Harta 2.153 orang-orang terkaya di dunia pada 2019 setara dengan apa yang dimiliki 4,6 miliar warga miskin

Perkampungan warga berpenghasilan rendah di Manila Hak atas foto Reuters
Image caption Perkampungan warga berpenghasilan rendah di Manila, Filipina.

Harta 2.153 orang-orang terkaya di dunia pada 2019 setara dengan apa yang dimiliki 4,6 miliar warga miskin, demikian menurut laporan terbaru lembaga bantuan Oxfam, yang dikeluarkan hari Senin (20/01).

Dalam laporan yang diberi judul "Saatnya untuk Peduli" ini, Oxfam mengatakan ketimpangan ekonomi semakin tidak terkendali.

Dua puluh dua orang terkaya di dunia memiliki aset lebih banyak dibandingkan kekayaan seluruh perempuan di Afrika.

Kekayaan yang ekstrem ini, kata Oxfam, diperoleh ketika dunia juga menghadapi masalah kemiskinan.

Perkiraan baru Bank Dunia menunjukkan hampir setengah penduduk dunia hidup dengan US$5,5 per hari.

Dikatakan pula, sistem ekonomi yang ada lebih berpihak kepada segelintir pengusaha kaya, sebagian besar laki-laki, dibanding miliaran jam kerja yang dilakukan para perempuan di seluruh dunia, yang bekerja di sektor-sektor penting, yang sering kali tak dibayar atau digaji dengan sangat murah.

Para perempuan ini bekerja merawat orang lain, memasak, membersihkan rumah, mengambil air, mencari kayu bakar, dan kerja-kerja harian yang bermanfaat bagi masyarakat dan memastikan ekonomi berfungsi dengan baik.

Kerja para perempuan 'yang tak terlihat'

Hak atas foto AFP
Image caption Dua puluh dua orang terkaya di dunia memiliki aset lebih banyak dibandingkan kekayaan seluruh perempuan di Afrika.

Oxfam mengatakan kondisi ini harus diubah.

Pemerintah di seluruh dunia harus bertindak saat ini juga untuk membangun ekonomi manusiawi yang menghargai kaum perempuan dan hal-hal yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, bukan mendorong sistem yang mengutamakan pencarian keuntungan dan kekayaan.

Pemerintah dan berbagai pihak juga didesak untuk melakukan investasi terhadap sistem nasional yang memberi perhatian terjadap kerja-kerja yang dilakukan para perempuan dalam merawat orang lain dan menerapkan pajak progresif, termasuk menerapkan pajak kekayaan dan mengeluarkan undang-undang yang memihak mereka yang bekerja untuk merawat orang lain.

Amitabh Behar, direktur Oxfam India dalam wawancara dengan kantor berita Reunters, mengatakan penting sekali untuk menggarisbawahi bahwa kerja-kerja tak berbayar yang dilakukan para perempuan adalah mesin ekonomi yang tersembunyi.

Behar mencontohkan kerja yang dilakukan seorang perempuan di India bernama Buchu Devi, yang rata-rata menghabiskan waktu 16 hingga 17 jam per hari berjalan tiga kilometer mengambil air, memasak, dan melakukan kerja dengan upah yang sangat minim.

"Di sini lain, kita menyaksikan para miliuner yang berkumpul di Davos, yang punya pesawat pribadi dan bergaya hidup sangat mewah," ujar behar.

Menurut Oxfam, kerja-kerja para perempuan di seluruh dunia yang tidak bayar bernilai setidaknya US$10,8 triliun per tahun atau tiga kali lebih besar dari nilai ekonomi industri teknologi.

Topik terkait

Berita terkait