Konflik Iran-AS: Siapa yang kalah dan siapa yang menang?

Iran, warga, jenderal Soleimani Hak atas foto NURPHOTO
Image caption Warga Iran turut dalam demonstrasi menentang AS menyusul pembunuhan Qasem Soleimani.

Pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat dan serangan pembalasan Iran dengan rudal ke pangkalan AS semakin meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya perang yang berdampak luas.

Siapa yang kalah atau menang dalam krisis ini dapat berubah dengan cepat tergantung apa yang akan dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Jadi, siapa saja yang menang dan siapa yang kalah?

Iran

Meskipun kehilangan seorang pemimpin militer yang berpengaruh, kematian Qasem Soleimani dapat menguntungkan Iran untuk jangka pendek.

Kematian sang jenderal, dan prosesi pemakaman yang begitu masif, memungkinkan Teheran mengalihkan perhatian publik dari penumpasan terhadap protes-protes sehubungan dengan kenaikan harga minyak pada November 2019.

Iran mempunyai kesempatan menunjukkan kemampuan bersatu pada saat krisis, mempersatukan elite politik yang selama ini terpecah belah.

Iran mengalami tekanan ekonomi akibat dari sanksi-sanksi AS terbaru setelah Presiden Trump menarik negara itu dari perjanjian nuklir Iran tahun 2018.

Tahun lalu, terjadi eskalasi setelah Iran menembak jatuh drone AS dan menahan kapal-kapal pengangkut kargo.

Iran telah membalas serangan AS dengan rudal. Sasarannya adalah pasukan AS di Irak. Iran mungkin saja diuntungkan jika mengulur-ulur waktu pembalasan lanjutan dan sebaliknya terus memainkan simpati publik dan keresahan tentang apa yang akan terjadi.

Kendati demikian, jika Iran mengambil tindakan lagi, negara itu mungkin tidak lagi dianggap sebagai pihak yang menang.

Amerika Serikat

Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump mungkin saja telah berhasil melukai kekuatan militer Iran. Pada saat bersamaan, peristiwa ini bisa jadi meningkatkan peluang Trump untuk dipilih lagi dalam pemilihan presiden November mendatang.

Krisis ini juga telah memberikan pesan solidaritas dan kekuatan kepada sekutu-sekutunya Israel dan Arab Saudi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Presiden Trump mengatakan Iran tampak "mundur" setelah melancarkan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak.

Namun jika situasi ini terseret ke aksi saling balas maka hal itu dapat mendongkrak harga minyak, menyebabkan kematian lebih banyak di pihak AS, dan memicu perang regional jangka panjang.

Hal tersebut berpotensi menimbulkan dampak bagi banyak negara di Timur Tengah dan kawasan-kawasan lain.

Pasukan Syiah di Irak

Untuk jangka pendek, milisi Syiah dukungan Iran di Irak dapat mengambil keuntungan dari krisis yang terjadi.

Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah Irak telah menjadi sasaran dari aksi protes karena pengaruh Iran di negara itu, selain keluhan soal tata kelola yang buruk dan korupsi.

Hak atas foto Reuters
Image caption Demonstrasi baru-baru ini di Irak diwakili berbagai unsur masyarakat di negara itu.

Milisi-milisi tersebut - dan kekuatan-kekuatan politik lainnya- memanfaatkan kematian Jenderal Qasem Soleimani untuk mendapatkan kembali pengaruh yang sempat hilang dan melegitimasi perlunya mereka tetap berada di negara itu.

Janji untuk mengusir pasukan AS dari Irak telah lama disuarakan oleh kelompok-kelompok tersebut.

Penarikan pasukan AS juga membuat kevakuman keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaida dan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Israel

Iran dan Israel sudah lama bermusuhan karena kepentingan mereka masing-masing di Timur Tengah, dan juga karena tekad Iran untuk membinasakan negara Israel.

Dari sudut pandang Israel, sekarang tetap ada banyak ancaman, di antaranya dukungan Iran terhadap musuh-musuh Israel seperti kelompok Hezbollah di Libanon dan Presiden Suriah, Presiden Bashar al-Assad.

Namun, kematian Soleimani benar-benar menunjukkan niat AS untuk mengekang Iran.

Di Israel, langkah itu kemungkinan besar akan dianggap sebagai tindakan positif yang akan menguntungkan kepentingan keamanannya melawan Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi sulit.

Kedua negara mengalami dampak langsung dari serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan serangan di dua fasilitas perminyakan Arab Saudi. Serangan itu diyakini dilakukan oleh Iran atau kelompok-kelompok dukungan Iran. Iran sendiri mengatakan tidak terlibat.

Hak atas foto Reuters
Image caption AS menuduh Iran berada di balik sejumlah serangan terhadap kapal pengangkut minyak tahun lalu.

Sejak pembunuhan Soleimani, kedua negara menyerukan agar pihak-pihak terkait tetap tenang dan menyerukan de-eskalasi. Arab Saudi mengirimkan menteri pertahanannya ke Washington untuk berundingan dengan pemerintah AS.

Kedekatan geografis kedua negara dengan Iran dan sejarah ketegangan yang mereka alami membuat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab rentan terhadap kemungkinan serangan Iran.

Berita terkait