Hong Kong: Mengapa demonstran menyerang Starbucks?

Hong Kong Hak atas foto Reuters
Image caption Sejumlah pekerja membersihkan kedai Starbucks yang dirusak pedemo anti-China di Hong Kong, 30 September lalu.

Kaca-kaca pecah, amukan api, dan kumpulan orang yang dipukuli. Beragam potret dari Hong Kong memperlihatkan wilayah itu tengah dirundung kekacauan.

Namun di tengah kericuhan, sebagian besar orang yang disebut pro-demokrasi secara sadar menyerang sejumlah tempat.

Pertanyaannya, mengapa para demonstran itu mengincar gerai kopi Starbucks? Mengapa kereta bawah tanah? Dan mengapa pula toko, restoran, dan bank tertentu juga menjadi sasaran?

Ada target yang pasti...

Situasi di Hong Kong saat ini rumit, tapi secara umum terbagi antara mereka yang menentang dan mendukung pemerintah China.

Saat unjuk rasa damai beralih wujud serangan terhadap properti, sejumlah korporasi besar asal China seperti Bank of China dan perusahaan teknologi Xiaomi menjadi target vandalisme.

Namun ada beberapa lokasi lain yang juga menjadi target.

Mengapa Starbucks?

Walau gerai kopi ini berasal dari Amerika Serikat, operasionalnya di Hong Kong dijalankan oleh perusahaan lokal, yaitu Maxim's Caterers.

Annie Wu, putri pendiri perusahaan itu, baru-baru ini mendukung kepolisian Hong Kong dan mengkritik pengunjuk rasa yang disebutnya sebagai pedemo radikal.

Wu menyatakan sikapnya itu bersama pengusaha Pansy Ho. Nama terakhir mewakili Federasi Perempuan Hong Kong dalam forum Komisi HAM PBB 11 September lalu.

Wu dan Ho menuduh sekelompok kecil pedemo radikal menggunakan kekerasan yang terukur dan sistematis.

Dampaknya, sejak saat itu para pengunjuk rasa mulai mengarahkan kemarahan terhadap Maxim's Caterer dan gerai waralaba di bawah pengelolaannya.

Maxim adalah salah satu perusahaan bidang makanan dan minum yang terbesar di Hong Kong. Mereka juga mengendalikan Genki Sushi dan toko roti Arome. Dua gerai merek itu juga menjadi sasaran pedemo.

Belakangan Maxim menerbitkan pernyataan tertulis yang mengklaim Wu tidak memegang jabatan apapun dalam perusahaan mereka.

Maxim juga menyebut Wu tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan apapun. Namun klaim itu sejauh ini belum dapat menenangkan para demonstran.

Jaringan makanan cepat saji asal Jepang, Yoshinoya juga menjadi target pedemo.

Belum lama ini muncul kegamangan terhadap sebuah unggahan di Facebook yang menyebut operator Yoshinoya di Hong Kong mendukung kepolisian dan pemerintah.

Namun ada sebagian orang yang membaca unggahan di Facebook itu sebagai kode sindiran terhadap aparat keamanan setempat.

Dan tak lama setelahnya, jendela sejumlah restoran asal Jepang itu pun dipecahkan pedemo. Dinding rumah makan mereka pun kini penuh grafiti.

Apakah Triad terlibat?

Target pedemo lainnya adalah Best Mart 360, sebuah jaringan swalayan. Ini merupakan contoh bagaimana populasi Hong Kong kini terbelah.

Pimpinan Best Mart 360 adalah Hugo Lam Chi-fung. Ia berstatus presiden kehormatan di Federasi Hong Kong untuk Asosiasi Fujian. Lembaga itu beberapa kali turun ke jalan menyatakan dukungan untuk China.

Fujian adalah sebuah provinsi di China. Selama bertahun-tahun banyak warga Fujian yang bermigrasi ke Hong Kong.

Komunitas pendatang asal Fujian sejauh ini terlihat vokal menyokong kepolisian.

Unjuk rasa lembaga ini beberapa kali berakhir bentrokan dengan pedemo yang menuduh kartel bandit asal Fujian turut terlibat.

Best Mart 360 sejauh ini juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka tidak terlibat dengan kelompok triad manapun.

Dugaan keterlibatan triad juga diarahkan pedemo pada pusat permainan mahyong di pemukiman komunitas Fujian.

Yi Pei Square dituding menjadi tempat persembunyian kelompok pro-Beijing yang menyerang warga Hong Kong.

Rumah permainan mahyong itu menyatakan tak berkaitan dengan orang-orang asal Fujian. Mereka juga mengklaim mendukung tuntutan kelompok anti-Beijing.

Kesalahpahaman dan permintaan maaf

Ada pula kejadian di mana sejumlah tempat menjadi sasaran kemarahan pedemo yang salah paham.

Shanghai Commercial Bank tidak dimiliki orang-orang dari China walau namanya mencerminkan suatu wilayah di negara komunis itu.

Jejaring minuman teh Yifang juga keliru dikaitkan dengan China meski faktanya berasal dari Taiwan.

Para demonstran keliru menargetkan gerai dua merek itu. Belakangan mereka meminta maaf dan membersihkan gerai yang mereka serang.

Untuk mencegah kesalahpahaman dan mengkoordinasikan aksi, para demonstran kini menggunakan sistem pengenal warna.

Hitam, merah, dan biru digunakan sebagai pembeda untuk menghancurkan suatu tempat, mencoret-coret atau sekedar memboikot keberadaannya.

Sementara itu, warna kuning digunakan untuk menandai perusahaan yang menyokong gerakan anti-China.

Mengapa transportasi publik juga diserang?

Stasiun kereta bawah tanah Hong Kong juga berulang kali menjadi sasaran vandalisme, bahkan dibakar selama unjuk rasa.

Perusahaan kereta bawah tanah MTR berstatus korporasi terbuka. Pemerintah Hong Kong merupakan pemegang saham terbesar mereka.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Demonstran kerap merusak stasiun kereta bawah tanah.

Pertengahan Agustus silam, MTR dikritik media massa milik pemerintah China. Mereka dituduh membantu mobilisasi pengunjuk rasa.

Setelahnya, MTR menutup sejumlah stasiun sebelum kelompok demonstran berkumpul. Suatu kali, seluruh sistem kereta bawah tanah juga dihentikan.

Kelompok anti-Beijing kini menuduh MTR membantu polisi menangkap pengunjuk rasa. Mereka juga dikritik karena enggan merilis rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan dugaan kebrutalan polisi.

Tambahan reportase dikerjakan wartawan BBC Chinese, Lam Cho Wai

Topik terkait

Berita terkait