CEO Boeing dipecat, tapi masih ada keraguan tentang keamanan 737 Max

Dennis Muilenburg Hak atas foto Getty Images
Image caption CEO Boeing yang dipecat, Dennis Muilenburg

Boeing memecat pemimpin eksekutifnya, Dennis Muilenburg, dalam upaya mengembalikan kepercayaan publik pada perusahaan itu menyusul dua kecelakaan fatal yang melibatkan pesawat terbang 737 Max — salah satunya di Indonesia.

Lebih dari 340 orang tewas dalam kecelakaan tersebut, menimbulkan tuduhan bahwa Boeing mengutamakan profit daripada keselamatan.

Keluarga korban menyambut pengunduran diri Muilenberg.

Namun mereka mengatakan keputusan Boeing untuk menggantinya dengan seorang anggota dewan memunculkan pertanyaan tentang komitmen perusahaan pembuat pesawat terbang itu akan perubahan.

Boeing menunjuk David Calhoun, yang telah menjadi anggota dewan perusahaan sejak 2009 dan saat ini merupakan ketuanya, sebagai pemimpin eksekutif dan presiden.

"Meskipun pengunduran diri Muilenburg adalah satu langkah ke arah yang benar, jelas bahwa Boeing Company perlu merombak tata kelola perusahaannya," kata Paul Njoroge, yang kehilangan istri, tiga anak, dan ibu mertuanya dalam kecelakaan penerbangan 302 Ethiopian Airlines jatuh pada bulan Maret.

Calhoun "bukan orang yang tepat untuk pekerjaan ini," ia menambahkan.

Zipporah Kuria, yang ayahnya juga tewas dalam kecelakaan Ethiopian Airlines, mengatakan Muilenburg seharusnya "sudah sejak lama" diganti tapi tanggung jawab atas kecelakaan-kecelakaan 737 Max tidak hanya berada di pundaknya.

"Saya merasa harusnya lebih banyak orang yang mengundurkan diri, termasuk orang yang menjadi CEO," kata perempuan itu kepada BBC.

Perubahan yang dianggap perlu

Boeing telah diawasi secara ketat sejak dua pesawat terbang 737 Max jatuh dalam selang lima bulan, pertama di Indonesia dan kemudian di Ethiopia.

Armada 737 Max telah dilarang terbang di seluruh dunia sejak bulan Maret.

Meskipun Boeing berharap bisa mengembalikan pesawat jet terlarisnya ke udara pada akhir tahun ini, regulator di AS menegaskan bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk kembali mengudara secepat itu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Lokasi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines penerbangan 302.

Pekan lalu, Boeing mengatakan mereka akan menghentikan produksi pesawat 737 Max.

Kemudian pada hari Jumat, reputasi perusahaan itu kembali mendapat pukulan ketika pesawat antariksa Starliner buatannya mengalami masalah teknis yang membuatnya tidak bisa mengikuti jalur yang benar menuju Stasiun Antariksa Internasional.

Dewan Boeing mengatakan mereka "telah memutuskan bahwa pergantian kepemimpinan adalah penting demi mengembalikan kepercayaan pada perusahaan di masa depan seiring mereka berusaha memperbaiki hubungan dengan regulator, pelanggan, dan semua pemangku kepentingan lainnya".

Calhoun, eksekutif ekuitas pribadi, akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan mulai 13 Januari.

Lawrence Kellner, anggota dewan sejak 2011, akan segera menjabat sebagai pemimpin non-eksekutif.

"Di bawah kepemimpinan baru perusahaan, Boeing akan beroperasi dengan komitmen baru akan transparansi penuh, termasuk komunikasi yang efektif dan proaktif dengan FAA [Federal Aviation Administration, badan pengawas penerbangan AS], regulator global lainnya, dan pelanggan," kata Boeing dalam sebuah pernyataan.

Meskipun Boeing telah melakukan pemecatan ini, sebagian pengkritiknya di Washington masih mempertanyakan komitmen perusahaan itu akan perubahan.

Senator Richard Bumenthal mengatakan: "Perusahaan membutuhkan kepemimpinan baru secara keseluruhan yang serius menangani keselamatan."

Michael Stumo, yang kehilangan putrinya dalam penerbangan Ethiopian Airlines dan mengorganisasikan keluarga korban untuk melawan Boeing, menyebut pengunduran diri Muilenberg "langkah pertama yang bagus untuk mengembalikan Boeing menjadi perusahaan yang berfokus pada keamanan dan inovasi".

"Langkah berikutnya adalah anggota dewan yang kinerjanya tidak baik atau tidak berkualifikasi harus mengundurkan diri," ujarnya.

'Masalah perangkat lunak'

Badan keselamatan udara yang menyelidiki tragedi 737 Max mengidentifikasi sistem kontrol otomatis dalam pesawat tersebut, yang dikenal sebagai MCAS, sebagai faktor dalam kedua kecelakaan.

Boeing mengatakan sistem perangkat lunak MCAS, yang hanya mengandalkan satu sensor, menerima data yang keliru, sehingga mengambil alih kendali pilot dan mendorong pesawat ke bawah.

Perusahaan itu mengatakan telah memperbaiki perangkat lunak tersebut dan memperbaiki prosedur peninjauannya.

Namun para anggota parlemen AS, yang menyelidiki Boeing, menyatakan perusahaan itu sadar bahwa sistem perangkat lunaknya bisa jadi tidak bisa diandalkan. Mereka menuduh Boeing berusaha menutup-nutupi risiko itu dan bergegas membuat pesawat kembali bekerja.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dennis Muilenburg sudah sejak lama diminta mengundurkan diri.

Anggota kongres Peter DeFazio, yang memimpin komite penyelidikan Boeing, telah meminta pengunduran diri Muilenburg dalam wawancara dengan surat kabar New York Times, yang diterbitkan akhir pekan lalu.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, ia mengatakan perombakan kepemimpinan ini "harusnya dilakukan sejak lama".

Muilenburg pertama kali bergabung dengan Boeing pada 1985. Ia memimpin divisi pertahanan, antariksa, dan keamanan sebelum diangkat menjadi pemimpin eksekutif pada 2015.

Ia dipecat dari jabatan ketua dewan direktur Boeing pada bulan Oktober, dan belakangan setuju untuk tidak mengambil bonus. Bagaimanapun, Boeing, termasuk Calhoun, terus menunjukkan kepercayaan kepadanya.

Analisis Theo Leggett, koresponden bisnis BBC

Kepergian Dennis Muilenburg adalah keniscayaan, meskipun waktunya tidak disangka-sangka.

Sejak dua kecelakaan 737 Max, ia menghadapi kritik keras mengenai budaya korporat di Boeing dalam kepemimpinannya, dan mengenai hubungan perusahaan itu dengan regulator.

Ada banyak pertanyaan tentang bagaimana pesawat terbang yang tampaknya cacat itu bisa diizinkan untuk digunakan, dan mengapa tetap dibiarkan terbang setelah kecelakaan pertama.

Ada juga klaim – yang dibantah oleh perusahaan – bahwa mereka memprioritaskan profit dan kecepatan produksi daripada keamanan.

Responnya terhadap krisis ini juga banyak dikritik. Meskipun ia bersikeras bahwa Boeing "mengakui" kegagalannya, ia juga berulang kali mengatakan bahwa kecelakaan merupakan hasil dari serangkaian peristiwa. Ini dipandang sebagian orang sebagai upaya mengalihkan kesalahan dari raksasa pesawat terbang itu.

Hal memalukan terakhir terjadi pekan lalu, ketika Boeing mengumumkan akan menghentikan sementara produksi 737 Max, karena regulator belum menetapkan pesawat tersebut aman untuk terbang kembali. Muilenburg telah menegaskan selama berbulan-bulan bahwa pesawat tersebut bakal kembali mengudara pada akhir tahun.

Ia telah kehilangan kredibilitas, dan dewan memutuskan bahwa ia harus pergi.

Berita terkait