Virus corona: Jumlah kasus di Korea Selatan terus meningkat, apakah Korea Utara mampu atasi wabah?

Korea Utara Hak atas foto KIM WON-JIN/Getty
Image caption Seorang perempuan sedang membuat masker di sebuah pabrik di kota Pyongyang, Korea Utara, di tengah berkembangnya wabah virus corona, 6 Februari 2020.

Karena jumlah kasus virus corona di Korea Selatan terus meningkat, perhatian kemudian beralih kepada tetangganya, Korea Utara, yaitu bagaimana mereka dapat mengatasi sendiri wabah tersebut.

Korea Utara dipandang sangat rentan terhadap penyakit menular, dan sistem perawatan kesehatannya dianggap tidak memadai untuk mengatasinya.

Sejauh ini, negara itu mengklaim tidak memiliki kasus virus corona, tetapi sejumlah pengamat mempertanyakan kebenaran klaim tersebut.

Para ahli mengatakan wabah itu di Korea Utara akan menghancurkan populasi yang sudah menderita kekurangan gizi dan kesehatan buruk.

Apa yang diketahui soal Korea Utara tentang virus ini?

Korea Utara, tidak seperti biasanya, berterus terang tentang kebutuhan untuk menghalangi penyebaran virus, menggambarkannya sebagai masalah "keselamatan nasional" dan perlunya langkah "revolusioner".

Hak atas foto KIM WON-JIN/AFP
Image caption Seorang ibu mengenakan masker ke wajah anaknya di Pyongyang

Media dan pejabat negara berulang kali menekankan tak ada kasus di negara mereka, seraya memperingatkan mereka tak boleh lengah.

Informasi dipompakan hampir setiap hari dalam langkah-langkah dengan "intensitas tinggi" untuk mencegah virus corona - juga perlunya praktek menjaga kesehatan.

Pemerintah menyiarkan gambar-gambar berisi pekerja dengan pakaian pelindung sedang menyemprot disinfektan di tempat umum dan penyuluh kesehatan mengajarkan gejala penyakit ini kepada publik.

Perdana Menteri Kim Jae Ryong digambarkan memakai masker sembari memimpin upaya "melawan epidemi".

Juga banyak liputan penyebaran Covid-19 di China dan dunia internasional.

Statsiun TV negara Korean Central Television (KCTV), menampilkan siaran harian upaya mencegah wabah, bahkan menyiarkan program khusus "mari kita blokir total virus corona".

Media Korea Utara terus menyatakan adanya obat - yang belum diverifikasi.

Situs web propaganda Sogwang melaporkan bahwa burdock (Arctium lappa) bisa jadi obat virus corona, sembari mempromosikan obat yang dibuat dari tumbuhan tersebut.

Hak atas foto AFP PHOTO/KCNA VIA KNS
Image caption Petugas dengan memakai baju pelindung menyemprotkan disinfektan pada lokasi yang tak disebutkan di Korea Utara.

Perawatan kesehatan apa yang dimiliki Korea Utara?

Korea Utara mengaku punya sistem kesehatan masyarakat kelas dunia.

Namun para ahli internasional menyatakan sistem itu mengerikan: beberapa rumah sakit kekurangan listrik dan air bersih.

Di luar ibukota Pyongyang, tak ada fasilitas medis, dan ada kekhawatiran virus ini tak terdeteksi di kawasan pedesaan.

Di atas kertas, Korea Utara menyediakan layanan kesehatan universal di pusat-pusat kesehatan yang dioperasikan pemerintah, tapi disebutkan sistem ini mendahulukan kelompok elit.

NK News yang menampilkan tanya jawab dengan pembelot Tae-il Shim menyatakan bahwa warga negara mendapat perawatan lebih baik di 1970-an dan 1980-an di bawah Kim Il-sung, pendiri Korea Utara.

"Ketidaksiapan Korea Utara menghadapi pandemi bisa melemahkan pemerintahan rezim dan menciptakan instabilitas internal," kata Kevin Shepard, analis kebijakan pertahanan dalam artikel di NK News.

Tahun 2019, Korea Utara termasuk dalam peringkat terburuk di dunia dalam hal kesiapan adanya wabah penyakit menurut Global Health Security Index yang diterbitkan oleh lembaga AS Johns Hopkins University.

Keraguan juga muncul soal kemampuan Korea Utara untuk mengetes virus, sekalipun media negara melaporkan bahwa pabrik-pabrik memproduksi perangkat tes, masker dan disinfektan.

Lebih jauh lagi, sanksi telah membatasi kemampuan Korea Utara mendapatkan peralatan medis.

Bahkan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengakui akhir tahun lalu bahwa peralatan medis berkualitas tinggi "sangat dibutuhkan" di negara mereka.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
'Saya tak akan meninggalkan China tanpa anjing saya'

Langkah apa yang diambil Korea Utara?

Korea Utara telah mengumumkan ancaman virus corona merupakan "darurat nasional" dan mengambil langkah-langkah drastis.

Mereka termasuk salah satu negara paling awal menutup perbatasan dengan China dan secara temporer melarang turis asing.

Mereka juga menghentikan penerbangan dan kereta dari China dan Rusia.

Korea Utara juga memperpanjang masa karantina kepada orang asing dari 15 ke 30 hari, dan menerapkan batasan lebih ketat kepada pekerja kemanusiaan dan badan kesehatan internasional.

Belakangan, Korea Utara juga menolak permintaan Inggris untuk merepatriasi orang-orang Inggris yang dikarantina di sana.

Mereka memperketat langkah-langkah karantina terkait bea cukai. Seluruh barang yang tiba dan melewati Korea Utara disimpan di ruang isolasi selama 10 hari.

Korea Utara juga dilaporkan melakukan kremasi wajib pada orang-orang yang meninggal - dan bukan pemakaman. Mereka membatasi kerumunan dan dilaporkan menutup sekolah di seluruh negeri selama sebulan.

Pemerintah juga mengirimkan bantuan dan pasokan medis ke China - ini langkah tak biasa karena biasanya bantuan mengalir dari arah sebaliknya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Mark Lowen berada di Italia di dekat kawasan yang ditutup karena virus corona.

Kimberly Brown dari Palang Merah Inggris yang mengunjungi Korea Utara tahun lalu mengatakan mereka butuh bantuan segera untuk menangani potensi wabah.

"Rentannya komunitas karena bencana yang kerap terjadi serta kurangnya pasokan penting berarti kemampuan mereka untuk bertahan dari krisis kesehatan sangat rendah," katanya.

"Kini, ada kebutuhan mendesak untuk peralatan perlindungan personal dan alat pengetes untuk menanggapi wabah virus corona. Ini merupakan barang-barang penting untuk menyelamatkan hidup di negeri ini sekaligus mencegah penyebaran global".

Apa dampak virus ini?

Korea Utara sangat tergantung pada perdagangan dengan China, yang merupakan 90% dari perdagangan internasional mereka. Maka penutupan perbatasan akan menghantam ekonomi mereka dalam jangka pendek.

Jaringan pedagang dan penyelundup Korea Utara yang beroperasi di sepanjang perbatasan akan merasakan dampaknya, sebagaimana pasar swasta yang tumbuh di bawah Kim Jong-un.

Lebih jauh lagi, rencana Korea Utara untuk mendapatkan devisa melalui turis asing - yang tergantung dari sanksi internasional - tampaknya akan gagal. Pyongyang Marathon juga dibatalkan.

Selain ekonomi, diplomasi Korea Utara juga telah "tertahan".

Langkah-langkah karantina membuat kedutaan besar di Pyongyang tak bisa menjalankan tugas dengan layak, menurut duta besar Rusia di Korea Utara seperti dikutip oleh kantor berita Rusia TASS.

Beberapa media juga mengatakan kekhawatiran akan virus telah membuat Kim Jong-un mengurangi kegiatan publiknya dan membatalkan parade militer.

Hak atas foto AFP via Getty
Image caption Turis China di Pyongyang bulan April 2019 - sebelum wabah.

Bagaimana Korea Utara mengatasi krisis kesehatan di masa lalu?

Respon Korea Utara terhadap wabah Ebola tahun 2014 dan SARS di awal 2000-an lebih tertutup daripada Covid-19.

Pengumuman Korea Utara soal wabah Ebola tahun 2014 terjadi dengan lambat, delapan bulan sesudah penyakit itu mencengkram Afrika Barat.

Mereka melarang turis asing masuk dan warga Korea Utara keluar negeri, menurut artikel di situs 38North. Mereka juga menempatkan warga asing di bawah pengawasan medis selama 21 hari.

Korea Utara tidak menutup seluruh perbatasan mereka selagi wabah SARS, dan melarang perjalanan hanya dari tempat-tempat yang terpapar wabah.

Hak atas foto AFP PHOTO/KCNA VIA KNS
Image caption Media Korea Utara terbuka terhadap bahaya virus ini dan upaya negeri ini untuk melawannya.

Penerbangan ke Beijing ditunda selama sebulan dan yang masuk ke Korea Utara membutuhkan persetujuan khusus. Orang yang datang dari daerah terpapar SARS juga dikarantina selama 10 hari.

Pada wabah flu H1N1 tahun 2009, Korea Utara awalnya tidak melaporkan adanya kasus, tapi berbulan kemudian melaporkan sembilan pasien telah didiagnosa penyakit tersebut.

"Penanganan Korea Utara terhadap virus corona sangat tinggi, berbeda dengan epidemi terdahulu dan mencerminkan kepedulian rezim mereka terhadap isu tersebut," kata Minyoung Lee, analis senior pada NK News.

Laporan tambahan dari Shreyas Reddy.

Topik terkait

Berita terkait