Operasi militer: Didukung Rusia, pasukan Suriah 'memasuki Manbij' yang jadi tujuan serangan Turki

Warga lokal menyambut tentara pemerintah Suriah yang baru tiba di kota Tal Tamer. Hak atas foto AFP
Image caption Warga lokal menyambut tentara pemerintah Suriah yang baru tiba di kota Tal Tamer.

Tentara Suriah bergerak cepat ke kota-kota dan desa-desa di wilayah timur laut negara tersebut, yang memungkinkan konfrontasi dengan pasukan Turki.

Media pemerintah mengatakan pasukan Suriah yang disokong Rusia telah memasuki kota Manbij, sebagai bagian dari kesepakatan dengan tentara Kurdi yang sebelumnya bersekutu dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, pasukan Turki dan milisi Suriah berkumpul di dekat kota tersebut.

Serangan Turki bertujuan mendorong pasukan Kurdi dari wilayah perbatasan.

Media pemerintah Suriah mengatakan pasukan pemerintah telah memasuki Manbij, di daerah tempat Turki ingin menciptakan "zona aman" yang steril dari para pasukan Kurdi. Sebelumnya, tentara Suriah menduduki Tal Tamer dan Ain Issa, dan para penduduk merayakan kedatangan mereka.

Kesepakatan antara Kurdi dan pemerintah Suriah dipandang sebagai dorongan bagi Presiden Bashar al-Assad untuk kembali mengerahkan pasukannya ke daerah-daerah tersebut untuk pertama kalinya sejak 2012.

Pengerahan pasukan dilakukan beberapa jam setelah AS mengumumkan bahwa hampir 1.000 tentara Amerika akan meninggalkan Suriah utara.

Serangan Turki dan penarikan pasukan oleh AS telah menuai kritik dari komunitas internasional karena pasukan Kurdi adalah sekutu penting dalam koalisi melawan kelompok yang menamakan diri mereka Negara Islam (ISIS) di Suriah. Ada kekhawatiran akan kemungkinan kebangkitan ISIS dan pelarian tahanan perang di tengah ketidakstabilan yang diakibatkan oleh pertempuran.

Pada hari Senin, Presiden Donald Trump mengatakan "jejak kecil" personel AS akan tetap di Suriah selatan untuk terus memerangi sisa-sisa ISIS.

Hak atas foto AFP
Image caption Seorang tentara Kurdi mengangkat senjata dalam acara pemakaman di Derik. Puluhan orang telah tewas sejak dimulainya serangan terhadap pasukan Kurdi di Suriah.

Sanksi terhadap kementerian Turki

Sementara itu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap dua kementerian Turki dan tiga pejabat senior pemerintah Turki sebagai respons atas serangan militer negara itu ke bagian utara Suriah.

Menurut Wapres Mike Pence, Presiden Donald Trump telah menelpon Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, guna mendesak gencatan senjata sesegera mungkin.

Pence mengatakan dirinya akan bertolak ke wilayah itu "secepat mungkin".

Dalam jumpa pers di Washington DC, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan sanksi-sanksi yang diberikan "sangat kuat" dan punya dampak berat terhadap ekonomi Turki.

"Aksi pemerintah Turki membahayakan warga sipil tak berdosa, mendetabilisasi kawasan, termasuk melemahkan kampanye mengalahkan ISIS," sebut pernyataan Kementerian Keuangan AS.

Wapres Mike Pence yang berdiri di sebelah Mnuchin dalam konpers tersebut, memperingatkan sanksi-sanksi itu "akan berlanjut akan bertambah parah kecuali Turki melakukan gencatan senjata secara langsung, menghentikan kekerasan, dan menegosiasikan kesepakatan jangka panjang mengenai topik-topik di sepanjang perbatasan antara Turki dan Suriah."

Apa isi kesepakatan pasukan Kurdi dengan pemerintah Suriah?

Menurut Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, kesepakatan yang diteken pada Minggu (13/10) akan memungkinkan Suriah untuk mengerahkan pasukannya di sepanjang wilayah perbatasan yang dikuasai oleh pasukan Kurdi demi "mengusir agresi [Turki]".

Pada 2012, pasukan yang setia kepada Presiden Assad menarik diri dari wilayah itu untuk memerangi pemberontak di tempat lain, membiarkan milisi Kurdi mengambil kendali.

Meskipun tidak setuju dengan upaya mereka untuk memerintah diri sendiri, Assad tidak berusaha merebut kembali wilayah tersebut, terutama setelah Kurdi menjadi mitra dalam koalisi melawan ISIS bersama pasukan AS.

Kesepakatan tersebut menandai perubahan aliansi pasukan Kurdi, yang mengatakan mereka telah "ditusuk dari belakang" oleh Presiden Trump setelah ia menarik lusinan tentara AS dari timur laut Suriah pekan lalu.

Langkah ini membuka jalan bagi operasi militer Turki, yang memandang elemen-elemen kelompok Kurdi di Suriah sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang lantaran memperjuangkan otonomi Kurdi di Turki selama tiga dekade.

Selain sebagai mitra dalam upaya melawan ISIS, suku Kurdi sangat penting bagi AS dalam membatasi pengaruh saingannya, Rusia dan Iran, serta turut menjaga pengaruhnya di lapangan.

Untuk saat ini, pasukan Suriah tidak akan dikerahkan ke wilayah antara Tal Abyad dan Ras al-Ain, tempat Turki memfokuskan serangannya. Para pejabat yang dipimpin Kurdi bersikeras mereka akan tetap bertanggung jawab secara politik, dan mempertahankan ketertiban di daerah itu.

Krisis juga untuk NATO

Analisis Jonathan Marcus, koresponden BBC bidang pertahanan

Krisis di Suriah timur laut juga merupakan krisis bagi NATO dengan implikasi praktis dan politis. Ketakutan terbesarnya ialah bahwa banyak kemajuan yang telah dicapai dalam upaya mengalahkan ISIS bisa jadi sia-sia.

Kesediaan Presiden Trump untuk mengorbankan pasukan Kurdi tidak diterima oleh banyak sekutu AS; Prancis, Jerman, dan Inggris mendesak Turki untuk menghentikan operasi mereka. Spanyol telah mengancam akan menarik kembali rudal Patriot yang diperbantukannya kepada Turki sebagai bentuk protes.

Trump, yang tidak berbuat banyak untuk menghentikan operasi, juga mengancam akan sepenuhnya "menghancurkan dan melenyapkan" perekonomian Turki jika mereka melangkah terlalu jauh - sebuah pernyataan luar biasa yang disampaikan satu anggota NATO ke anggota NATO lainnya.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa meskipun ada keprihatinan yang mendalam, Turki akan tetap menjadi anggota penting aliansi tersebut. Ia menegaskan bahwa NATO akan dapat mengatasi perpecahan yang terjadi saat ini.

Tapi jika mengingat keputusan Ankara baru-baru ini untuk membeli rudal darat-ke-udara dari Rusia, ada kesan yang jelas bahwa Turki perlahan-lahan menjauh dari NATO.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Para tentara Turki dan milisi Suriah sokongan Turki berkumpul di pinggiran Kota Manbij dekat perbatasan Suriah-Turki, Senin (14/10).

Seperti apa reaksi dari komunitas internasional?

Pada Senin (14/10), Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan negaranya tidak akan mengendurkan serangannya, "tidak peduli apa yang dikatakan orang", menambahkan bahwa operasi akan dilanjutkan hingga "kemenangan akhir tercapai".

Dengan "zona aman" mencapai 32 km ke Suriah, Turki ingin memukimkan kembali hingga dua juta pengungsi Suriah saat ini di wilayahnya. Banyak dari mereka bukan orang Kurdi dan para pengkritik memperingatkan langkah ini bisa mengarah pada pembersihan etnis penduduk Kurdi setempat.

Pemerintah Rusia, sekutu dekat Erdogan, menyatakan tidak ingin memikirkan kemungkinan bentrokan antara pasukan Rusia dan Turki di Suriah, dan bahwa pihaknya melakukan kontak rutin dengan pihak berwenang Turki.

Dalam perkembangan lain:

  • Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa meminta Turki untuk menarik pasukannya dari Suriah utara, mengatakan bahwa serangan tersebut "sangat merusak stabilitas dan keamanan seluruh kawasan"
  • Negara-negara Uni Eropa berkomitmen untuk menangguhkan ekspor senjata ke Turki tapi tidak jadi menerapkan embargo senjata di seluruh UE; Ankara mengatakan akan meninjau ulang kerjasamanya dengan UE karena sikap organisasi tersebut yang "bias dan melanggar hukum"
  • Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar pertempuran segera dihentikan
Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Tentara Turki mengendarai tank M60 buatan AS dekat Kota Manbij di Suriah, Senin (14/10).

Bagaimana situasi di lapangan?

Wilayah-wilayah di bawah kendali SDF mengalami pengeboman besar-besaran selama akhir pekan, dan Turki berhasil menduduki sejumlah daerah di kota perbatasan Ras al-Ain dan Tal Abyad. Presiden Erdogan mengatakan pasukannya telah menguasai wilayah seluas 109 kilometer persegi, yang mencakup 21 desa.

Sedikitnya 50 warga sipil telah tewas di dalam wilayah Suriah dan 18 lainnya di seberang perbatasan, di Turki selatan, menurut sejumlah laporan. Pasukan Kurdi telah mengkonfirmasi kematian 56 tentara mereka sedangkan Turki mengatakan empat tentaranya dan 16 pejuang Suriah pro-Turki telah tewas di Suriah.

Hampir 160.000 warga sipil terusir dari rumah mereka, menurut badan kemanusiaan PBB OCHA, yang mengatakan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat.

Pertempuran juga meluas ke daerah-daerah yang dekat dengan kamp tahanan ISIS. Para pejabat di kamp Ain Issa mengatakan hampir 800 kerabat anggota ISIS dari warga asing telah melarikan diri.

Kamp tersebut sebelumnya menampung sekitar 12.000 pengungsi, termasuk hampir 1.000 perempuan dan anak-anak warga asing yang terkait dengan kelompok jihadis.

Turki mengatakan akan bertanggung jawab atas tahanan IS yang ditemukannya selama serangan.

Topik terkait

Berita terkait