'Akankah ini memicu Perang Dunia III?' Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda tentang kematian Qasem Soleimani

Iranians in Tehran demonstrate against Gen Soleimani's killing and burn US flag Hak atas foto AFP
Image caption Iranians in Tehran demonstrate against Gen Soleimani's killing

Amerika Serikat menewaskan komandan tinggi militer Iran Qasem Soleimani dalam serangan udara di Irak pada hari Jumat (03/01).

Soleimani membuka jalan bagi operasi militer di Timur Tengah, dan pembunuhannya menandai eskalasi besar dalam ketegangan antara Washington dan Tehran.

Koresponden pertahanan dan diplomatik Jonathan Marcus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin Anda punya terkait arti aksi ini.


Seberapa besar kemungkinan ini memicu Perang Dunia III?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Qasem Soleimani memimpin Pasukan Iranian Quds.

Meskipun beberapa orang menyebut pembunuhan Soleimani sebagai "deklarasi perang" dari Amerika Serikat terhadap Iran, penting untuk tidak melebih-lebihkan atau meremehkan signifikansi momen ini.

Ini tidak akan memicu Perang Dunia Tiga. Aktor kunci yang bisa terlibat dalam konflik seperti itu, misalnya Rusia dan China, tidak menjadi pemain penting dalam drama ini.

Tapi ini bisa menjadi momen yang menentukan bagi Timur Tengah dan bagi peran Washington di dalamnya. Serangan balasan dari Iran bisa terjadi, dan ini bisa mengakibatkan siklus aksi dan reaksi yang membawa kedua negara mendekati konflik habis-habisan.

Respon Iran bisa mengarah pada kepentingan militer AS di kawasan, tapi bisa juga pada target lain terkait AS yang menurut Iran rentan.

Apakah legal untuk membunuh seseorang seperti ini, berdasarkan hukum internasional?

Hak atas foto EPA
Image caption Qasem Soleimani tewas dalam serangan udara di dekat bandara Baghdad.

AS akan berargumen bahwa Soleimani bertanggung jawab atas serangan tanpa alasan terhadap pasukan Amerika di Irak. Pasukan tersebut ditempatkan di sana atas permintaan pemerintah Irak.

Soleimani adalah pria yang dipercaya Washington telah menewaskan banyak personel militer AS. Sementara organisasi Quds yang ia pimpin dipandang AS sebagai organisasi teroris. Jadi pembunuhannya bisa mengikuti narasi legal AS.

Namun pakar hukum internasional ternama, Profesor Mary Ellen O'Connell dari Sekolah Hukum Notre Dame, punya pandangan ini tentang implikasi hukumnya:

"Serangan pendahuluan atas nama membela diri tidak bisa menjadi pembenaran legal atas pembunuhan. Tidak ada yang bisa. Hukum yang relevan adalah Piagam PBB, yang mendefinisikan pembelaan diri sebagai hak untuk merespon serangan bersenjata yang aktual dan signifikan," ujarnya.

"Penggunan dron untuk membunuh jenderal Iran Qasem Soleimani di Baghdad bukan merupakan respon terhadap serangan bersenjata terhadap AS. Iran tidak menyerang wilayah kedaulatan AS."

"Dalam kasus ini, AS tidak hanya telah melakukan pembunuhan di luar proses hukum, mereka telah melancarkan serangan yang melanggar hukum di dalam Irak."

Apa sikap PBB atas pembunuhan ini?

Hak atas foto Reuters
Image caption Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta para pemimpin negara untuk 'sangat menahan diri'.

Selain pandangan yang dinyatakan para perwakilan secara individu, sulit mengatakan apa pandangan PBB atas perkara ini, karena sebenarnya tidak ada yang semacam itu.

Apakah yang dimaksud, misalnya, adalah pandangan Dewan Keamanan PBB? Mereka kemungkinan akan terpecah belah dan tidak bisa mencapai konsensus.

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengatakan ia sangat khawatir akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

"Ini momen saat para pemimpin negara harus sangat menahan diri. Dunia tidak bisa bertahan jika terjadi perang lagi di Teluk," kata juru bicaranya, Farhan Haq, dalam sebuah pernyataan.

Apakah serangan ini diperintahkan untuk mengalihkan Presiden Trump dari sidang pemakzulan?

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Trump: Kami bertindak untuk menghentikan, bukan untuk memulai perang.

Gampang untuk membuat tudingan seperti ini tapi, meskipun pertimbangan politik domestik selalu penting – apalagi selama tahun pemilu bagi Presiden Trump – keputusan ini merupakan produk dari dua faktor: kesempatan dan situasi.

Konteksnya tampaknya serangan yang semakin besar terhadap fasilitas AS di Irak, beserta pernyataan samar-samar dari Pentagon tentang rencana serangan di masa depan.

Dan kesempatannya muncul sendiri – demonstrasi akan keakuratan dan jangkauan intelijen AS – yang, meskipun jauh dari sempurna, adalah faktor yang perlu diperhitungkan oleh Iran dalam menentukan respon.

Dalam tahun pemilu, perhatian utama Presiden Trump adalah mencegah kehilangan nyawa warga AS di kawasan.

Serangan dramatis ini tampak di luar karakter bagi presiden yang, meskipun suka sesumbar, telah dikenal dengan kehati-hatian luar biasa dalam mengambil langkah.

Adakah bahaya Iran memilih respon nuklir? Apakah mereka punya kapabilitas nuklir?

Hak atas foto EPA
Image caption Presiden Iran Hassan Rouhani (kanan) mengancam akan memulai kembali pengayaan uranium jika sanksi berlanjut.

Tidak. Iran tidak memiliki program senjata nuklir, meskipun mereka masih punya banyak elemen yang mendukung program seperti itu serta pengetahuan tentang cara menjalankannya.

Iran selalu bersikeras bahwa mereka tidak menginginkan bom nuklir.

Tapi Iran telah menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi mematuhi batasan-batasan yang diterapkan oleh kesepakatan nuklir 2015. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengatakan tidak akan lagi membatasi kapasitas untuk pengayaan uranium, tingkat pengayaan, stok bahan-bahan yang diperkaya, atau penelitian dan pengembangan.

Pengumuman ini menyusul pertemuan kabinet Iran di Tehran.

Pemerintahan Trump telah lebih dulu mengabaikan kesepakatan JCPOA atau kesepakatan nuklir Iran — langkah yang dinilai banyak analis sebagai langkah gegabah.

Apa yang dilakukan Jenderal Soleimani di Irak? Apa kata pemerintah Irak tentang perkara ini?

Hak atas foto Reuters
Image caption Qassem Soleimani (kiri) dalam operasi ofensif melawan militan ISIS pada 2015.

Tidak jelas apa tepatnya urusan sang jenderal di Irak. Tapi Iran menyokong berbagai kelompok milisi Syiah yang berpengaruh di sana dan orang yang terbunuh bersamanya, Abu Mahdi al-Muhandis — adalah pemimpin Kataib Hizbullah (kelompok yang disebut bertanggung jawab atas serangan roket di pangkalan AS baru-baru ini) dan komandan deputi koalisi milisi pro-Iran di Irak.

Pemerintah Irak telah berada dalam posisi yang sangat sulit, terutama karena serangan itu terjadi di wilayahnya. Negara ini adalah sekutu baik Iran dan AS, dan pasukan AS bertahan di Irak untuk membantu dalam perjuangan yang lebih luas melawan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Pihak berwenang Irak sudah dipermalukan dengan serangan milisi terhadap pangkalan yang menampung fasilitas AS. Pemerintah Irak mengecam serangan balasan AS baru-baru ini terhadap kelompok milisi ini sambil bersikeras kepada Amerika bahwa mereka akan berbuat lebih banyak untuk melindungi pangkalan.

Kantor perdana menteri Irak mengecam pembunuhan Soleimani, dan menyebut ia serta pemimpin milisi yang tewas bersamanya sebagai "martir" di balik "kemenangan besar melawan IS". Pemerintah Irak juga menegaskan bahwa AS bertindak jauh melampaui ketentuan perjanjian yang mengatur operasinya di negara tersebut.

Apa peran AS dan Iran di Irak?

Hak atas foto EPA
Image caption Soleimani disebut dekat dengan pemimpin besar Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Iran adalah sekutu dekat dari pemerintah Irak yang dipimpin kelompok Syiah. Iran juga merupakan pemain penting di negara tersebut dengan sendirinya, bekerja melalui kelompok-kelompok milisi yang disebutkan di atas. AS menempatkan sekitar 5000 pasukan di Irak, melatih dan membimbing militer Irak dalam upaya mengalahkan sisa-sisa elemen ISIS.

Pada dasarnya dua pemain asing ini - AS dan Iran - telah saling bermanuver terhadap satu sama lain di Irak.

Pertanyaan besarnya sekarang ialah akankah datang suatu momen krisis yang membuat keberadaan AS di Irak tidak bisa dilanjutkan?

Berita terkait