Serangan kilang minyak Saudi: Trump peringatkan AS siap angkat senjata

iran, minyak, saudi, as Hak atas foto Reuters

Harga minyak melonjak ke harga tertinggi sejak Perang Teluk dalam perdagangan Senin (16/09) setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap "mengangkat senjata" untuk membalas serangan kilang minyak Arab Saudi.

Washington menuding Iran berada di balik serangan itu, namun Iran sejauh ini menyanggah.

Inilah untuk pertama kali Trump memberikan indikasi kemungkinan membalas dengan operasi militer atas serangan drone fasilitas minyak yang menyebabkan berkurangnya produksi minyak Saudi sampai sekitar setengah.

Serangan ini menyebabkan Saudi dan Amerika Serikat mengumumkan mereka mungkin akan menggunakan cadangan minyak mereka.

"Ada alasan untuk percaya siapa dalangnya, dan kami siap angkat senjata tergantung dari verifikasi, namun kami menunggu dari Kerajaaan (Saudi) siapa yang menurut mereka berada di balik serangan ini," kata Trump dalam cuitannya.

Amerika Serikat telah mengeluarkan foto satelit dan mengutip data intelijen untuk mendukung pernyataan bahwa Iran berada di belakang sejumlah serangan pada fasilitas minyak utama Saudi.

Iran menyangkal terlibat dalam beberapa serangan udara hari Sabtu (14/09), yang telah diakui dilakukan kelompok pemberontak Houthi yang terkait dengan Iran di Yaman.

Tetapi sejumlah pejabat AS yang berbicara dengan media Amerika dan dunia mengatakan bahwa arah dan tingkat serangan menimbulkan pertanyaan tentang apakah kelompok Houthi memang terlibat.

Kejadian ini telah mengurangi 5% dari pasokan minyak dunia dan membuat lonjakan harga.

Apa yang AS katakan?

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menyalahkan Iran tanpa memberikan bukti apapun, sehingga mendorong Teheran untuk kembali menuduh Washington melakukan tipuan.

Sejumlah pejabat AS telah berbicara dengan New York Times, ABC dan Reuters.

Satu di antaranya mengatakan serangan berasal dari arah barat-barat laut - bukannya wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman, yang terletak di barat daya dari fasilitas minyak Saudi.

Para pejabat mengatakan ini dapat mengisyaratkan daerah peluncuran di utara Teluk, Iran atau Irak.

Gambar jarak dekat tanki yang rusak di tempat pemrosesan Abqaiq memperlihatkan bagian yang terkena serangan di daerah barat.

Para pejabat, seperti dikutip New York Times, mengatakan drone dan misil penjelajah kemungkinan digunakan, tetapi tidak semuanya mengenai sasaran di Abqaiq dan ladang minyak Khurais.

ABC melaporkan bahwa seorang pejabat senior AS mengatakan Trump cukup yakin bahwa Iran bertanggung jawab.

Harga minyak melonjak

Harga minyak mentah Brent yang menjadi salah satu patokan harga minyak, naik 10% menjadi US$66,27 per barel - peningkatan terbesar dalam satu hari sejak Perang Teluk pada 1991.

Lonjakan harga mereda setelah Presiden Trump menyetujui dilepaskannya cadangan minyak AS.

Tetapi muncul kekhawatiran bahwa harga tinggi dapat terus berlanjut jika ketegangan semakin memburuk.

Bagi para konsumen, masih terlalu dini untuk merasakan pengaruhnya, lapor wartawan BBC Katie Prescott. Kenaikan apapun baru akan dirasakan dalam beberapa minggu sehubungan dengan harga minyak.

Reaksi Iran?

Iran masih belum bereaksi terhadap tuduhan terbaru AS.

Tetapi Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif, lewat cuitan pada hari Minggu (15/09), mengejek Pompeo dengan mengatakan "setelah gagal menekan habis-habisan, sekarang Menteri Pompeo melakukan pembohongan besar-besaran".

Dia mengacu kepada pernyataan pemerintah Trump bahwa "operasi tekanan maksimal" yang menyasar Iran lewat berbagai sanksi sejak Washington menarik diri dari kesepakatan internasional terkait dengan pembatasan skala program nuklir Iran.

Seberapa besar serangan Sabtu?

Serangan menyasar Abqaiq, fasilitas pemrosesan minyak terbesar perusahaan minyak negara Saudi, Aramco dan ladang minyak Khurais.

Khurais adalah sasaran terdekat ke perbatasan Yaman - jaraknya sekitar 770 km.

Image caption Abqaiq adalah tempat pemrosesan minyak terbesar dunia.

Arab Saudi menyatakan serangan drone, dimulai pada pukul 04:00 waktu setempat (01:00 GMT) dan menyebabkan awan hitam tebal di udara.

Houthi menyatakan pasukannya mengirim 10 drone ke arah fasilitas tersebut dan kemudian memperingatkan akan melakukan serangan lanjutan.

Mengapa fasilitas minyak Arab Saudi diserang?

Houthi berulang kali meluncurkan roket, misil dan drone ke daerah padat penduduk di Arab Saudi. Operasi tersebut paling tidak telah menewaskan empat warga sipil.

Yaman hancur karena konflik yang terus memburuk pada bulan Maret 2015, ketika Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu, memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi melarikan diri ke luar negeri.

Karena mengkhawatirkan membesarnya kelompok yang diduga mendapat dukungan militer dari Iran yang mayoritas penduduknya Syiah, Arab Saudi dan delapan negara, yang sebagian besar berpenduduk Arab Sunni, melakukan serangan udara untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah Presiden Hadi dan menerapkan blokade sebagian pada Yaman.

PBB menyatakan konflik telah menewaskan paling sedikitnya 7.290 warga sipil dan menyebabkan 80% penduduk, sekitar 24 juta orang, memerlukan bantuan kemanusiaan ataupun perlindungan, termasuk 10 juta orang yang menggantungkan diri pada bantuan makanan.

Juru bicara militer Houthi Yahia Sari pada hari Sabtu (14/09) mengatakan operasi terhadap sasaran Saudi hanya "akan meningkat dan semakin menyakitkan dibandingkan sebelumnya, selama agresi dan blokade terus berlanjut".

Berita terkait