Kebijakan Trump akan halangi puluhan ribu pencari suaka, migran yang sebagian besar lari karena kekerasan dan kemiskinan

Pencari suaka dari Amerika Tengah masuk secara ilegal ke El Paso, Texas, dan mencari suaka di sanaMexico 11 Juni 2019 Hak atas foto Reuters
Image caption Perubahan ini akan mempengaruhi pencari suaka dari Amerika Tengah.

Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan pemerintah diperbolehkan untuk membatasi para migran dalam mencari suaka, sebagian besar berasal dari Amerika

Kebijakan ini melarang migran untuk mencari suaka di AS jika mereka tidak melakukannya di negara-negara yang mereka lewati untuk mencapai perbatasan selatan AS.

Sekalipun masih ada upaya hukum melawan kebijakan ini, tetapi putusan ini berarti kebijakan baru ini sudah bisa diterapkan.

Ini akan mempengaruhi puluhan ribu migran Amerika Tengah yang melintasi Meksiko - terkadang dengan berlajan kaki - menuju Amerika Serikat.

Kebijakan ini diumumkan bulan Juli lalu, tetapi langsung diblokir oleh putusan pengadilan di San Francisco.

Menekan angka migrasi merupakan janji utama pemerintahan Donald Trump dan menjadi bagian penting kampanyenya untuk pemilihan presiden 2020.

Trump menyebut putusan ini sebagai kemenangan besar.

Lari dari kekerasan dan kemiskinan

Migran non-Meksiko akan terpengaruh ketika mereka masuk ke perbatasan selatan Amerika, terutama mereka yang berasal dari negara-negara Amerika Tengah yang merupakan pencari suaka terbesar ke AS tahun ini.

Sebanyak 811.016 orang ditahan di perbatasan selatan hingga akhir Agustus 2019, dari dari jumlah itu, sekitar 590.000 berasal dari El Salvador, Guatemala dan Honduras. Mayoritas mereka tiba dengan setidaknya seorang anggota keluarga lain.

Kebanyakan migran ini lari dari kekerasan dan kemiskinan di negaranya, melintasi Meksiko, untuk bisa mencapai perbatasan Amerika.

Ketika tiba di AS, mereka harus melalui wawancara untuk membuktikan adanya "ketakutan yang kredibel" (credible fear) di negara asal mereka, agar mereka bisa mendapat suaka di AS.

Dengan kebijakan baru ini, mereka akan gagal mendapat suaka di AS sekiranya mereka tidak mencoba mencari suaka di negara lain yang mereka lewati sepanjang jalan menuju AS.

Sejumlah kecil pencari suaka dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan yang tiba di perbatasan selatan juga akan terpengaruh.

Hak atas foto Getty/John Moore
Image caption Puluhan ribu migran yang mencari suaka di AS tak bisa lagi melakukannya sebelum mencari suaka dulu di negara yang mereka lewati sebelum mencapai AS.

Organisasi American Civil Liberties Union yang mengajukan upaya hukum melawan kebijakan itu berpendapat, ini akan secara drastis membatasi orang yang boleh mencari suaka di AS.

"Ini secara efektif akan menghalangi seluruh pencari suaka di perbatasan selatan, bahkan ketika mereka baru akan masuk, kecuali untuk warga Meksiko," kata petisi yang mereka ajukan.

Pengacara yang mewakili organisasi ini menggambarkan putusan ini merupakan "langkah sementara" dan mereka yakin bisa mengubahnya lagi.

Mereka yang ditolak oleh negara ketiga ketika mencari suaka, atau korban perdagangan manusia masih bisa mencari suaka di AS.

Juru bicara Departemen Kehakiman AS mengatakan putusan ini akan membantu "menciptakan ketertiban di perbatasan selatan dan menutup celah dalam sistem imigrasi serta menghalangi pengakuan palsu".

Mengapa putusan ini kontroversial?

Putusan ini membatalkan konvensi yang telah lama berlaku bahwa AS akan mendengarkan klaim pencari suaka tanpa peduli bagaimana mereka bisa sampai di perbatasan AS.

Dari sembilan hakim di Mahkamah Agung, dua di antaranya, Ruth Bader Ginsburg dan Sonia Sotomayor, memiliki pendapat berbeda terhadap putusan itu.

"Sekali lagi pemerintah telah mengeluarkan aturan yang mencoba untuk mengakhiri praktik yang telah lama berlaku terkait pengungsi yang mencari perlindungan dari persekusi," tulis Sotomayor.

Hak atas foto Reuters
Image caption Migran di perbatasan di Matamoros, Tamaulipas, Meksiko.

Rute menuju AS dipenuhi risiko, dan migran dari Amerika Tengah kadang diincar oleh geng negara tetangga akibat posisi mereka yang rentan.

Diragukan apakah Meksiko dan Guatemala yang berbatasan dengan AS bisa menyesuaikan diri dengan peningkatan pencari suaka ke negara mereka sesudah kebijakan ini berlaku.

Juga belum jelas apakah negara-negara lain mau bekerjasama dengan kebijakan sepihak dari AS ini.

Pejabat Meksiko yang berupaya mencegah migrasi sudah menyatakan menolak keras rencana ini.

Menteri Luar Negeri Marcelo Ebrard menekankan Meksiko tak mau menjadi "negara ketiga" bagi pencari suaka yang bertujuan ke AS.

Negara-negara Amerika Tengah, kecuali Guatemala, juga menolak menandatangani kesepakatan "negara ketiga yang aman". Ini berarti AS dapat mengirim kembali pencari suaka yang tiba di AS tanpa mencari perlindungan sebelumnya.

Presiden Meksiko Andres Manuel Obrador, hari Rabu (11/09) mengunggah fotonya sedang berbicara lewat telepon dengan Trump, yang mengatakan mereka melakukan "percakapan yang sangat baik".

Berita terkait