India 'menyembunyikan' daerah kumuhnya sebelum kunjungan Trump - inilah mengapa upaya serupa merupakan bagian dari tren global

Slums have been hidden away or dismantled by various countries in preparation of international events Hak atas foto Getty Images/BBC
Image caption Permukiman kumuh telah disembunyikan atau dibongkar oleh berbagai negara dalam persiapan acara internasional.

India sedang bersiap-siap menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan ada banyak pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mempersiapkan kunjungannya - termasuk menyembunyikan beberapa daerah kumuh dan mengusir penduduk.

Menurut sejumlah laporan, langkah ini kebanyakan terjadi di Ahmedabad, ibu kota Gujarat yang merupakan negara asal Perdana Menteri India Narendra Modi.

Trump hanya akan menghabiskan sekitar tiga jam di sana, tetapi beberapa penduduk setempat khawatir akan tersingkirkan secara permanen.

"Setiap kali ada menteri yang mengunjungi daerah itu, mereka menyembunyikannya dengan tirai hijau sementara," kata seorang warga.

"Tapi mereka sedang membangun tembok untuk kali ini - yang akan menetap lama setelah dia pergi."

Pihak berwenang mengatakan tembok yang baru dibangun itu adalah bagian dari "proyek kecantikan" yang sedang berlangsung.

Daerah kumuh yang disembunyikan akan dilewati oleh iring-iringan kepresidenan saat menuju dari bandara ke stadion cricket terbesar di dunia, tempat dimana Presiden Trump akan berpidato di depan massa.

Menyembunyikan realitas sosial

Pada jarak satu kilometer dari lapangan olahraga itu, beberapa warga dari daerah kumuh lain telah menerima pemberitahuan mengenai penggusuran saat satu minggu mendatang.

Bijal Patel, walikota kota itu, mengatakan: "Ini bagian dari upaya anti-perambahan dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan acara tingkat tinggi ini." Tetapi keluarga yang tinggal di sana tidak yakin.

"Kami sudah tinggal di sini selama lebih dari dua dekade, dan tidak ada yang mengatakan apa-apa," kata seorang penduduk.

Hak atas foto Getty Images
Image caption India bersiap-siap untuk kunjungan resmi pertama Presiden AS Donald Trump pada 24 Februari.

"Tetapi sekarang setelah Presiden AS berkunjung, kami telah menerima pemberitahuan dan tidak punya tempat untuk pergi."

Tapi ini bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Preseden serupa dalam upaya menyembunyikan atau membongkar kemiskinan telah dilaporkan pada acara internasional di seluruh dunia.

"Setiap acara olahraga besar, atau kunjungan oleh pejabat asing, telah menyaksikan upaya gentrifikasi, pemindahan, dan peminggiran orang miskin," kata Sheela Patel, seorang aktivis India yang memperjuangkan kaum miskin di perkotaan.

"Bahkan peristiwa sejauh Olimpiade Seoul 1988 melibatkan penggusuran penduduk daerah kumuh."

Penggusuran sebelum 'acara besar'

Pada tahun 2007, sebuah kelompok hak asasi manusia bernama Centre on Housing Rights and Evictions (COHRE), merilis sebuah laporan tentang penggusuran terkait Olimpiade yang terjadi di seluruh dunia.

Menurut laporan itu, lebih dari dua juta orang dipindahkan dari rumah mereka selama 20 tahun terakhir, banyak dari mereka secara paksa, untuk membersihkan ruang untuk Olimpiade.

Laporan itu juga menyatakan bahwa tiga perempat dari orang-orang terlantar berada di China, akibat pihak berwenang membersihkan wilayah yang luas yang merupakan distrik perumahan menjelang pertandingan 2008.

Langkah itu terutama menargetkan daerah miskin yang dikenal sebagai "desa kota terdalam" di Beijing, menurut media setempat. Banyak rumah di daerah itu dibangun secara ilegal dan banyak di antaranya adalah penduduk pendatang dari pedesaan.

"Pekerjaan ini penting dalam memperkuat lingkungan, membangun kota yang layak huni dan mewujudkan rencana strategis 'Beijing Baru, Olimpiade Besar,'" kata Beijing Daily mengutip walikota Wang Qishan saat itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Beijing menghancurkan beberapa area sebagai bagian dari program konstruksi ambisiusnya dalam persiapan untuk Olimpiade 2008

Tetapi setelah pembongkaran, penduduk sering "dipaksa untuk pindah jauh dari komunitas dan tempat kerja mereka, dengan jaringan transportasi yang tidak memadai menambah biaya hidup mereka," kata kelompok COHRE.

Menyusul laporan itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan pihaknya "mencari pemahaman yang lebih baik" tentang bagaimana peristiwa besar seperti Olimpiade mempengaruhi perpindahan.

Baru-baru ini, Brazil menempatkan beberapa daerah kumuh perkotaannya - yang disebut favela - di balik tembok di Rio dan penggusuran dilaporkan terjadi di daerah lain menjelang Piala Dunia FIFA 2014 dan Olimpiade 2016. Mereka harus membuka jalan untuk proyek-proyek pembangunan.

"Mereka tidak mencoba membeli rumah saya," kata seorang penduduk kepada majalah Time. "Mereka berusaha membeli martabatku."

Sue Brownhill, seorang peneliti di Oxford Brookes University, berpendapat bahwa penggusuran adalah penanda pertumbuhan ekonomi negara itu dan kelas menengah yang meningkat, tetapi bahwa kemajuan semacam itu datang dengan mengorbankan warga miskin Brazil.

"Dalam jangka panjang, kota-kota seharusnya tidak menerima syarat-syarat di mana perjanjian-perjanjian diberlakukan oleh badan-badan non-demokratis seperti IOC," katanya.

"Lebih sedikit kota yang menawarkan untuk menjadi tuan rumah acara sekarang yang menunjukkan mereka menyadari bahwa harapan untuk sumber daya tidak sebanding dengan hilangnya kebebasan".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rio de Janeiro miliki rencana untuk membersihkan permukiman kumuh menjelang Olimpiade 2016 saat itu.

Tapi itu bukan hanya Olimpiade. Beberapa acara internasional seperti konferensi telah berdampak pada permukiman informal di seluruh dunia, termasuk Thailand dan Filipina.

Acara-acara ini dimaksudkan untuk menginspirasi perhatian global, dan pemerintah daerah sering kali ingin meningkatkan penampilan kota tuan rumah, yang biasanya dilakukan dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Menghapus stigma 'keterbelakangan'

Dr Malte Steinbrink di University of Osnabruck di Jerman percaya bahwa, sementara negara kaya, atau yang dijuluki Global North, tampaknya kurang tertarik, lebih banyak negara di apa yang disebut Global South yang mengisi celah dan menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah acara-acara besar.

"Ada harapan bahwa pelaksanaan mega-event yang sukses akan membantu menghilangkan stigma 'keterbelakangan' dan dengan demikian akan memungkinkan negara untuk melintasi 'ambang batas' ke lingkaran negara-negara industri terkemuka," tulisnya pada 2014.

Dia mempelajari upaya Brazil dalam membuat beberapa favelanya 'tidak terlihat' ketika sedang bersiap-siap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2014 dan Olimpiade Musim Panas 2016 dan menemukan ada berbagai upaya yang digunakan. Selain pembongkaran dan pembangunan dinding, permukiman kumuh juga secara aktif ditinggalkan dari foto promosi resmi dan video iklan.

"Favela ditinggalkan dari peta wisata resmi, dan kemudian dari peta online. Sebagai gantinya, wilayah-wilayah itu sebagian besar diindikasikan sebagai ruang hijau."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Acara olahraga besar seperti Olimpiade telah berdampak pada perpindahan penduduk di permukiman informal.

Pada kenyataannya, beberapa dari wilayah itu direnovasi untuk meningkatkan penampilan luar mereka dan dibawa di bawah 'program pengamanan' dengan kehadiran polisi komunitas. Sekarang, kebanyakan orang memiliki pemahaman favela sebagai wilayah semarak dengan desai penuh warna - sebuah pandangan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar penduduk lokal.

"Mereka menunjukkan favela yang hanya mimpi, sebuah fiksi," kata seorang kepada The NewYorker. "Sementara itu, Eduardo Paes (walikota kota) sedang menghancurkan favela. Itu kemunafikan."

Beberapa daerah ini juga mengacu pada tren global pariwisata daerah kumuh, di mana orang mencari lingkungan yang miskin ketika mengunjungi kota-kota besar.

"Gambar-gambar ini, yang sering dirancang dengan gaya naif, seperti anak kecil, mencerminkan gambar favela di luar kesengsaraan, narkoba, kejahatan dan kekerasan," tulis Steinbrink.

'Urbanisme aspirasional' atau 'kota tampilan'?

Selama acara besar semacam itu, kota yang menjadi tuan rumah cenderung memilih narasi progresif dan mengubah lanskap kota agar sesuai.

Bahaya dari proses semacam itu adalah mungkin memberikan penggambaran satu dimensi, tetapi Ren Xuefei mengatakan itu adalah "urbanisme aspirasional '" yang masih dalam proses.

Dia adalah seorang profesor studi perkotaan global di Michigan State University dan percaya bahwa ambisi kota global telah berjalan selama beberapa dekade.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekarang, kebanyakan orang memiliki bayangan tentang desain yang cerah dan berwarna ketika mereka pertama kali memikirkan favela.

"Ambisi untuk berubah menjadi sebuah kota global, untuk Beijing dan Rio de Janeiro (sebagai contoh), tidak dimulai sejak mereka memasuki perlombaan untuk mengikuti Olimpiade," katanya dalam risetnya.

"Sebaliknya, penawaran untuk Olimpiade berasal dari proses yang lebih lama dari restrukturisasi spasial perkotaan yang bertujuan untuk meningkatkan posisi mereka dalam ekonomi global."

Tetapi Solomon J Greene, seorang ahli kebijakan perumahan di Urban Institute di Washington, menyebut mereka "kota-kota yang sengaja ditampilkan" yang membangun citra "pembangunan" dan secara aktif menyembunyikan lanskap kaum miskin kota.

"Pembersihan permukiman kumuh dalam persiapan untuk peristiwa besar sangat singkat dan akhirnya merupakan kebijakan perkotaan yang regresif," katanya.

Ia percaya pihak berwenang harus memperbaiki kondisi fisik permukiman informal dan berpenghasilan rendah dengan mengadopsi kebijakan perkotaan yang lebih adil.

'Bagaimana mereka bisa menyembunyikan kita?'

Perjalanan Presiden AS Donald Trump ke India adalah perjalanan resmi pertamanya ke demokrasi terbesar di dunia dan inilah yang ia sampaikan kepada wartawan di negara asalnya:

"Iya [saya pergi ke India]. Dia [Perdana Menteri Narendra Modi] mengatakan kita akan disambut jutaan orang. Dia pikir kita akan memiliki lima hingga tujuh juta orang hanya dari bandara ke stadion baru."

Jumlah terakhir diperkirakan sekitar 100.000 tetapi pihak berwenang India di Ahmedabad tidak akan lengah.

Image caption Penduduk kumuh yang disembunyikan oleh tembok India yang baru dibangun takut menjadi tidak terlihat secara permanen.

Mereka menghabiskan sekitar $11-12 juta untuk persiapan, menurut kantor berita Reuters. Biaya terkait keamanan mencapai setengah dari biaya keseluruhan.

Akibatnya, Trump mungkin tidak akan melihat permukiman kumuh dengan adanya tembok yang baru dibangun yang menghalangi pandangan di mana orang miskin tinggal.

Penduduknya bertanya-tanya apakah uang yang digunakan untuk membangun tembok bisa digunakan untuk pembangunan mereka.

"Bagaimana mereka bisa mencoba menyembunyikan kita?" tanya seorang warga.

"Mereka harusnya mengeluarkan uang untuk memberi kita fasilitas dasar daripada membelanjakannya untuk membangun tembok."

Berita terkait