Presiden Trump tiba-tiba batalkan pertemuan rahasia dan perundingan damai dengan Taliban

Warga Kabul mencari tahu nasib anggota keluarga setelah terjadi ledakan bom pada Kamis (05/09). Hak atas foto Reuters

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ia membatalkan perundingan damai dengan kelompok militan Taliban yang semula ditujukan untuk mengakhiri perang Amerika di Afghanistan selama 18 tahun terakhir, keputusan yang dikecam oleh Taliban.

Proses perundingan damai tersebut telah digelar di Doha, ibu kota Qatar, belakangan ini.

Pembatalan itu bermakna pula bahwa pertemuan rahasia Presiden Trump dengan Presiden Aghanistan Ashraf Ghani dan sejumlah pemimpin Taliban yang semula dijadwalkan akan digelar di tempat peristirahatan Camp David pada Minggu (08/09) juga dibatalkan.

"Malangnya, untuk membangun pengaruh palsu, Taliban mengakui bertanggung jawab atas serangan di Kabul baru-baru ini yang menewaskan tentara-tentara kami yang tangguh," kata Trump lewat twitnya.

"Saya seketika membatalkan pertemuan dan membatalkan perundingan damai."

Taliban mengecam keputusan Presiden Trump membatalkan perundingan damai.

"Amerika Serikat akan menjadi pihak yang paling dirugikan di antara pihak-pihak lain sebagai akibat dari pembatalan perundingan," kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid pada Minggu (08/09).

'Risiko perundingan tanpa pemerintah'

Lebih lanjut Taliban mengatakan penarikan diri AS dari proses perundingan damai menunjukkan negara itu kurang dewasa dan kurang berpengalaman.

Namun sambutan positif justru disampaikan oleh pemerintah Afghanistan dan menyebutnya sebagai keputusan yang tepat di saat yang tepat pula.

Hak atas foto MICHAEL REYNOLDS/EPA
Image caption Pertemuan langsung antara Presiden Trump dan Taliban di Camp David bisa menjadi terobosan diplomatik, tetapi akhirnya dibatalkan.

Lewat juru bicaranya Sediq Sediqqi, Presiden Ashraf Ghani mengatakan semula perundingan damai diharapkan dapat membuahkan kesepakatan gencatan senjata dan membuka pintu perundingan langsung antara pemerintah dan Taliban.

"Malangnya, hal itu tidak terwujud. Sebaliknya, kami melihat dan mengamati kemungkinan timbulnya risiko dalam semua proses perundingan karena pemerintah Afghanistan tidak diikutsertakan sebagai pemangku kepentingan utama.

"Dan semua proses yang tidak dapat menjamin gencatan senjata, penghentian kekerasan dapat membahayakan semua pencapaian selama ini," jelas Sediqqi.

Hak atas foto WAKIL KOHSAR/AFP
Image caption Jumlah tentara Amerika Serikat yang masih ditempatkan di Afghanistan mencapai sekitar 14.000 orang.

Dalam kerangka perundingan damai, Amerika Serikat akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 minggu ke depan. Di satu sisi, Taliban harus memberikan jaminan bahwa Afghanistan tidak akan pernah lagi digunakan sebagai basis terorisme

Perang Amerika di Afghanistan dimulai ketika AS melancarkan serangan udara satu bulan setelah serangan 11 September 2001 dan setelah Taliban menolak menyerahkan pemimpinnya, Osama bin Laden.

AS menggandeng koalisi internasional dan Taliban segera digulingkan dari kekuasaan. Namun, Taliban berubah menjadi pasukan pemberontak dan terus melancarkan serangan mematikan, menggoyahkan pemerintahan Afghanistan berikutnya.

Koalisi internasional mengakhiri misi tempurnya pada tahun 2014, tetapi menyisakan tentara hanya untuk melatih pasukan Afghanistan.

Amerika Serikat melanjutkan operasi tempurnya sendiri, dengan skala yang lebih kecil, termasuk serangan udara. Saat ini negara itu menempatkan sekitar 14.000 tentara di Afghanistan.

Berita terkait