Skandal mata-mata yang mengguncang dan mencoreng reputasi Swiss sebagai negara netral

Tentara Swiss Hak atas foto Getty Images
Image caption Apakah skandal perusahaan Swiss Crypto AG membuat negara itu hancur?

Produk perusahaan enkripsi Crypto AG - yang berkantor pusat di Zug, Swiss - sudah dipakai oleh dinas intelejen berbagai negara selama berpuluh-puluh tahun.

Alat tersebut dipakai dinas-dinas intelijen untuk membaca pesan-pesan rahasia negara-negara lain.

Data menunjukkan, sejak Perang Dingin hingga tahun 2000-an, Crypto AG telah menjual alat ke lebih dari 120 pemerintah.

Pada pertengahan Februari terungkap bahwa selama beberapa dekade Crypto AG dikontrol dan dioperasikan oleh dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) dan badan intelijen Jerman (BND).

Terungkap pula bahwa ada celah di produk-produk Crypto AG yang memungkinkan CIA dan BND mencegat dan membaca pesan-pesan rahasia dari negara-negara lain.

Itu berarti, kata The Washington Post dan media Jerman ZDF, Crypto AG mendapatkan jutaan dolar uang pemasukan plus informasi-informasi rahasia negara-negara lain.

Amarah pun meledak.

Banyak pihak mengatakan skandal ini telah merusak reputasi Swiss sebagai negara netral.

Mengapa netralitas Swiss menjadi penting

Hanya ada beberapa negara di planet ini yang memilih bersikap netral; Austria adalah satunya, dan Swedia adalah negara lainnya.

Namun tidak ada negara yang punya simbol netralitas sebesar Swiss.

Ketika semua detil skandal Crypto AG muncul ke permukaan, semua media di Swiss mempertanyakan kenetralan Swiss.

"Skandal ini menghancurkan," begitulah kalimat yang mewakili pandangan publik negara itu.

Sebuah peradilan federal telah menangani kasus ini dan para politikus dari berbagai spektrum menyerukan dibentuknya sebuah komisi penyelidik di parlemen.

Swiss adalah negara dengan netralitasnya memungkinkan mereka mewakili kepentingan AS di Iran selama 30 tahun, dan sebaliknya, kepentingan Teheran di Washington.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Perusahaan Swiss Crypto membuat mesin enkripsi CX-52.

Negara ini melakukan negosiasi luar biasa di belakang layar dengan AS demi memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Iran untuk meringankan dampak terburuk akibat sanksi.

Mereka juga merupakan negara yang menjual mesin enkripsi yang cacat, berlabel Made in Switzerland, ke Iran, sehingga Washington dapat menyadapnya.

Kenetralan Swiss dihormati seolah-olah itulah DNA-nya, bagian dari identitas nasional yang unik, dan bukanlah kebijakan pragmatis sebuah negara kecil yang mempekerjakan tentara bayaran ke seluruh Eropa, sampai para pemimpinnya memutuskan sama-sekali tidak melibatkan diri dalam berbagai perang barang kali membuat negara itu lebih aman.

Kenetralan Swiss menjauhkannya dari perang dan pada 1945, ekonomi dan infrastruktur Swiss bangkit, sementara tetangga-tetangganya terpuruk.

Bagaimana Swiss menjadikan dirinya berguna

Netralitas, bagaimanapun, bukanlah medan kekuatan yang sepenuhnya membuat para musuh terusir.

Istilah itu bukanlah kata ajaib yang bisa Anda nyanyikan dan orang-orang jahat akan meninggalkan Anda sendirian.

Dalam Perang Dunia II, Swiss melakukan segala hal untuk memastikan agar para tetangganya menjauh.

Mobilisasi massal, mengirim setiap orang antara 18 dan 60 orang untuk mempertahankan perbatasan, menggali terowongan, hingga membuat jalan melintasi Pegunungan Alpen.

Itu satu hal yang sampai saat ini merupakan kebanggaan dan mendapat tempat dalam buku-buku sejarah Swiss.

Namun ada sesuatu lainnya, yang sama pentingnya, bahwa Swiss menjadikan dirinya berguna bagi semua pihak.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pasukan Swiss melakukan penjagaan di semua perbatasan pada Perang Dunia Kedua.

Nazi Jerman menemukan tempat aman untuk barang rampasan seni dan emas di bank-bank Swiss.

Barang-barang berharga itu dikirim dengan kereta api yang dipenuhi senjata menyeberangi Swiss untuk mendukung diktator Italia Benito Mussolini.

Pada saat yang sama, kepala angkatan bersenjata Swiss, Jenderal Henri Guisan, menggelar percakapan rahasia dengan Prancis tentang perjuangan bersama jika kedua negara diserbu.

Setelah Perang Dunia Dua berakhir, nama Guisan dijadikan nama jalan di setiap kota di Swiss.

Sementara itu badan intelijen AS, mengirim Allen Dulles ke Eropa.

Dulles mendirikan kantornya di ibu kota Swiss, Bern, dan tinggal di sana selama sisa perang, memata-matai Jerman. Dia kemudian menjadi kepala CIA.

Siapa yang mengetahui skandal mata-mata?

Pada 1990-an, Swiss melakukan sejumlah langkah mendalam untuk mengungkap perihal sepak terjang negara itu selama Perang Dunia Kedua.

Buku-buku sejarah ditulis ulang untuk memasukkan adanya kebijakan memalukan negara itu yang mengembalikan para pengungsi Yahudi ke perbatasan.

Komisi penyelidik dibentuk, berbagai peringatan digelar, dan seorang menteri, Kaspar Villiger, secara resmi meminta maaf.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kaspar Villiger menjadi Menteri Pertahanan Swiss pada 1990-an.

Kaspar Villiger adalah sosok yang sama, yang menjabat sebagai menteri pertahanan pada 1990-an, yang mengetahui sepak terjang CIA dalam mengendalikan perusahaan Crypto AG, dan menjual mesin enkripsi yang cacat di seluruh dunia demi memata-matai sejumlah pemerintahan asing.

Villiger, yang berada dalam tekanan, menyangkal semua tuduhan itu.

Namun lantaran banyak pertanyaan mengenai Crypto sudah diajukan di Swiss pada 1990-an, sehingga terdengar aneh jika menteri pertahanan tidak mendengar atau tidak menindaklanjutinya.

Ketika ditanya perihal sosok Villiger dalam wawancara dengan stasiun televisi Swiss, presiden federal Simonetta Sommaruga, mengatakan spekulasi tentang hal itu tidak masuk akal.

Dapatkah Swiss menjalankan dua peran itu?

Bagaimana bisa kedua konsep itu —netralitas dan kerja sama — dapat dipraktikkan secara bersamaan?

Barang kali dengan cara yang sama Swiss dengan bangga menyebut dirinya tidak berperang, namun di sisi lain menjual banyak senjata.

Atau cara para bankir yang bersedia menerima uang, dari mana pun asalnya.

Dengan kata lain, mereka senang menyimpan timbunan uang itu, walaupun asalnya dari konflik berdarah, atau milik diktator brutal, gembong narkoba, atau hasil penipuan pajak.

Dengan berpijak pada nilai-nilai Barat, mengapa tidak menutup mata dari sejumlah operasi rahasia oleh sang pelindung Eropa, AS, di salah satu perusahaan kelas dunia milik Swiss?

Sejujurnya, ada jutaan orang Swiss yang memikirkan secara mendalam tentang hal-hal ini.

Banyak orang juga telah getol berkampanye agar negara itu mengedepankan kebijakan yang kurang mementingkan diri sendiri, yang tentu saja ketika menyangkut masalah perbankan dan perdagangan senjata—kedua bidang itu saat ini sudah tunduk pada peraturan yang lebih ketat.

Namun tetap saja, setiap beberapa tahun, Swiss agaknya selalu diingatkan perihal netralitas mereka.

Mereka harus belajar dari awal lagi bahwa itu netralitas itu cahaya penerang di jantung Eropa.

Sebaliknya itu adalah sebuah langkah pragmatis dan acap kali sebagai taktik kotor untuk bertahan hidup di benua dengan sejarah yang amat berdarah-darah.

Dan kadang-kadang, seperti halnya terkait skandal Crypto AG, bahwa pragmatisme, dengan hasrat untuk melihat netralitas lebih menyerupai mitos ketimbang fakta, mengarah pada beberapa keputusan yang sangat dipertanyakan.

Berita terkait