Sekitar 1,7 miliar orang di 17 negara terancam kekeringan dengan 'tekanan ketersediaan air' pada batas ekstrem

Dua pria membawa sisa air yang mereka ambil dari kolam kecil yang mengering di pinggir kota Chennai, India. Hak atas foto Getty Images
Image caption Dua pria membawa sisa air yang mereka ambil dari kolam kecil yang mengering di pinggir kota Chennai, India.

Pertumbuhan penduduk, tingginya konsumsi daging dan peningkatan kegiatan ekonomi menjadi penyebab tekanan terhadap sumber air di dunia.

Penduduk di 400 wilayah di dunia hidup dalam kondisi "kekurangan air yang ekstrem" menurut penelitian dari World Resources Institute (WRI), sebuah lembaga riset yang berkantor di Washington DC.

Kelangkaan air ini dikhawatirkan akan membuat jutaan orang terpaksa mengungsi dan menjadi faktor penyebab bagi konflik dan ketidakstabilan politik.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Krisis air bersih di Pulau Jawa: Mungkinkah Jawa kehabisan air pada 2040?

Lembaga ini mengukur "tekanan air" yang didasarkan pada berapa banyak air yang diambil dari tanah dan permukaan dibandingkan dengan keseluruhan yang tersedia.

Hasil temuan mereka, beberapa kawasan seperti Meksiko, Chile, beberapa daerah di Afrika, Eropa selatan dan kawasan Laut Tengah, ditemukan bahwa tekanan ketersediaan air di sana mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Masalah global

Hak atas foto Getty Images
Image caption Eropa bagian selatan dan negara-negara Mediterania mengalami tekanan, dan ini diperburuk karena pemfokusan sumber daya alam untuk kepentingan industri pariwisata.

Nyaris sepertiga penduduk dunia - 2,6 miliar jiwa - hidup di negara dengan keadaan "tekanan ketersediaan air tinggi", dan dari jumlah ini 1,7 miliar orang di 17 negara digolongkan hidup dalam "tekanan air ekstrem" menurut WRI.

Negara-negara yang berada di kawasan kering di Timur Tengah merupakan yang paling tinggi "tekanan ketersediaan air"-nya, sementara itu India "menghadapi keadaan kritis dalam penggunaan dan pengelolaan air yang bisa berdampak pada kesehatan maupun pembangunan ekonomi mereka".

Pakistan, Eritrea, Turkmenistan, dan Botswana juga dianggap dalam keadaan tekanan ketersediaan air yang ekstrem.

"Kejutan"

Data ini dibuat oleh WRI di platform Aqueduct 3.0 yang menganalisa beberapa model hidrologis dan menghitung berapa air yang diambil dari sumber-sumber permukaan dan bawah tanah di tiap wilayah dibandingkan dengan keseluruhan air yang tersedia.

Ketika rasio air yang diambil mencapai 80% dari total, maka daerah itu digolongkan "tekanan air ekstrem". Sedangkan kategori di bawah itu adalah "tekanan air tinggi" dengan rasio 40-80%.

Salah satu yang terburuk adalah India, di mana sembilan dari 36 negara bagiannya digolongkan dalam tekanan air tinggi. Di sisi lain kota Chennai ibukota negara bagian Tamil Nadu mengalami banjir dan kekeringan yang sama buruknya.

Menurut laporan itu, "Krisis air berkelanjutan di Chennai memperlihatkan tantangan yang akan dihadapi India beberapa tahun ke depan. Ini diperburuk oleh pengelolaan air yang buruk dan peningkatan permintaan air dari industri dan rumah tangga."

Keadaan di Meksiko juga bisa seburuk India jika tak dilakukan aksi apa-apa, di mana lima dari 32 negara bagian digolongkan dalam "tekanan air ekstrem".

Di Chile, sebanyak 16 wilayah masuk dalam golongan "tekanan ketersediaan air ekstrem", termasuk di ibukota Santiago.

Ibu kota Rusia, Moskow dan ibu kota China, Beijing juga digolongkan dalam "tekanan ketersediaan air ekstrem" sekalipun kedua negara itu tak termasuk golongan tersebut.

Anggota tim peneliti, Rutger Hofste menyatakan adanya "kejutan" di Eropa selatan di mana turisme menyebabkan tekanan terhadap persediaan air pada musim panas.

Lebih dari 20 wilayah di Italia termasuk dalam "tekanan air ekstrem". Hal sama juga terjadi pada 27 dari 81 provinsi di Turki.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Cape Town di Afrika Selatan mengalami kekurangan air yang parah di tahun 2018.

Tanjung Barat di Afrika Selatan dan sepuluh distrik di Botswana serta sebagian Namibia dan Angola digolongkan dalam "tekanan air tinggi".

Pertumbuhan yang haus air

Antara tahun 1961 dan 2014, rata-rata pengambilan air segar dari tanah dan permukaan meningkat 2,5 kali lipat.

Permintaan untuk irigasi tanaman meningkat dua kali lipat dalam setengah abad terakhir. Menurut WRI, irigasi mengambil 67% penggunaan air setiap tahunnya.

Industri di tahun 2014 memakai air tiga kali lipat dibandingkan tahun 1961, dan kini mencapai 21% dari keseluruhan penggunaan air.

Rumah tangga bertanggung jawab terhadap 10% penggunaan air, dan ini merupakan peningkatan enam kali lipat dibanding tahun 1961.

Hanya sedikit persentase air yang diambil dari sumber hidrologis diberikan kepada ternak.

Namun menurut Hofste, air yang dipakai untuk mengairi tanaman untuk ternak mengambil 12% dari penggunaan air irigasi global. Maka jika kita mengurangi konsumsi daging, hal itu bisa membantu mengurangi tekanan terhadap sumber air.

"Kita menggunakan banyak tanah pertanian untuk tanaman makanan dan memberi makan ternak. Itu bukan cara paling efisien mengubah sumber daya alam menjadi kalori." kata Hofste.

Menurut sebuah penelitian tahun 2012 di Belanda, konsumsi air untuk menghasilkan produk ternak lebih besar daripada konsumsi air produk tanaman untuk nilai nutrisi yang sama.

Iklim dan konflik

Beberapa lembaga PBB memperingatkan bahwa perubahan iklim akan membuat ketersediaan air jadi makin tak terduga.

Meningkatnya suhu dan perubahan curah hujan bisa mengurangi hasil panen di kawasan tropis, di mana ketahanan pangan sudah merupakan persoalan tersendiri, menurut WHO.

Menurut lembaga Konvensi PBB untuk Melawan Kekeringan, berdasarkan tren yang ada, kelangkaan air di daerah kering akan memaksa 24 hingga 700 juta orang mengungsi di tahun 2030.

Hak atas foto AFP
Image caption Beberapa negara yang mengalami tekanan air berada di wilayah konflik dan air mungkin menjadi salah satu faktor terjadinya konflik tersebut.

Menurut WRI, beberapa daerah tekanan air tinggi dan ekstrem berada di kawasan konflik, dan air bisa memperburuknya. Kawasan itu adalah Israel, Libya, Yaman, Afghanistan, Suriah dan Irak.

Daerah yang harus menampung pengungsi seperti Yordania dan Turki juga mengalami tekanan air yang buruk.

Selain itu negara dengan curah hujan di bawah 10% dari curah hujan normal juga bisa digologkan rentan, sekalipun tidak ada "tekanan air" terhadap mereka.

Moldova dan Ukraina, merupakan negara dengan "tekanan air menengah" tetapi mereka memiliki risiko kekeringan yang tinggi. Hal sama terjadi pada Bangladesh yang "tekanan air"-nya tergolong rendah.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kekeringan mengubah pemandangan di banyak negara dan diperkirakan akan memaksa jutaan orang mengungsi pada dekade mendatang.

Mengatasi

Menurut Hofste, sekalipun faktor sosial-ekonomi merupakan pendorong utama tekanan air di dunia, ini bisa dimitigasi dengan pengelolaan air yang baik.

Contohnya Singapura yang membangun pasokan air berkelanjutan, serta Israel yang memiliki teknologi air yang maju.

"Tekanan air merupakan indikator, bukan nasib suatu negara," kata Hofste kepada BBC.

"Upaya mengatasinya tergantung tanggapan masing-masing negara dan ada contoh negara-negara yang berhasil mengatasi kesulitan air yang buruk."

Topik terkait

Berita terkait