Virus corona: Perempuan Singapura yang terinfeksi dan pulih bercerita sejak mengalami gejala, sesak nafas dan diisolasi

Julie

Julie adalah seorang perempuan Singapura yang sempat terinfeksi virus corona dan diisolasi selama beberapa hari akibat penyakit tersebut.

Seiring meningkatnya penyebaran virus corona di seluruh dunia beberapa ahli mengatakan virus itu bisa tersebar sama luasnya dengan flu biasa.

Jumlah korban terus meningkat, tapi sejalan dengan itu, jumlah orang yang pulih juga banyak.

Sampai Selasa 03/03, menurut situs resmi pemerintah Singapura, sudah ada 110 kasus positif Covid-19 di negeri pulau itu.

Keterangan video,

Kisah perempuan Singapura yang pulih dari Covid-19

Sedikit orang yang bersedia bicara tentang pengalaman mereka terinfeksi dan menjalani karantina karena khawatir akan menghadapi diskriminasi dan stigma.

Namun seorang perempuan Singapura memutuskan untuk bercerita tentang pengalamannya.

Ia menceritakan kisahnya kepada wartawan BBC Karishma Vaswani dan Christine Hah.

Demam

Perempuan bernama Julie ini mengalami demam pada hari Senin tanggal 3 Februari 2020.

Panas badannya antara 38,2 - 38,5 derajat Celcius. Ia kemudian memakan dua butir tablet penurun panas Panadol, dan demamnya menghilang.

"Hari itu saya merasa cuma capek dan tidur sepanjang hari," katanya.

Sesudah itu demamnya menghilang sama sekali dan di sepanjang pekan ia merasa sangat sehat, bahkan tak ada batuk atau tanda-tanda sama sekali.

Keterangan gambar,

Makanan diberikan lewat lubang yang aman di dinding kamar isolasinya.

Isolasi

Namun pada tanggal 7 Februari ia terbangun dini hari sekitar pukul 03.00 pagi dan merasa ruangan seperti berputar.

Di hari berikutnya, Julie sudah masuk rumah sakit dan didiagnosa positif Covid-19. Ia ditempatkan di kamar isolasi.

"Kamar isolasi itu pada dasarnya empat dinding yang dilengkapi satu pintu," kata Julie. Ia mendapatkan makanan, pakaian dan obat yang dikirimkan lewat sebuah lubang yang aman.

Di dalam ruang isolasi itu, Julie tetap diberikan telepon genggamnya.

"Ya tentu saja bisa bertelepon, menerima pesan, bikin panggilan video dan sebagainya," katanya. Namun karena tak ada interaksi langsung sama sekali dengan manusia, Julie merasa sangat bosan.

"Saya sampai merasa ingin mengetuk-ngetuk dinding tempat pasien sebelah, hanya supaya bisa berinteraksi langsung dengan manusia," katanya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Sampai sejauh ini, tercatat ada sekitar 100 orang positif Covid-19 di Singapura.

Kritis

Ketika sampai pada tahap kritis, Julie mendapatkan ia sangat kesulitan untuk bernapas.

"Rasanya paru-paru saya seperti bekerja berlebihan," katanya. "Keadaannya sama sekali berbeda dengan hari-hari biasa, di mana kita tak perlu berusaha sama sekali untuk bernapas".

Julie merasa sangat lelah, bahkan untuk ke kamar mandi saja, yang jaraknya dari tempat tidur kurang dari lima meter, ia merasa amat sangat kepayahan.

Julie sendiri tak mengerti apa dampak jangka panjang dari Covid-19 ini terhadap dirinya.

"Yang saya tahu, saat sakit saya tak bisa lama berjalan karena mudah sekali kehabisan napas, dan saya merasa ingin duduk. Ini belum pernah terjadi pada saya," katanya.

Sembilan hari

Julie kemudian dibolehkan pulang sembilan hari sesudah ia dinyatakan positif Covid-19.

Menurut para dokter yang memeriksanya, ia telah pulih sepenuhnya.

Menurut Julie, dalam keadaan sekarang ini tidak banyak yang diketahui soal virus ini sehingga menimbulkan banyak ketakutan baik secara individual maupun dalam skala besar.

"Ini melahirkan orang-orang yang lalai serta banyak prasangka".