hanya oleh 160.000 anggota partai politiknya sendiri.

Jadi bagaimana begitu sedikit orang yang memilih pemimpin negara, padahal 46,8 juta orang terdaftar memberikan suara pada pemilihan umum lalu?

Jawabannya terletak pada sistem politik Inggris. Orang yang menentukan pemilihannya adalah hanya warga yang membayar £25 atau Rp436.000 setiap tahun untuk bergabung ke dalam Partai Konservatif.

Mengapa hanya 160.000 yang memiliki suara?

Hak atas foto PA Media
Image caption Boris Johnson disambut staf Downing Street.

Pengunduran diri Theresa May sebagai perdana menteri dan pimpinan Konservatif tidak menyebabkan diadakannya pemilihan umum karena partai telah berkuasa.

Langkah selanjutnya adalah bagi anggota partai untuk memilih pengganti May sebagai ketua partai.

Menurut angka resmi terbaru yang dikeluarkan pada bulan Maret 2018, terdapat 124.000 anggota partai.

Tetapi dalam 12 bulan terakhir, lebih dari 30.000 anggota masyarakat bergabung ke dalam Partai Konservatif, sehingga jumlah anggota saat ini mencapai hampir 160.000.

Pada tahapan pertama pemilihan, hanya anggota Konservatif di parlemen yang dapat memberikan suara - dan mengurangi jumlah calon sehingga tersisa hanya dua orang: Boris Johnson, mantan wali kota London, dan Jeremy Hunt, menteri luar negeri.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Boris Johnson, PM baru Inggris berbicara kepada media di depan kantor perdana menteri 10 Downing Street.

Pada tahap ini, semua anggota akar rumput Partai Konservatif ikut serta dalam pemungutan suara lewat pos untuk menentukan pemenang.

Tetapi ini hanya melibatkan sekitar 160.000 orang yang mewakili 0,34% pemilih Inggris.

Boris Johnson memenangkan 92.153 suara sementara Jeremy Hunt mendapatkan 46.656. Terdapat 500 surat suara yang rusak.

Di masa lalu, muncul kritik terkait dengan proses yang dianggap kurang adil, tetapi biasanya perdana menteri Inggris memang dipilih partai politiknya.

Dalam setengah abad terakhir, setengah pemimpin negara dipilih partai politiknya, bukan oleh masyarakat umum.

Ini antara lain karena dalam sistem politik Inggris, pemimpin pemerintahan sangat rapuh diberhentikan partainya jika tidak disukai lagi. Berbeda dengan sistem presidensial seperti Amerika Serikat.

Generasi muda, kelompok miskin dan minoritas yang tidak terwakili

Hak atas foto AFP
Image caption Anggota Partai Konservatif, seperti peserta konferensi tahunan, cenderung lebih tua dan tidak seberagam penduduk Inggris pada umumnya.

Tetapi keanggotaan partai politik juga tidak mewakili negara secara keseluruhan.

Sekitar 97% anggota Partai Konservatif berkulit putih.

Ini berarti "...minoritas etnis, yang merupakan lebih 10% penduduk Inggris, sangat tidak terwakili di dalam Partai Konservatif," kata Profesor Tim Bale, dari Queen Mary University of London.

"Anggota Tory (Konservatif) pada umumnya lebih berada dibandingkan sebagian besar pemilih," tambahnya, dan rata-rata umur mereka adalah 57 tahun.

Sehingga ketika perdana menteri baru terpilih di Inggris, adalah generasi muda, kelompok miskin dan minoritas yang tidak terwakili.

Topik terkait

Berita terkait