DPR AS sebut Kesultanan Ottoman Turki lakukan "genosida" terhadap bangsa Armenia

Armenia Hak atas foto Getty Images
Image caption Pengungsi Armenia di sebuah kamp pada 1915 lampau.

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meloloskan sebuah resolusi yang secara resmi menyebut Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah melakukan "genosida" terhadap sekitar satu setengah juta orang Armenia seabad yang lalu.

Keputusan DPR AS ini dipandang Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, sebagai balasan atas invasi Turki ke Suriah utara baru-baru ini. Keputusan itu disebut sebagai "langkah politik yang tidak berarti".

Keputusan itu mengemuka di tengah Hari Nasional Turki dan diloloskannya undang-undang yang memberlakukan sanksi terhadap Turki atas serangan ke wilayah Suriah timur laut.

Sorakan dan tepuk tangan terdengar ketika hasil pemungutan suara di DPR AS diketahui.

Sebanyak 405 mendukung—dan 11 lainnya menolak—keputusan yang "menegaskan catatan Amerika Serikat" mengenai Genosida Armenia".

Hak atas foto AFP
Image caption Perdebatan berlangsung selama berpuluh tahun mengenai kematian warga Armenia pada 1915-1916.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, mengatakan dirinya merasa terhormat bisa "mengenang secara khusyuk salah satu kekejian terbesar pada abad ke-20: pembunuhan sistematis terhadap lebih dari 1,5 juta pria, perempuan, dan anak-anak Armenia oleh Kesultanan Ottoman."

Armenia berpendirian bahwa pembunuhan massal rakyatnya pada 1915-1916 setara dengan tindakan genosida—klaim yang diakui sekitar 30 negara.

Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, menyanjung langkah DPR AS.

Dia mencuit bahwa tindakan tersebut adalah "langkah berani dalam berbuat kebenaran dan keadilan sejarah yang menawarkan kenyamanan bagi jutaan keturunan penyintas Genosida Armenia."

Bagaimana reaksi Turki?

Akan tetapi, Turki membantah tudingan Kesultanan Ottoman melakukan tindak genosida.

Turki menegaskan baik warga Armenia maupun Turki tewas akibat Perang Dunia Pertama. Kematian dalam perang itu mencapai ratusan ribu orang.

Ankara kemudian menyebut langkah DPR AS sebagai "langkah politik yang tidak berarti" seraya memperingatkan AS pada risiko merusak hubungan "pada saat yang sangat rapuh" bagi keamanan internasional serta regional.

"Kami meyakini warga Amerika yang menjadi teman Turki, yang mendukung kelanjutan aliansi dan hubungan perkawanan, akan mempertanyakan kesalahan besar ini dan mereka yang bertanggung jawab akan dihakimi oleh nurani rakyat Amerika," sebut pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Apa yang terjadi?

Ada kesepakatan umum bahwa ratusan ribu orang Armenia tewas ketika Kesultanan Ottoman mendeportasi mereka secara massal dari kawasan Anatolia ke gurun Suriah dan tempat lainnya pada 1915-1916. Mereka tewas dibunuh atau meninggal dunia akibat kelaparan atau penyakit.

Jumlah orang Armenia yang tewas masih diperdebatkan. Armenia mengatakan sebanyak 1,5 juta orang tewas. Adapun Turki memperkirakan jumlahnya 300.000 orang. Menurut Asosiasi Akademisi Genosida Internasional (IAGS), jumlah kematian "lebih dari sejuta" jiwa.

Perdebatan apakah itu tindak genosida atau bukan berpusat pada perencanaan—seberapa besar kemungkinan pembunuhan itu disengaja dan direncanakan.

Banyak sejarawan, pemerintah, dan rakyat Armenia meyakini pembunuhan itu disengaja, tapi sejumlah akademisi mempertanyakannya.

Sejumlah pejabat Turki menerima kenyataan bahwa beberapa tindak kekejian memang dilakukan, tapi tidak ada upaya sistematis untuk memusnahkan umat Kristen Armenia.

Turki menegaskan banyak umat Muslim Turki yang tidak berdosa juga tewas dalam perang.

Topik terkait

Berita terkait