Aksi-aksi demonstrasi tahun ini: Mulai dari Chile, Hong Kong hingga Lebanon, apa yang akan terjadi kemudian?

Seorang pengunjuk rasa ditahan oleh polisi di Moskow pada bulan Agustus. Hak atas foto Getty Images
Image caption Seorang pengunjuk rasa ditahan oleh polisi di Moskow pada bulan Agustus.

Tidak berlebihan untuk mengatakan aksi demonstrasi melanda setiap benua pada tahun 2019, bahkan benua Antartika mengalaminya tahun ini.

Presiden yang telah memimpin dalam jangka waktu lama akhirnya lengser di Sudan, Algeria dan Bolivia. Aksi kekerasan yang terjadi di Iran, India dan Hong Kong berlanjut hingga akhir tahun dan terancam akan terus berlanjut hingga 2020.

Berikut ini adalah tiga gerakan aksi demonstrasi yang mendapatkan momentum pada 2019. Beberapa di antara mereka yang melakukan aksi menuturkan alasan mereka ikut berdemo dan apa dampak dari protes itu.

Lebanon

Apa yang terjadi?

  • Lebanon menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir dan hampir sepertiga penduduknya berada di bawah garis kemiskinan
  • Pada Oktober, nilai tukar mata uang Lebanon turun drastis dan tarif baru yang dikenakan terhadap tembakau, bansin dan panggilan telpon via aplikasi WhatsApp, menuai protes
  • Perdana Menteri Saad Hariri mengundurkan diri, namun aksi demonstrasi terus berlanjut dengan beberapa bentrokan terjadi pada Desember.

Mengapa saya melakukan aksi demonstrasi

Nour Myra Jeha, pelajar, 17 tahun

Saya dan teman-teman saya menginginkan sebuah gerakan terjadi, bahkan sebelum aksi demonstrasi ini terjadi. Kami memiliki masalah sosial dan ekonomi yang nyata di sini dan kami telah lama menginginkan orang-orang untuk menyadarinya dan bertindak.

Lebanon adalah sebuah negara dimana sektarianisme dan rivalisme atas nama agama terjadi, jadi sangat sulit untuk memulai sesuatu dari diri Anda sendiri. Jumlah kami hanya sedikit. Namun, dorongan muncul ketika pemerintah mengenakan tarif untuk panggilan via WhatsApp. Di Lebanon, WhatsApp digunakan oleh banyak orang yang tidak mampu melakukan panggilan telpon biasa.

Hak atas foto Nour Myra Jeha
Image caption Nour (tengah) ketika melakukan aksi di depan Kementerian Pendidikan Lebanon

Suatu hari, menteri pendidikan berada di sekitar lokasi demonstrasi, dan orang-orang mulai memprotes di sekitar mobilnya, dan petugas keamanannya keluar dari mobil dan mulai menembak [tidak ada yang terbunuh].

Saat itulah warga mengatakan sudah cukup. Orang-orang mulai memperhatikan apa yang sebenarnya dipikirkan para politisi tentang kita.

Keesokan harinya, saya dan teman-teman saya melakukan aksi. Kami mulai menyebutnya sebuah revolusi. Pada hari itu, Lebanon mengesampingkan masalah-masalahnya tentang agama.

Salah satu isu terbesar di Lebanon adalah bahwa semua sistem politik kami berdasarkan atas agama [Ada 18 komunitas agama di Lebanon dan tiga partai politik terbagi di antara tiga komunitas terbesar].

Hak atas foto Reuters
Image caption Ribuan orang turun ke jalan dipicu oleh rencana pemerintah memajaki WhatsApp call, tapi masalanya lebih dalam daripada itu.

Namun malam itu, semua warga Lebanon bersatu. Itu sesuatu yang sedikit mengejutkan. Kami menyadari generasi yang lebih tua ada juga di sana. Pada saat itulah kami tahu bahwa perubahan sedang terjadi.

Kami menginginkan sebuah pemerintahan yang terdiri dari para teknokrat dan bukan politisi, yang terus mengecewakan kami. Dan kami menghendaki kami bisa mengikuti pemilihan umum pada usia 18 tahun, bukan 21 tahun. Kami tidak berharap perubahan akan terjadi dalam waktu sebulan, dua bulan. Namun jika kami menyerah, semua kerja keras kami akan sia-sia.

Saya mendaftar pendidikan di luar neger. Sebelumnya, saya tidak tahu apakah saya akan kembali ke Lebanon, namun kini saya 100% percaya saya akan kembali. Saya ingin melihat bagaimana sebuah masyarakat dengan aturan yang lebih baik bekerja, belajar dari itu, dan kembali ke sini.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
"Saya merasa bangga menjadi orang Lebanon," ujar seorang pendemo di Beirut

Chile

Apa yang terjadi?

  • Demonstrasi dipicu oleh kenaikan tarif metro pada bulan Oktober, sebuah kebijakan yang kemudian direvisi
  • Kemudian berkembang menjadi aksi protes terhadap mahalnya biaya hidup dan ketidaksetaraan, menyebabkan sekitar satu juta orang melakukan aksi di SantiagoThey then
  • Sekitar 26 orang meninggal dunia dan PBB mengecam reaksi polisi dan militer dalam demonstrasi tersebut

Mengapa saya melakukan aksi demonstrasi

Daniela Benavides, guru bahasa Inggris, 38 tahun

Pada pekan pertama, ada aparat militer berjaga di jalan dan saya ingin melihatnya. Anda sering melihat polisi, namun aparat militer dengan senjata di genggaman mereka, itu adalah skenario yang berbeda.

Pada hari pertama, saya ikut demo karena saya ingin mengambil gambar. Saya bisa melihat banyak orang yang mengikuti aksi demonstrasi, menghadapi aparat militer karena begitulah sejarah negara kami [Chile dipimpin oleh diktator militer antara tahun 1973 hingga 1990].

Hak atas foto Daniela Benavides
Image caption Daniela (ketiga dari kanan) dan beberapa orang lain memerankan sebuah drama mengutuk kekerasan terhadap pendemo, beberapa di antara mereka menjadi buta karena tersambar peluru

Hari berikutnya, saya ikut lagi karena saya merasa saya perlu menjadi bagian dari ini, karena saya mendukung semua tuntutan, karena saya melihat ketidaksetaraan di tempat saya bekerja.

Kami perlu mengubah sistem ini. Banyak orang yang menderita. Setiap orang, setiap warga negara di negara manapun di dunia ini harus mendapatkan pendidikan, kesehatan, kondisi hidup yang layak dan pensiun.

Banyak siswa saya mengatakan bahwa ini adalah momen yang menyedihkan bagi mereka, namun mereka ingin berjuang. Mereka harus hidup dalam kondisi ini sepanjang hidupnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Demonstran di Chile menggunakan penutup mata untuk mengkritik penggunaan peluru karet oleh petugas keamanan yang telah menyebabkan lebih dari 200 orang mengalami cedera mata.

Mereka tahu bagaimana rasanya tidak memiliki uang membayar dokter yang memeriksa mereka atau jika mereka tidak mendapatkan beasiswa, tidak ada kemungkinan mereka untuk dapat melanjutkan studi.

Momen yang paling diingat adalah demonstrasi terbesar yang terjadi pada Jumat, 25 Oktober. Ada sekitar 1,2 juta orang. Anda bisa melihat banyak keluarga, siswa, anak-anak, semua orang ada di sana karena kami harus melakukan sesuatu dan menunjukkan kepada dunia bahwa tidak semuanya sempurna. Chile despertó - Chile bangkit.

Anda dapat melihatnya hari itu. Orang-orang bernyanyi dan berkumpul bersama. Itu benar-benar menakjubkan.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Demonstrasi bersejarah di Chila dilihat dari atas

Ketika saya melihat beberapa orang terluka akibat ulah polisi, saya matikan televisi. Itu keterlaluan. Itu bukan hal yang saya inginkan. Demi kesehatan mental, Anda perlu berhenti menonton hal-hal semacam ini.

Saya masih ikut demonstrasi namun setelah satu jam, dua jam, saya pergi. Kami perlu berhati-hati. Anda tidak tahu kapan Anda akan terkena peluru polisi atau bom molotov.

- wawancara oleh reporter BBC Monitoring Tom Garmeson

Hong Kong

Apa yang terjadi?

  • Demonstrasi mulai terjadi pada Juni terkait rancangan undang-undang ekstradisi ke China.
  • Rancangan undang-undang dibatalkan namun demonstrasi terus berlanjut, dengan para pendemo menyampaikan lima tuntutan utama mereka.
  • Sering kali, ratusan ribu orang turun ke jalanan Hong Kong. Aksi demonstrasi terus berlanjut hingga kini

Mengapa saya melakukan aksi demonstrasi

Helen*, 30 tahun

Saya berada di sana ketika demonstrasi Revolusi Payung terjadi pada 2014. Namun kali ini rasanya lain.

Banyak orang kecewa dengan Revolusi Payung pada 2014. Kali ini, kami merasa gerakan itu dibangkitkan lagi. Banyak orang yang saya temui mengatakan jika reformasi tidak terjadi, kami tidak akan berhasil dan kami harus menerimanya.

Tetapi cara orang diperlakukan jauh lebih brutal daripada sebelumnya - kami mendapat gas air mata ditembakkan kepada kami padahal kami tidak berada di dekat garis depan. Banyak orang yang marah.

Ada begitu banyak hal dalam enam bulan terakhir yang saya khawatirkan akan gagal dan sejak pemilihan distrik [ketika kelompok-kelompok pro-demokrasi mendapat keuntungan besar pada bulan November], semuanya menjadi tenang.

Hak atas foto EPA
Image caption Protes di Hong Kong berlangsung berbulan-bulan dan berubah menjadi bentrokan dengan kekerasan antara demonstran dengan polisi.

Tapi saya tidak berpikir itu akan berhenti begitu cepat. Anda terus mendengar berita tentang orang menghilang, orang ditangkap. Dan anak-anak muda adalah orang-orang yang masih melakukannya, yang luar biasa.

Ini adalah peristiwa traumatis sehingga baru sekarang, setelah saya meninggalkan Hong Kong, saya merasa sedikit lebih waras. Saya dibombardir oleh berita, dan saya memiliki grup di Telegram yang saya matikan notifikasiinya. Tapi setiap jam, saya memeriksa beritanya.

Saya cukup pesimis [tentang tuntutan yang dipenuhi]. Saya tidak berpikir kita akan mendapatkan hak pilih universal. China tidak akan pernah mengizinkannya. Tapi sebagian dari diri saya berharap beberapa tuntutan akan terpenuhi. Itu tidak akan pernah menjadi kemenangan penuh. Tapi kemenangan kecil juga penting.

*Nama asli tidak digunakan demi alasan keamanan

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Demonstrasi Hong Kong: "Saya tak lagi bisa mengucapkan saya cinta China lagi"

Berita terkait