Selir Raja Thailand: Raja kembalikan gelar kehormatan kepada selirnya, Sineenat Wongvajirapakdi, setelah hampir setahun tersingkir

Baru beberapa bulan lalu Sineenat Wongvajirapakdi diberikan penghormatan.
Keterangan gambar,

Sineenat tersingkir dari posisi selir raja pada Oktober 2019, hanya beberapa bulan setelah dia diberi gelar kehormatan tersebut

Raja Thailand mengembalikan gelar kehormatan kepada selirnya, Sineenat Wongvajirapakdi, hampir setahun setelah gelarnya dilucuti secara dramatis.

Raja Vajiralongkorn mengembalikan pangkat dan gelar Sineenat Wongvajirapakdi pada hari Rabu (02/09), seperti dilaporkan oleh Royal Gazette.

Sineenat tersingkir dari posisi selir raja pada Oktober 2019, hanya beberapa bulan setelah dia diberi gelar kehormatan tersebut.

Pada Juli tahun lalu, Sineenat Wongvajirapakdi dijadikan "selir resmi", tetapi istana menyatakan dia dihukum karena berusaha menaikkan dirinya "sejajar dengan ratu".

Pengumuman tahun lalu juga menuduhnya melakukan "kelakuan buruk dan ketidaksetiaan terhadap raja".

Sineenat adalah selir pertama di Thailand dalam jangka waktu satu abad terakhir, dimana gelar itu merujuk pada pendamping atau pasangan selain istri raja.

Keterangan gambar,

Vajiralongkorn menjadi raja setelah ayahnya meninggal dunia.

Raja-raja Thailand selama berabad-abad memiliki banyak istri - atau selir. Tetapi terakhir kali seorang raja Thailand mengangkat selir resmi adalah pada 1920-an dan gelar tersebut tidak digunakan sejak negara itu menjadi monarki konstitusional pada 1932.

Hukum lese-majeste Thailand melarang kritik apa pun terhadap monarki, dengan hukuman penjara yang berat bagi mereka yang melanggar.

Tetapi demonstrasi baru-baru ini terhadap pemerintah juga termasuk seruan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk reformasi monarki .

Apa yang dimaksud dengan selir?

Selir pada umumnya mengacu kepada istri, suami, atau pendamping seorang raja atau ratu yang sedang berkuasa - tetapi dalam kasus Thailand "selir kerajaaan" adalah istilah yang dipakai bagi pendamping atau pasangan selain istri raja.

Sineenat, 34 tahun, adalah selir kerajaan pertama di Thailand dalam periode hampir satu abad.

Dirinya diberikan gelar tersebut pada Juli, menjadikannya pandamping resmi raja tidak lama setelah Raja Maha Vajiralongkorn menikahi istri keempatnya, Ratu Suthida.

Hanya beberapa bulan kemudian, pada bulan Oktober, Sineenat tiba-tiba dicopot dari pangkat dan gelarnya, memicu spekulasi luas tentang apa yang mungkin telah mendorong pencabutan gelar itu.

Keterangan gambar,

Sineenat ikut serta upacara pemakaman Raja Bhumibol Adulyadej.

Berdasarkan sejarah, poligami dan memiliki selir digunakan monarki Thailand untuk memastikan dukungan keluarga kuat di berbagai provinsi dari kerajaan besar.

Selama berabad-abad raja memiliki banyak istri - atau selir. Terakhir kali raja Thailand mengangkat seorang selir resmi pada tahun 1920-an dan gelar tersebut tidak pernah dipakai sejak negara menjadi monarki konstitusional pada tahun 1932.

Apa yang diketahui terkait dengan Sineenat?

Informasi tentang latar belakangnya tidak begitu jelas kecuali biografi yang dikeluarkan istana.

"Kami hanya mengetahui masa lalunya dari [informasi yang dikeluarkan] rumah tangga istana," kata Pavin Chachavalpongpun, pengajar di Southeast Asian Studies, Kyoto University.

Lahir pada 1985, dia berasal dari Thailand bagian utara dan pertama kali bekerja sebagai perawat. Begitu berhubungan dengan Vajiralongkorn yang saat itu putra mahkota, Sineenat menjadi bagian dari kelompok militer dan keamanan kerajaan.

Sineenat menjadi pengawal, pilot, penerjun payung dan bergabung dengan pengawal kerajaan. Permulaan tahun ini, dia diangkat menjadi mayor jenderal.

Berbagai gelar kehormatan diberikan istana, ditambah dengan dirinya menjadi Selir Kerajaan pertama dalam hampir satu abad di bulan Juli.

Tidak lama kemudian dia terlihat berfoto dalam pesawat tempur jet ketika istana mengeluarkan serangkaian fotonya beraksi bersama-sama dengan biografi resminya. Sekarang foto-foto tersebut sudah dicabut dari situs internet resmi.

Keterangan gambar,

'Raja memberikan isyarat bahwa dirinya tidak dapat disentuh'.

Mengapa gelarnya dicopot tahun lalu?

Sineenat sudah tidak memiliki pangkat dan gelar karena "salah bertingkah laku dan tidak setia kepada monarki," demikian dinyatakan pengumuman resmi rinci terbitan istana kerajaan, pada Oktober 2019.

Disebutkan dirinya "ambisius" dan berusaha "menaikkan dirinya sejajar dengan ratu".

"Tingkah laku selir kerajaan dipandang tidak menunjukkan rasa hormat," memperlihatkan "ketidakpatuhan terhadap raja dan ratu" dan menyalahgunakan kekusaannya dengan mengeluarkan perintah atas nama raja.

Raja, kata pernyataan tersebut, memahami bahwa "dia tidak menunjukkan rasa terima kasih terhadap gelar yang diberikan kepadanya, disamping tidak bertingkah laku sesuai dengan statusnya".

Tamara Loos, guru besar sejarah dan kajian Thailand di Cornell University, mengisyaratkan kurangnya keterbukaan terkait dengan apa yang terjadi merupakan kunci untuk memahami keadaan.

"Dalam keadaan seperti itu, Anda menemukan sistem perlindungan di balik layar. Sineenat kemungkinan bagian dari sistem perlindungan dan dia kemungkinan berperan dalam cara yang tidak begitu cocok bagi dirinya," katanya sambil mengisyaratkan kemungkinan adanya pengelompokan di istana.

Dia menambahkan bahasa yang dipakai dalam pernyataan itu menunjukkan penurunan derajat, "mengingatkan pada zaman dimana perempuan tidak dapat memiliki kekuasaan politik langsung, sehingga cara Anda berbicara sebagai perempuan 'berpengaruh' dipandang menunjukkan sifat ambisius".

Bagi Loos, pernyataan ini sejalan dengan apa yang dipandangnya sebagai "kemunculan monarki absolut modern di Thailand".

Keterangan gambar,

Raja Thailand menikah dengan istri keempatnya, Ratu Suthida.

Apa yang tersisa baginya?

Sampai sejauh ini, selir yang tersingkir baru dicabut gelarnya, dan masih belum jelas nasibnya berikutnya.

"Kita tidak mengetahui apa yang akan dialaminya," Pavin menjelaskan sambil menambahkan prosesnya kemungkinan besar tidak akan terbuka.

Kisah masa lalunya diatur istana, maka kemungkinan besar masa depan juga akan diperlakukan sama.

Keterangan gambar,

Pada bulan Juli, Sineenat berlutut di depan raja saat diberikan gelar selir.

Penyingkiran Sineenat secara tiba-tiba mengingatkan orang kepada apa yang terjadi kepada dua mantan istri Raja Vajiralongkorn.

Tahun 1996, dia mengakhiri hubungan dengan istri keduanya, Sujarinee Vivacharawongse - yang melarikan diri ke AS - dan tidak mengakui empat anak laki-laki darinya.

Pada 2014, istri ketiga, Srirasmi Suwadee - yang tidak diketahui keberadaannya - kehilangan semua gelar dan diusir dari istana ketika orang tuanya ditangkap dan dipenjara karena lese-majeste. Anak laki-lakinya yang sekarang berumur 14 tahun, dibesarkan raja.

Istri-istrinya sebelumnya ini tidak pernah mengeluarkan pernyataan terkait dengan keadaan mereka.

Apa lagi yang dapat diketahui?

Sejak naik takhta, Raja Vajiralongkorn menggunakan kekuasaannya dalam cara yang lebih langsung jika dibandingkan dengan ayahnya.

Permulaan tahun lalu, dua dari kelompok militer paling penting di ibu kota Bangkok ditempatkan di bawah komandonya, memperlihatkan pusat kekuasaan militer di tangan raja. Ini belum pernah terjadi di Thailand modern.

"Bahasa brutal dan langsung yang dipakai istana untuk menyingkirkan Sineenat menunjukkan bagaimana raja ingin melegitimasi hukuman terhadapnya," Pavin menjelaskan.

Loos setuju bahwa raja mengirimkan pesan yang lebih dari hanya penyingkiran selirnya.

"Raja mengirimkan pesan bahwa dirinya tidak bisa disentuh dan begitu Anda tidak disukainya, Anda kehilangan kendali atas nasib Anda.

"Setiap langkahnya, apakah ekonomi, militer atau urusan keluarga mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan tanpa kendali," tambahnya.

Berdasarkan hukum lese-majeste negara, penyingkiran kontroversial tidak bisa dibicarakan di depan umum di negara itu - tetapi para pengamat memandang penyingkiran dramatis ini sebenarnya tetap dipikirkan oleh banyak orang.

Berita ini diperbarui Rabu (02/09) dengan menambahkan informasi terkait pengembalian gelar selir raja Thailand.