Anak-anak di panti asuhan Ceausescu: Mereka 'dikurung di dalam kandang seperti hewan liar'

Anak-anak panti asuhan Ceausescu

Tiga puluh tahun sesudah revolusi di Rumania, sejarah kelam tentang "anak-anak Ceausescu" dan tragedi yang mereka alami, mengungkap satu pelajaran dalam sains tentang dampak kekejaman terhadap anak-anak.

Diperkirakan, terdapat lebih dari 20.000 orang anak meninggal dunia akibat kebijakan diktator Rumania di era 1980-an, Nicolae Ceausescu, yang ditembak mati pada 25 Desember 1989.

Di dalam panti asuhan, anak-anak ini dibariskan di dalam boks bayi.

Sekitar 20 tahun lalu, seorang ilmuwan Amerika Nathan Fox berkunjung ke sana.

Ia terkejut karena suasana sangat sepi. Ini tidak seperti biasanya terjadi di ruangan penuh bayi.

Bayi-bayi itu tidak menangis.

Belakangan Fox menemukan sebabnya: mereka diabaikan dan tidak diberi stimuli apapun.

"Tak terdengar tangis bayi sebagaimana di tempat perawatan bayi," kata profesor di Departmen Human Development di University of Maryland, Amerika Serikat kepada wartawan BBC Brasil Paula Adamo Idoeta.

"Kami menyimpulkan, ini terjadi karena tak ada yang menanggapi tangisan mereka. Tak ada interaksi yang biasanya terjadi antara ibu dan anak, atau antara perawat dan anak. Tak ada yang menanggapi ketika mereka menangis," kenangnya.

Gambaran 20 tahun lalu itu terjadi di panti asuhan di Bukares, ibu kota Rumania.

Tragedi ini kemudian mengarah pada kajian tentang pengabaian terhadap bayi, dan dampaknya terhadap otak, serta gejala yang terbawa hingga mereka dewasa.

Namun bagi anak-anak yang berhasil bertahan hidup, mereka termasuk yang beruntung.

Ketika tahun 1989 diktator Nicolae Ceausescu ditembak, sekitar 20.000 orang anak-anak meninggal di panti asuhan di Rumania.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Revolusi menentang Ceausescu dimulai pada tanggal 22 Desember 1989.

Sekitar 30 tahun sesudah kejatuhan Ceausescu, tak ada yang diadili untuk perbuatan jahat dan kematian yang mengerikan dalam institusi buatan rezim Komunis Rumania ini.

Namun keadaan bisa berubah pada 2020.

Setelah kajian panjang, Institute for the Investigation of Communist Crimes, lembaga negara yang menyelidiki kejahatan di masa komunisme di Rumania, mulai menyelidiki puluhan orang yang langsung maupun tidak, bertanggung jawab terhadap kasus "anak yatim Ceausescu".

Kasus ini akan masuk ke pengadilan di tahun 2020.

Namun apa sesungguhnya yang terjadi?

Berakhirnya rezim totaliter

Natal 30 tahun lalu, Rumania menggulingkan seorang diktator. Ceausescu yang memerintah nyaris seperempat abad mulai mendapat protes yang berpuncak pada 22 Desember 1989 ketika militer tak lagi patuh padanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ceausescu dan istrinya, Elena, ditembak mati oleh regu tembak tanggal 25 Desember 1989.

Diktator dan istrinya ini ditangkap, dan pada 25 Desember mereka diadili di pengadilan khusus militer lalu ditembak mati.

Terkuaklah sebuah rahasia gelap pemerintahannya.

Ceausescu punya kebijakan kontroversial untuk meningkatkan angka kelahiran yang rendah.

Pasangan didorong untuk punya sebanyak mungkin anak untuk memperkuat lagi ekonomi nasional.

Image caption Anak-anak ini dikurung di dalam kandang seperti hewan liar.

Tahun 1960, Ceausescu mulai menerapkan aturan membatasi aborsi dan akses terhadap alat kontrasepsi.

"Barang siapa yang menolak punya anak dianggap mengkhianati undang-undang keberlanjutan nasional," kata sang diktator.

Dokumen sejarah memperlihatkan bahwa sebuah aturan dibuat untuk mengendalikan kehidupan reproduksi perempuan.

Dibentuk "polisi menstruasi" yang mewajibkan perempuan menjalani tes kandungan di tempat kerja untuk mengawasi kehamilan mereka.

Pasangan yang tak punya anak harus membayar pajak tambahan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Foto tahun 1990 ini memperlihatkan anak-anak di panti asuhan di kota Buchea. Sesudah kejatuhan Ceausescu, keadaan belum banyak berubah bagi mereka.

"Ceausescu ingin meningkatkan populasi di atas 50% dalam satu dekade," kata Florin Iepan kepada BBC tahun 2005, yang memproduksi dokumenter "Children of the Decree".

Pada dekade 1970-an dan 80-an, jumlah anak-anak dalam perawatan negara meningkat. Lebih dari 100.000 berada di panti asuhan.

Angka pertumbuhan di Rumania tumbuh pesat. tapi dengan efek samping serius: peningkatan kematian ibu dan anak. Selain itu peningkatan jumlah anak yang diabaikan di rumah-rumah panti asuhan.

Perlakukan sangat brutal

Seiring penurunan rezim Ceausescu kondisi di tempat penampungan ini juga memburuk. Anak-anak mulai dikasari. Mereka tak diberi makan dengan layak, dan kondisi kebersihan juga buruk.

Menurut beberapa penyintas, mereka "diperlakukan seperti hewan liar yang dikurung".

Tahun 2005, BBC bicara dengan seorang guru Inggris Monica McDaid, yang pada tahun 1990 mengunjungi Siret's Spitalul of Copii Neuropsihici, rumah sakit perawatan mental di kota Siret, Rumania.

"Yang kulihat sangat mengerikan," kata McDaid.

Image caption Di rumah panti asuhan itu tidak ada fasilitas kesehatan dan toilet, anak-anak juga menerima siksaan fisik dan seksual terus menerus.

Ada tiga atau empat bayi terbaring di tempat tidur dan staf yang jumlahnya sedikit tak bisa memberi perhatian pada mereka.

Tak ada obat-obatan dan toilet. Siksaan fisik dan seksual terus menerus dilakukan.

Mereka juga menghabiskan waktu tanpa interaksi dengan orang dewasa.

Tidak bermain atau bicara. Hanya memandang dinding atau berbaring sendiri di boks bayi mereka.

Banyak dari mereka yang mengalami masalah gangguan kejiwaan.

Menurut dokumen ketika itu, yang terburuk terjadi di panti asuhan untuk anak difabel, yang diambil dari orang tuanya untuk dirawat negara.

Pada usia tiga tahun, anak-anak ini dikelompokkan jadi tiga kategori: "bisa disembuhkan", "bisa disembuhkan sebagian" dan "tak bisa disembuhkan".

Berdasarkan ini, perlakuan terhadap mereka sangat brutal.

"Anak-anak ini tidak dirawat. Mereka hidup dalam ruang yang gelap dan kotor. Kotoran manusia di mana-mana. Mereka butuh perawatan, tapi malah mendapat yang terburuk," kata sebuah laporan BBC tahun 1990 tentang panti asuhan di Rumania.

Penemuan

Dengan kejatuhan Ceausescu dan liputan media, nasib malang puluhan ribu anak ini diketahui umum.

Sepanjang dekade 1990-an, beberapa anak diadopsi oleh keluarga asing, terutama dari Inggris, Kanada dan Amerika Serikat.

Beberapa tetap tinggal di tempat penampungan, karena tak ada pilihan bagi mereka.

Image caption Sejumlah anak mengayun tubuh ke kanan dan kiri. Karena tak ada interaksi sosial, itu yang mereka lakukan untuk menghindar kebosanan.

Nathan Fox dan rekan-rekannya sesama ilmuwan dipanggil oleh pemerintah baru Rumania di tahun 2001 untuk menilai dampak tempat penampungan seperti ini terhadap anak-anak yang hidup di sana.

Hal ini dilakukan untuk mencari cara penanganan sebaik mungkin.

Saat itu, kajian ilmiah memperlihatkan pengabaian yang dialami anak-anak ini mempengaruhi perkembangan dan perilaku mereka.

Namun karena anak-anak tak bisa ditempatkan dalam situasi riset itu, sulit untuk dipastikan hubungan antara pengabaian dan perkembangan anak-anak, kata Fox.

Image caption Mereka hidup di ruang gelap dan kotor, dan kotoran manusia ada di mana-mana, menurut laporan BBC tahun 1990.

"Kami dapat memeriksa dampak kondisi ini terhadap otak dan bahwa stimulasi atau interaksi sangat penting dalam pembentukan otak. Dan bila tidak ada perubahan terhadap anak-anak ini, dampak ini akan terjadi seumur hidup dan menjadi beban bagi masyarakat," tambahnya.

Dalam prakteknya, menurut pakar ilmu saraf, sejak hari pertama hidup, anak-anak perlu berinteraksi dengan orang dewasa sebagai "asupan gizi" bagi otak.

Bila anak-anak mengalami kekerasan, masalah sosial dan ekonomi parah, diabaikan atau ditelantarkan, maka kondisi stres ini mencegah otak membentuk koneksi sarah dan menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam belajar dan bertingkah laku.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sesudah Revolusi Desember, kegelapan warisan Ceausescu mulai diketahui dunia.

Dalam studi yang diterbitkan pada 2003 dan 2004, Fox dan koleganya menganalisa kondisi elektro otak anak-anak Rumania dia tempat-tempat penampungan dan membandingkan tes ini dengan anak yang tinggal dengan keluarga.

Mereka yang mengalami kondisi ekstrem di penampungan memiliki kondisi otak yang berbeda dengan anak-anak biasa.

Anak-anak yang diadopsi lebih beruntung. Fox dan mitra ilmuwannya menemukan bahwa anak-anak yang diadopsi memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak dapat meninggalkan tempat penampungan di Rumania.

Bagi anak-anak yang bertahan kondisi parah itu, jejak masa kecil mereka masih sangat mereka rasakan.

Banyak yang hanya bisa berharap bahwa akan ada keadilan atas tragedi yang menodai hidup mereka.