Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tewas dalam operasi militer AS, 'merintih, menangis' sebelum ledakkan bom rompi, kata Presiden Trump

Abu Bakr al-Baghdadi Hak atas foto Reuters
Image caption Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam video yang dirilis ISIS pada tanggal 29 April 2019.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan bahwa pemimpin kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, tewas dalam operasi militer yang dilakukan oleh pasukan khusus Amerika Serikat.

ISIS sejauh ini belum memberikan tanggapan atau konfirmasi atas peristiwa itu.

Dalam keterangan yang disampaikan pada Minggu (27/10), Trump mengatakan pasukan AS telah membawa keadilan bagi hal yang ia sebut sebagai pemimpin teroris nomer satu di dunia, dalam serangan pada Sabtu malam (26/10) di Suriah barat laut.

"Abu Bakar al-Baghdadi sudah tewas. Ia adalah pendiri dan pemimpin ISIS, organisasi teroris yang paling kejam dan keras di dunia. Amerika Serikat telah memburu Baghdadi selama bertahun-tahun. Menangkapnya atau membunuhnya menjadi prioritas keamanan nasional pemerintahan saya.

"Pasukan Operasi Khusus AS melancarkan serangan malam hari yang berbahaya dan berani di Suriah barat laut dan merampungkan misi secara sempurna. Personel AS benar-benar luar biasa - saya menyaksikan sebagian besar aksi mereka," kata Trump.

Hak atas foto Reuters
Image caption Menurut Presiden Trump, pemimpin ISIS sudah lama diincar oleh AS.

Ditambahkan oleh Trump, operasi militer itu tidak sampai menelan korban di pihak AS, tetapi sejumlah pengikut al-Baghdadi juga tewas, termasuk anggota keluarganya.

'Merintih, menangis...mati seperti anjing"

Menurut Trump, al-Baghdadi bersembunyi di dalam terowongan dan membawa serta tiga anaknya. Ia lantas dikejar oleh anjing serbu, dan kemudian meledakkan bom rompi yang dikenakannya.

"Ia tewas setelah berlari ke terowongan buntu, merintih, menangis dan menjerit sepanjang waktu," papar Presiden Trump.

Trump mengatakan al-Baghdadi "mati seperti anjing."

Pada bagian lain, Presiden Trump menyampaikan terima kasih kepada Rusia dengan mengatakan militer Rusia membuka wilayah udara yang dikendalikannya sehingga AS dapat melancarkan serangan.

Namun seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia membantah pernyataan Trump. Lebih lanjut juru bicara itu mengatakan kabar tentang tewasnya al-Baghdadi mungkin saja hanya berupa laporan keliru sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Bagaimanapun, pengumuman Presiden Trump ini dikeluarkan menyusul pemberitaan bahwa militer AS melaksanakan operasi terhadap Abu Bakar al-Baghdadi.

Presiden Trump sebelumnya membagikan sebuah twit yang samar-samar, mengatakan: "Satu hal yang sangat penting baru saja terjadi".

Beberapa pejabat yang dikutip secara anonim oleh berbagai media sebelumnya mengatakan pasukan AS menyasar pemimpin militan itu dalam serangan di barat laut Suriah pada hari Sabtu.

Hak atas foto AFP
Image caption Lokasi ini dilaporkan sebagai tempat operasi militer AS dalam memburu Abu Bakar al-Baghdadi.

Pemimpin ISIS itu sebelumnya pernah dilaporkan tewas, namun laporan tersebut keliru.

Siapakah Abu Bakar al-Baghdadi?

Sang pemimpin ISIS disebut-sebut sebagai orang paling dicari di seluruh dunia.

Pada bulan Oktober 2011, Amerika Serikat secara resmi menetapkan ia sebagai "teroris" dan menawarkan hadiah uang sebesar US$10 juta (Rp140 triliun) untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya atau kematiannya.

Hak atas foto AFP
Image caption Al-Baghdadi ketika menyampaikan pidato di Mosul, 2014.

Al-Baghdadi punya reputasi sebagai taktisi di medan perang yang sangat terorganisir dan bengis.

Ia dilahirkan di dekat Samarra, sebelah utara Baghdad, pada tahun 1971. Nama aslinya adalah Ibrahim Awad al-Badri.

Berbagai laporan menyebutkan ia menjadi imam di sebuah masjid di kota tersebut selama invasi yang dipimpin AS pada 2003.

Beberapa kalangan percaya bahwa ia sudah menjadi jihadis militan selama Saddam Hussein berkuasa. Yang lain menduga ia teradikalisasi selama empat tahun ditahan di Camp Bucca, fasilitas AS di Irak selatan tempat banyak komandan al-Qaida ditahan.

Ia muncul pada tahun 2010 sebagai pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu grup yang melebur dengan ISIS, dan menjadi terkenal dalam upaya merger dengan Front al-Nusra di Suriah.

ISIS merilis video seorang pria yang mengaku sebagai al-Baghdadi awal tahun ini. Sebelumnya, ia tidak pernah terlihat sejak 2014, ketika dari Mosul ia memproklamirkan pendirian "kekhalifahan" di wilayah Suriah dan Irak.

Bukan akhir dari ISIS?

Ali Fauzi, Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian, yang terlibat dalam program deradikalisasi bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengatakan yakin bahwa kematian Abu Bakar al-Baghdadi bukanlah akhir dari ISIS.

"Pergerakan ini bukan pergerakan individu, ini pergerakan organisasi. Slogan-slogan mereka itu gugur satu tumbuh seribu," ujarnya.

Ali memperkirakan dalam bahwa waktu dekat kelompok militan tersebut akan mengumumkan siapa pengganti al-Baghdadi.

Ali juga mengkhawatirkan bahwa kematian al-Baghdadi akan menginspirasi para pendukungnya di berbagai belahan dunia untuk melancarkan aksi seperti yang dilakukan pemimpin mereka di Idlib, Suriah dengan meledakkan bom rompi.

Khusus di Indonesia, para tersangka teroris yang saat ini ada dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Densus 88 bisa jadi semakin nekat.

"Bisa jadi pengikutnya yang ada di mana-mana itu melakukan aksi bom rompi juga karena mengikut pimpinannya," kata Ali kepada wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah.

Tetapi menurut pengamat terorisme Al Chaidar, kematian al-Baghdadi akan sangat berpengaruh pada para pengikutnya yang ada di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pasalnya, setiap orang yang ingin menjadi bagian dari ISIS melakukan baiat secara personal kepada al-Baghdadi.

"Nah seandainya Abu Bakar al-Baghdadi ini sudah tewas maka mereka tak bisa lagi melakukan baiat itu. Dan baiat itu harus diubah sampai ada pemimpin baru yang ditunjuk, dan untuk menunjuk pemimpin baru itu tidak mudah," kata Al Chaidar.

Al Chaidar memperkirakan akan ada pemimpin-pemimpin faksi yang masing-masing mengklaim dirinya berhak untuk menjadi penerus Abu Bakar al-Baghdadi.

Dosen di Universitas Malikussaleh itu menambahkan, faksi ISIS yang paling kuat untuk meneruskan kepemimpinan al-Baghdadi ada di Mindanao, Filipina selatan. Itu berarti ada potensi kebangkitan ISIS di Asia Tenggara, meski dalam keadaan terseok-seok.

Khusus di Indonesia, Al Chaidar menduga jumlah pendukung ISIS bakal turun drastis, sebagian beralih ke kelompok jihad lain - tapi ini agak sulit.

"Karena mereka sudah gontok-gontokan dengan pengikut al-Qaida. Mereka sudah saling mengkafir-kafirkan di antara mereka sendiri.

"Posisinya kelompok-kelompok ini, kalau dikejar oleh pemerintah maka tidak ada lagi kelompok-kelompok jihadis yang akan membela mereka."

Kelompok jihadis di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS antara lain Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Ali Kalora. Sedangkan yang berafiliasi dengan al-Qaida misalnya Jamaah Islamiyah, Darul Islam, Jamaah Ansharut Tauhid.

Topik terkait

Berita terkait