Virus corona: Kisah warga negara asing 'yang terjebak' di Wuhan

Jan Robert R Go Hak atas foto Jan Robert R Go
Image caption Jan Robert R Go mengatakan dia disarankan untuk tidak meninggalkan kamar asramanya

Setidaknya sepuluh kota di China, termasuk Wuhan, ditutup dalam upaya pengendalian penyebaran virus corona. Lantas seperti apa kehidupan di kota yang menjadi pusat penyebaran pertama virus tersebut?

Jumlah kematian di China akibat virus ini terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Hingga berita ini diturunkan, setidaknya 41 orang di negara itu dinyatakan meninggal akibat virus corona.

Pada saat yang sama, pemerintah China menetapkan larangan perjalanan masuk dan keluar Provinsi Hubei.

Otoritas setempat menyatakan bahwa virus itu pertama kali muncul di pasar ikan di kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei. Pasar itu diduga melakukan jual-beli ilegal binatang liar.

Belakangan dikenal sebagai 2019-nCoV, virus ini sebelumnya tidak pernah teridentifikasi di tubuh manusia.


Chongthan Pepe Bifhowjit, pelajar asal India di Wuhan University of Technology, berkisah kepada wartawan BBC, Gaggan Sabherwal

Pekan lalu kondisi kota stabil, tapi segala sesuatunya sudah berubah secara drastis. Keadaan ini membuat saya sangat cemas. Saya tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.

Namun pihak universitas dan pemerintah setempat sangat baik. Mereka menjaga kami.

Otoritas kampus memeriksa suhu tubuh mahasiswa setiap hari dan membagikan masker wajah gratis. Mereka juga mempunyai fasilitas rumah sakit dan ambulans sendiri.

Kami disarankan mencuci tangan setiap jam, tidak makan di luar, dan mengenakan masker setiap keluar ruangan.

Kami semua bertahan di kamar dan hanya berkunjung ke kamar kawan-kawan terdekat.


Mahasiswi internasional yang telah tinggal di Wuhan selama enam tahun berbincang dengan BBC, tapi meminta identitasnya dirahasiakan

Saya tinggal di lingkungan kampus saat banyak warga kampus telah pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Jadi suasana sangat sepi walau kondisi ini sebenarnya normal.

Namun mengetahui bahwa banyak tempat di luar kampus ditutup menunjukkan betapa serius penutupan kota ini. Ini membuat saya merasa aman, tapi tidak ada yang tahu kapan situasi akan kembali normal.

Terkadang terlalu banyak informasi yang beredar karena kami memiliki grup di aplikasi pesan singkat. Semua orang di grup itu mengunggah berita yang mereka baca di internet, jadi sulit mengetahui mana yang benar dan tidak benar.

Saat penutupan kota dilakukan, ada kabar otoritas akan melakukan desinfeksi dengan semprotan dan cairan desinfektan ke udara. Namun kemudian kabar itu terbukti tidak benar.

Kami hanya bisa menunggu pengumuman resmi pemerintah.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Penumpang pesawat asal Inggris, Thomas Crosby, menggambarkan perjalanan dari Wuhan yang dilanda virus.

Desember lalu, ada beberapa pesan di grup perbincangan anggota kelas bahwa SARS kembali muncul. Belakangan kami tahu bahwa yang tersebar adalah virus lain.

Sekarang kami tahu virus itu sedang menyebar keluar kota dan menarik perhatian publik. Namun sekarang terdapat tekanan yang membuatnya menyebar lebih cepat.


Jan Robert R Go berasal dari Filipina dan tinggal di Wuhan selama menyelesaikan studi doktoral bidang politik di Central China Normal University

Saya adalah mahasiswa internasional. Saya disarankan tidak meninggalkan kamar jika tidak untuk sesuatu yang benar-benar penting. Saya dan kawan-kawan juga harus mengambil upaya pencegahan.

Saya melakukan apa yang disarankan: menjaga tubuh tetap bersih dan tentu saja mengenakan masker.

Karena saya tinggal di asrama kampus, pihak universitas memberi kami masker dan sabun gratis. Mereka menyediakan yang kami butuhkan dan membuat kami merasa aman.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penumpang di kereta peluru terakhir dari Wuhan menjalani pemeriksaan suhu tubuh saat tiba di Beijing.

Seorang dokter di sebuah rumah sakit di Wuhan juga berbicara kepada BBC News

Virus itu kini tersebar dalam tahap yang mengkhawatirkan. Rumah sakit dibanjiri ribuan pasien yang harus menunggu berjam-jam untuk bertemu dokter. Anda bisa membayangkan betapa paniknya mereka.

Dalam kondisi normal, Wuhan adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Para dokter juga bangga pada pekerjaannya. Dokter spesialis di kota ini mengembangkan panduan khusus untuk mendiagnosis dan menangani virus corona.

Namun saya takut karena ini virus baru dan jumlah orang yang terdampak mencemaskan.


Daniel Pekarek, mahasiswa ilmu teknik sistem informasi di Wuhan University

Saya tidak yakin apa yang mesti saya lakukan karena saya hidup sendiri di Wuhan. Saya berteman dengan beberapa orang yang menuntut ilmu di kampus ini. Kami memutuskan untuk tetap bertahan di kamar.

Saya mendengar virus ini Desember lalu tapi saat itu tidak ada yang mempedulikannya. Namun sekarang, virus ini sulit dikendalikan.

Banyak orang tidak bisa masuk atau keluar Wuhan dengan mudah saat ini. Saya bisa keluar dari rumah susun, berjalan kaki berkeliling kota, tapi semua transportasi publik tidak beroperasi.

Hak atas foto AFP/Getty
Image caption Transportasi umum tidak beroperasi di Wuhan.

Saya mungkin tidak bisa membeli air minum jika kehabisan. Kondisinya sangat rumit, saya harus mengambil kartu dan pergi ke kantor untuk membayarnya. Namun tidak ada orang yang berjaga sama sekali karena tengah imlek.

Dan saya tidak memiliki kawan yang bisa menerjemahkan bahasa Mandarin. Pacar saya sedang di luar kota.

Saya berencana bertahan di apartemen karena saya khawatir untuk pergi ke pusat kebugaran. Saya cemas jika harus ke ruang publik.


Mahasiswa internasional lainnya, yang berencana meninggalkan Wuhan, berbicara kepada BBC Outside Source secara anonim

Penerbangan menuju dan keluar Wuhan dibatalkan. Situasinya sangat sepi. Tidak ada taksi yang lewat.

Mayoritas orang yang saya jumpai di swalayan adalah warga negara asing yang berusaha membeli bahan makanan.

Warga negara China mendapatkan lebih banyak informasi karena mereka menggunakan aplikasi Weibo. Mereka menggunakan media sosial yang jarang dipakai warga asing.

Sebelum kami diperbolehkan masuk ke hostel, mereka menunjuk dahi Anda, lalu mencatat suhu tubuh.

Jadi kebanyakan warga asing bertahan dan tidak keluar setelah jam lima sore.

Di bandara dan sejumlah tempat, terdapat mobil polisi yang menutup jalan. Mereka diberi petunjuk untuk mengambil tindakan jika suatu hal serius terjadi.

Pergerakan orang di kota tidak diizinkan dan mereka memberi nomor darurat jika kami terinfeksi virus. Kami bisa menelepon nomor itu dan mereka akan datang.

Topik terkait

Berita terkait