'Rumah-rumah penyiksaan' di Nigeria dengan kedok pesantren dan pusat rehabilitasi: 'Seperti neraka di bumi'

Perempuan termasuk di antara mereka yang diselamatkan dari pesantren. Hak atas foto Reuters
Image caption Perempuan termasuk di antara mereka yang diselamatkan dari pesantren.

Satu pesantren swasta di Daura, Nigeria Utara, termasuk satu dari sejumlah institusi yang digeledah pihak keamanan dalam satu bulan terakhir.

Para orang tua mengirimkan anak-anak mereka yang mengalami masalah, termasuk yang kecanduan obat bius dan melakukan kejahatan ringan ke pesantren yang juga dijadikan pusat rehabilitasi itu.

Tetapi penggeledahan yang dilakukan mengungkap bahwa pesantren itu ternyata "rumah-rumah penyiksaan", kata para pejabat.

Pesantren dan pusat rehabilitasi di Daura - daerah asal Presiden Muhammadu Buhari- ini terdiri dari dua gedung utama, satu di antaranya gedung bersih yang dibangun secara layak, tempat anak-anak diajarkan Alquran.

Di seberang gedung itu adalah tempat akomodasi - gedung satu lantai yang sudah rusak- terdiri dari lima atau enam sel gelap dengan jendela dan pintu berjeruji di seputarnya.

Image caption Anak-anak ditempatkan di asrama yang mirip dengan sel penjara.

Udara di asrama ini sangat pengap. Mantan pelajar mengatakan sekitar 40 anak ditempatkan di sel seluas tujuh meter persegi ini dengan dirantai.

Baju-baju kotor berserakan di lantai. Mereka yang pernah tinggal di situ sering dipaksa buang air kecil dan besar dengan kondisi dirantai, tempat yang sama untuk mereka makan dan tidur.

Mereka sering dibawa keluar untuk dipukul atau diperkosa oleh staf.

"Lokasi ini seperti neraka di bumi," kata Raibu Umar, yang pernah ditempatkan di situ.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kehidupan di "rumah penyiksaan" Nigeria

Sebanyak 67 anak laki-laki dan pria dibebaskan dari fasilitas itu. Polisi mengatakan ada sekitar 300 orang yang terdaftar di pesantren itu, namun banyak yang melarikan diri menyusul kerusuhan.

Dalam satu bulan terakhir, sekitar 600 orang ditemukan tinggal dengan kondisi yang sangat mengerikan: dirantai, kelaparan dan disiksa.

Temuan pertama pada akhir September lalu di kota Kaduna.

Setelah mendapatkan informasi dari seorang anggota keluarga pelajar yang ditempat di sana, polisi menemukan hampir 500 orang, termasuk anak-anak ditahan dalam kondisi mengenaskan.

Video-video menunjukkan pelajar yang dibebaskan terlihat sakit dan bingung dengan kaki dirantai dan tubuh penuh luka.

Hak atas foto AFP
Image caption Anak-anak yang diselamatkan di Kaduna dengan bekas pukulan.

Sebagian dari mereka ada yang tergantung dari atap gedung dan yang lainnya diikat kaki dan tangan di ban mobil.

Hafsat Baba, komisaris bantuan sosial Kaduna mengatakan kepada BBC saat itu pemerintah merencanakan untuk mengidentifikasi pesantren dan pusat rehabilitasi dan kemudian menutupnya.

Ia menambahkan mereka akan menuntut pemilik pesantren dan pusat rehabilitasi yang "ditemukan menyiksa anak atau menahan orang dengan situasi mengerikan seperti itu".

Sekitar pertengahan Oktober lalu, untuk pertama kalinya perempuan juga diselamatkan dari institusi lain di Kaduna.

Menurut Baba, temuan perempuan ini sangat jarang karena pesantren dan pusat rehabilitasi itu tidak menerima campuran laki dan perempuan.

Penggerebekan ke institusi-institusi seperti ini terus terjadi dan masyarakat Nigeria sangat marah. Namun temuan ini sebenarnya bukan rahasia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Polisi mengatakan mereka yang ditahan di Daura diperlakukan secara tidak manusiawi.

Jaafar Jaafar, dari media online Daily Nigerian, mengatakan orang tinggal di seputar mengetahui kondisi tersebut.

'Penyembuhan spiritual'

"Saya rasa orang yang tinggal di utara menyadari apa yang terjadi di sekolah-sekolah seperti itu, kita semua tahu mereka menyiksa anak-anak di sana," katanya.

Jaafar menambahkan ia juga menyadari ada sejumlah sekolah seperti itu pada 1980-an dan 1990-an.

"Orang percaya bahwa sekolah-sekolah seperti itu memiliki kekuatan spiritual untuk menyembuhkan. Mereka tidak khawatir bagaimana anak-anak mereka diperlakukan secara tidak manusiawi sepanjang anak-anak mereka mendapatkan pelajaran tentang Alquran dan direhabilitasi," tambahnya.

Namun sejumlah orang tua menyanggah mereka mengetahui anak-anak mereka disiska.

Menyusul penggrebekan di Kaduna bulan September lalu, Ibrahim Adamu, ayah salah seorang anak, mengatakan kepada kantor berita Reuters, "Bila saya mengetahui ini terjadi di sekolah itu, kami tidak akan mengirimkan anak kami ke sini. Kami mengirim mereka untuk belajar namun mereka menghadapi perlakukan seperti itu."

Menurut Sanusi Buba, komisaris polisi, para orang tua tidak bisa mengontak anak mereka saat berada di pesantren itu.

Bahkan bila mereka berkunjung, mereka tidak bisa begitu saja menjenguk tanpa didampingi.

Dengan gelombang penemuan ini, orang-orang di luar Nigeria utara juga mulai sadar akan kemungkinan adanya penyiksaan di insitutusi-institusi semacam ini.

Buba mengatakan tradisi orang di Nigeria utara untuk membawa anak-anak yang nakal ke pesantren dan juga pusat rehabilitasi "sudah lama terjadi dan tindakan seperti ini bisa saja semakin parah karena dampak dari penyiksaan itu".

Tetapi Buba menekankan "hukum negara ini tidak mengizinkan seseorang mendirikan pusat rehabilitasi dan menetapkan biaya".

Ketagihan obat bius

Bagian dari masalah kemungkinan adalah kurangnya fasilitas negara di Nigeraia utara.

Menurut data PBB, terdapat sekitar tiga juta pengguna obat bius di Nigeria utara pada 2017.

Hampir setengah juta dari mereka berada di negara bagian Katsina, yang memiliki dua pusat rehabilitasi, satu untuk pria dan satu untuk perempuan.

Hak atas foto Nigerian Police
Image caption Para pelajar dirantai, termasuk dengan pelek mobil.

Kurangnya fasilitas negara menyebabkan pesantren dan pusat rehabilitasi swasta menjadi alternatif terakhir para orang tua yang memiliki anak bermasalah.

Bahkan orang tua yang dapat mengirim anak mereka ke fasilitas negara mengatakan kondisinya tak jauh berbeda.

Tahun lalu, investigasi BBC mengungkap keadaan mengerikan di pusat rehabilitas negara di Kano, dengan pasien gangguan jiwa dirantai.

Gubernur Katsina Aminu Bello Masari mengatakan pusat rehabilitasi di daerahnya memiliki perlengkapan cukup untuk mereka yang menyalahgunakan obat bius atau gangguan mental.

Dengan adanya orang tua yang masih saja mengirimkan anaknya ke institusi seperti itu dengan alasan agama, tidak jelas apakah pemerintah memiliki kapasitas untuk menangani masalah ini.

Tanpa alternatif, para orang tua masih tetap mengirimkan anaknya ke pesantren dan pusat rehabilitasi seperti ini sebagai tempat menangani masalah anak-anak mereka.

Topik terkait

Sekitar BBC