Uskup Katolik dukung pelonggaran aturan selibat bagi pastor di Amazon

Uskup Wilmar Santin memimpin Misa di Katedral Santana di Itaiuba, negara bagian Para, Brasil, di wilayah hutan hujan Amazon, 08 September 2019. Hak atas foto AFP
Image caption Uskup Wilmar Santin memimpin Misa di wilayah Amazon, Brasil

Para uskup Katolik di Roma mengusulkan untuk memberi izin kepada lelaki yang sudah menikah untuk menjadi pastor di wilayah Amazon, mengecualikan mereka dari kewajiban selibat yang berumur ribuan tahun.

Usulan yang dihasilkan dari jajak pendapat itu muncul pada akhir sebuah pertemuan khusus di Vatikan tentang Amazon, tempat yang mengalami kekurangan jumlah pastor.

Supaya usulan tersebut bisa berlaku, ia harus mendapatkan dukungan dari Paus Fransiskus, yang dijadwalkan untuk mengungkapkan posisinya tak lama lagi.

Kelompok tradisionalis khawatir pelonggaran aturan ini akan menyebar ke seluruh Gereja Katolik, melemahkan karakter uniknya.

Jajak pendapat tersebut diadakan dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga minggu, disebut sinode, dan dihadiri sekitar 180 uskup di Roma. Pertemuan tersebut juga mengkaji peran perempuan dalam gereja, dan isu-isu lingkungan.

Gereja Katolik adalah institusi tertua di dunia Barat, berusia hampir 2000 tahun, dan beranggotakan lebih dari satu miliar orang.

Kenapa pastor begitu langka di Amazon?

Penduduk di sedikitnya 85% desa di Amazon tidak bisa menghadiri Misa setiap minggu, lansir kantor berita Reuters.

Hak atas foto Reuters
Image caption Diakon seperti Shainkiam Yampik Wananch melayani umat Katolik di Peruvian Amazon.

"Terkadang perlu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum seorang pastor bisa kembali ke suatu komunitas untuk merayakan Ekaristi, menawarkan sakramen tobat atau pengurapan orang sakit," kata dokumen sinode.

Tiga dari lima uskup di sinode berasal dari sembilan negara Amazon, lansir kantor berita AFP.

Apa alasan di balik keputusan ini?

Menurut usulan sinode, yang mendapat 128 suara dukungan dan 41 penolakan, "laki-laki baik" yang sudah menikah bisa bergabung dengan keuskupan di daerah-daerah terpencil di wilayah Amazon.

Para pendukung perubahan itu berpendapat ini bukan pemutarbalikkan aturan tentang selibat bagi pastor, melainkan pengecualian, seperti yang diberikan kepada para rohaniwan Anglikan yang masuk Katolik.

"Keragaman yang sah tidak merusak persekutuan dan persatuan Gereja, tapi mengekspresikan dan mendukungnya," kata dokumen akhir sinode itu, seperti dikutip oleh Catholic News Agency.

Berbicara di sebuah jumpa pers pada akhir sinode, Uskup Agung Benevento, Kardinal Michael Czerny, menjelaskan keputusan tersebut: "Ada yang harus berubah.

"Kita tidak bisa terus mengulang-ulang respon lama terhadap masalah mendesak dan berharap mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang kita dapatkan sejauh ini."

Paus Fransiskus diperkirakan akan mengeluarkan pedomannya terkait persoalan ini pada akhir tahun.

Bagaimana dengan keputusan terkait perempuan dan lingkungan?

Para uskup mengakui bahwa di Amazon "mayoritas komunitas Katolik dipimpin oleh perempuan".

Mereka mengkaji persoalan pentahbisan perempuan sebagai diakon, yang di Gereja Katolik posisinya setingkat di bawah pastor. Mereka diizinkan untuk merayakan pernikahan dan baptisme, tapi tidak memimpin Misa.

Para uskup juga menyerukan kepada Paus untuk menjadikan "aksi dan kebiasaan polusi serta penghancuran harmoni lingkungan" suatu "dosa ekologis", lansir AFP.

'Berhala' yang dianggap mengganggu sinode

Paus Fransiskus meminta maaf setelah patung suku pribumi Amazon dicuri dari sebuah gereja di Roma dan dibuang ke Sungai Tiber selama pertemuan.

Lima patung perempuan telanjang dan sedang hamil yang terbuat dari kayu diambil dari gereja pada hari Senin (27/10).

Hak atas foto AFP/Getty Images

Pelaku yang identitasnya belum diketahui – diyakini merupakan militan Katolik konservatif – menyebut patung-patung itu "berhala".

Mereka belakangan mengunggah sebuah video yang menunjukkan bagaimana patung yang disebut Pachamama itu dicuri dan kemudian dilemparkan ke sungai.

Pachamama adalah dewi yang dipuja komunitas masyarakat adat di Amazon.

Berita terkait