Hong Kong: Mengapa ratusan demonstran masih bertahan di kampus, walau ada ultimatum polisi?

PolyU Hak atas foto Getty Images

Sekitar 200 orang demonstran anti-pemerintah masih bertahan di dalam kampus Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU), di tengah kepungan aparat kepolisian dan kebuntuan yang terus berlanjut hingga hari ketiga.

Mereka yang masih bertahan di dalam kampus PolyU dilaporkan kehabisan persediaan makanan dan minuman.

Para pendemo telah berada di dalam kampus sejak pekan lalu. Mereka berupaya menghalangi polisi untuk masuk dengan menyalakan api dan melemparkan bom molotov.

Pengunjuk rasa dewasa yang meninggalkan kampus kemudian ditahan, adapun lainnya memilih bertahan lantaran takut.

Hak atas foto AFP
Image caption Pengunjukrasa melarikan diri dari kampus dengan menggunakan tangga tali.

Pada Senin (18/11), ratusan pendemo berusaha melarikan diri dari kampus, tetapi banyak dari mereka diserang aparat dengan gas air mata dan peluru karet.

Keterangan resmi polisi menyebutkan bahwa ketika membubarkan unjuk rasa di kampus pada Senin (18/11), mereka menggunakan:

  • 1.458 tabung gas air mata
  • 1.391 peluru karet
  • 325 butiran gotri yang dibungkus bantalan kain
  • 265 peluru sepon

Sekelompok kecil pengunjuk rasa berhasil kabur dengan menggunakan tangga tali sebelum dijemput dan dilarikan oleh sejumlah pengendara sepeda motor.

Mereka yang ditangkap dapat didakwa dengan tuduhan melakukan kerusuhan, dan dapat diancam hukuman hingga 10 tahun penjara.

Hak atas foto Billy H.C. Kwok/Getty
Image caption Sebagian pengunjukrasa yang terluka ditolong tim medis untuk dirawat di rumah sakit.

Pada Minggu (17/11) malam, polisi memperingatkan pendemo bahwa mereka diberi tenggat waktu hingga pukul 22.00 waktu setempat untuk meninggalkan kampus.

Polisi kemudian berusaha memasuki dan mengepung kampus, yang kemudian disambut para pemrotes dengan melemparkan bom molotov dan lontaran batu kecil dari ketapel.

Kekerasan di kampus PolyU merupakan salah satu gejolak terbesar yang pernah terjadi di Hong Kong sejak aksi protes meletus Juni lalu.

Pada Selasa (19/11), kantor hak asasi manusia PBB mendesak pemerintah Hong Kong agar menurunkan eskalasi di kampus PolyU yang situasinya digambarkan "jelas memburuk".

Hak atas foto Billy H.C. Kwok/Getty
Image caption Mereka yang ditangkap dapat didakwa dengan tuduhan melakukan kerusuhan, dan dapat diancam hukuman hingga 10 tahun penjara.

Mereka menambahkan aksi kekerasan oleh sejumlah demonstran, termasuk terhadap polisi, "tidak dapat dimaafkan".

Para pemrotes yang didominasi kaum muda itu mengajukan lima tuntutan utama, termasuk penyelidikan atas tindakan kebrutalan polisi dan hak pilih universal.

Namun yang lebih mendasari aksi protes itu adalah semacam ketakutan bahwa identitas unik Hong Kong terancam oleh pemerintah China.

Ketegangan saat ini dapat terus meningkat setelah pemerintah China mengutuk keputusan pengadilan tinggi Hong Kong yang membatalkan pelarangan penggunaan masker wajah saat demo.

Hak atas foto Billy H.C. Kwok/Getty
Image caption Aparat kepolisian Hong Kong menangkap pengunjukrasa di kampus Politeknik.

Apa yang terjadi pada Selasa?

Diperkirakan 100 hingga 200 orang pengunjukrasa masih tetap bertahan di kampus PolyU, kata pihak berwenang.

Seorang pengunjuk rasa bernama Jeff mengatakan kepada BBC bahwa dia bersembunyi di salah-satu gedung di dalam kampus.

Hak atas foto Billy H.C. Kwok/Getty
Image caption Sejumlah pengunjukrasa telah meninggalkan kampus, beberapa diantaranya menderita hipotermia dan cedera kaki, menurut situs berita SCMP.

"Saya terperangkap di Universitas Politeknik selama dua hari dan saat ini saya kehabisan makanan dan air," katanya.

"Kebanyakan pendemo mencoba kabur dari tempat seperti neraka ini, kebanyakan mereka mencoba melarikan diri, tapi gagal, ditangkap atau terluka."

Dia mengatakan bahwa orang tuanya khawatir atas keselamatannya dan dia berusaha menenangkannya bahwa upaya mereka akan berhasil.

Namun ada seorang turis dari China daratan yang mengaku takut untuk meninggalkan kampus itu.

Dia mengatakan kepada BBC China bahwa dia ingin tahu apa yang terjadi di kampus itu. Dia mengaku tiba di kampus itu pada Minggu (17/11) setelah temannya yang kuliah di sana mengundangnya.

Hak atas foto Billy H.C. Kwok/Getty
Image caption Aparat kepolisian membersihakn puing-puing di pelataran kampus Politeknik setelah terjadi bentrokan antara pengunjukrasa dan aparat kepolisian.

Setelah mengunjungi perpustakaan dan makan, dia baru menyadari bahwa polisi telah menutup seluruh area kampus.

"Saya bukan perusuh," kata sang turis, yang ingin namanya tidak disebutkan. "Saya tidak ingin tertangkap dan saya hanya ingin kembali ke China."

Sejumlah pengunjukrasa telah meninggalkan kampus, beberapa diantaranya menderita hipotermia dan cedera kaki, menurut situs berita SCMP.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan dia memutuskan untuk meninggalkan kampus karena "kelaparan dan kedinginan", seraya menambahkan bahwa banyak pengunjukrasa di dalam kampus "terluka dan tanpa pasokan medis yang cukup".

Seorang pemrotes lainnya yang berusia 16 tahun mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ia memilih untuk "menyerah".

Hak atas foto NICOLAS ASFOURI/AFP
Image caption Mereka yang berusia di bawah 18 tahun dicatat identitasnya dan kemudian dilepaskan. Adapun pengunjukrasa yang masuk kategori dewasa ditangkap.

"Kita sudah berusaha melarikan diri sejak kemarin pagi. Tetapi kami tidak dapat menemukan jalan keluar (dan) takut dituntut," katanya. "Ini satu-satunya cara ...saya sangat frustasi."

Pada Selasa (19/11) dini hari, lebih dari 200 orang pelajar yang berusia di bawah 18 tahun telah meninggalkan kampus, dengan ditemani otoritas pendidikan, termasuk pimpinan sekolahnya.

Mereka yang berusia di bawah 18 tahun dicatat identitasnya dan kemudian dilepaskan. Adapun pengunjukrasa yang masuk kategori dewasa ditangkap.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, telah meminta semua pengunjukrasa agar menyerah, sambil mengatakan bahwa tidak akan ada kekerasan jika mereka "meninggalkan kampus dengan cara damai".

Namun, dia mengatakan polisi harus mengambil "tindakan yang diperlukan" apabila ada perubahan situasi. Secara terpisah pada hari Selasa (19/11) , kepala polisi baru Hong Kong mengambil kantor.

Sementara, Kepala Kepolisian Honh Kong, Chris Tang, mengatakan pasukannya tidak akan dapat mengakhiri unjuk rasa itu dengan cara sendirian. Menurutnya, kerusuhan hanya akan berakhir jika masyarakat mengutuknya.

Beberapa orang warga Hong Kong, secara sembunyi-sembunyi, menyatakan dukungan kepada geraka protes itu, dengan menyumbangkan bekal makanan kepada mereka atau menjemput mereka untuk menghindari penangkapan.

Topik terkait

Berita terkait