Pemimpin Hong Kong: Carrie Lam 'tidak pernah mengajukan pengunduran diri ke Beijing'

hong kong Hak atas foto EPA
Image caption Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, tidak membenarkan atau membantah kesahihan rekaman audio yang diterbitkan kantor berita Reuters.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menegaskan dirinya tidak pernah mengajukan pengunduran diri kepada pemerintah China.

Hal ini bertentangan dengan bocoran rekaman suara yang diterbitkan kantor berita Reuters pada Senin (02/09).

Dalam rekaman tersebut, suara yang diduga suara Lam terdengar menyalahkan dirinya lantaran memicu krisis politik Hong Kong.

Suara itu lantas mengatakan tindakannya yang menimbulkan kericuhan sedemikian besar tidak dapat dimaafkan.

"Jika saya punya pilihan, hal pertama adalah berhenti, membuat permintaan maaf mendalam, mengundurkan diri," sebut suara dalam rekaman tersebut.

Lam, ketika berbicara pada jumpa pers, tidak membenarkan atau membantah kesahihan rekaman audio tersebut.

Ditambahkannya, "sama sekali tidak bisa diterima" pernyataan yang dia lontarkan di ranah privat direkam dan disebar ke media.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ribuan pelajar sekolah menengah Hong Kong memboikot kegiatan belajar-mengajar untuk berpartisipasi dalam demonstrasi.

'Pilihan saya pribadi'

"Saya tidak pernah mengajukan pengunduran diri kepada pemerintah pusat," cetus Lam kepada wartawan.

"Saya bahkan tidak mempertimbangkan atau mendiskusikan pengunduran diri dengan pemerintah pusat," sambungnya.

"Pilihan tidak mengundurkan diri adalah pilihan saya pribadi," tegasnya, seraya berkeras dirinya ingin "membantu Hong Kong dalam setiap situasi sulit dan melayani rakyat Hong Kong."

Lam mengaku pemerintahannya "sangat risau" dengan kekerasan di Hong Kong dan dia merasa "kebanyakan warga Hong Kong tidak ingin menyaksikannya".

"Karena itu, tujuan bersama kami adalah menghentikan kekerasan ini sehingga masyarakat bisa secepat mungkin kembali damai," kata Lam, sembari berjanji berupaya berdialog dengan para demonstran.

Hak atas foto AFP
Image caption Aksi-aksi demonstrasi di Hong Kong kerap berujung pada kekerasan.

Hong Kong telah dilanda rangkaian demonstrasi selama 14 pekan terakhir.

Aksi-aksi tersebut dipicu rencana perubahan undang-undang yang memungkinkan seorang tahanan diekstradisi ke China daratan. Namun, kemudian unjuk rasa melebar ke tuntutan penyelidikan independen terhadap dugaan kekejian polisi dan perluasan demokrasi.

Demonstrasi pada pekan lalu diwarnai kekerasan terburuk antara pengunjukrasa dan polisi.

Para demonstran melembarkan bom molotov, menyalakan api, dan menyerang gedung parlemen Hong Kong. Pada saat bersamaan, polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, meriam air, dan melepaskan tembakan peringatan.

Pada Senin (02/09), ribuan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa memboikot kegiatan belajar-mengajar kemudian berkumpul di pusat kota.

Topik terkait

Berita terkait