Cerita bagaimana sebuah masjid di Kenya berubah dari tempat perekrutan milisi menjadi pusat perdamaian

  • Ferdinand Omondi
  • BBC News, Nairobi
masjid musa
Keterangan gambar,

Masjid Musa di Kota Mombasa, Kenya, sempat dituding sebagai tempat perekrutan anggota kelompok Al-Shabab. Namun, kini masjid tersebut menjadi pusat rekonsiliasi dan perdamaian.

Masjid Musa di Kota Mombasa, Kenya, yang sempat dikaitkan dengan gerakan radikal, kini menjadi pusat rekonsiliasi dan perdamaian.

Pada 2014, kepolisian menggerebek masjid itu dengan dalih tempat ibadah tersebut menjadi tempat perekrutan kaum muda untuk bergabung dengan kelompok milisi Al-Shabab yang berbasis di Somalia.

Kala itu, aparat menyita sejumlah granat, audio propaganda, cakram video, dan bendera hitam bergambar senapan yang terkait dengan Al-Shabab.

Setelah lebih dari 100 orang ditahan, sebagian besar kaum muda, masjid itu ditutup.

Tidak lama berselang para sesepuh di kawasan sekitar masjid dan para pemimpin daerah bertemu guna membahas siapa yang patut mengelola masjid. Hasil pertemuan itu, sejumlah imam yang dituding radikal diusir. Mereka digantikan oleh sosok-sosok yang dianggap moderat.

Beberapa pekan kemudian, pemerintah Kenya membuka kembali masjid dan menyerahkannya ke komunitas setempat. Pemerintah puas dengan pembaruan yang dilakukan, termasuk proses mengintegrasikan kembali para pemuda yang sempat dicap radikal.

Keterangan gambar,

Shabi Islam, sosok yang ditunjuk mengelola Masjid Musa, mengatakan pihaknya tidak memakai pendekatan senjata api.

Shabi Islam, sosok yang ditunjuk mengelola Masjid Musa, memaparkan kepada BBC bagaimana itu bisa dicapai.

"Kami tidak memakai senjata api. Kami bersembahyang dan menggunakan kata-kata yang baik. Para tetua desa dan masjid mengajak seisi komunitas untuk meyakinkan pemuda-pemuda ini untuk mengubah pandangan mereka. Kini mereka telah berubah. Tiada yang bisa bilang bahwa mereka berubah dengan pendekatan senjata. Mereka berubah melalui doa dan ajakan."

Salim Karama, yang mengaku direkrut untuk bergabung dengan Al-Shabab dan terlibat dalam kericuhan saat masjid ditutup, adalah salah satu yang diintegrasikan kembali.

Dia meyakini, tanpa lapangan pekerjaan, orang-orang sepertinya tetap berada dalam posisi rentan

"Isu kronisnya adalah...pengangguran dan pikiran yang kosong. Jika seseorang punya pekerjaan, dia pergi dari rumah pagi-pagi, bekerja dan pulang malam hari. Pemerintah perlu mengurus nasib kami. Banyak upaya ditempuh untuk mencabut kesalahan tanpa menyelipkan kebaikan."

Keterangan gambar,

Penjahit bernama Saddah Suleiman masih menanti kabar dari aparat mengenai nasib suaminya.

Lantas masih ada beberapa pertanyaan tak terjawab mengenai penggerebekan polisi.

Seorang penjahit bernama Saddah Suleiman berkata suaminya adalah salah satu yang ditangkap, namun tidak pernah terdengar kabarnya sejak peristiwa itu.

Penyelidikan yudisial menyebut kepolisian mungkin telah membunuhnya. Namun, Saddah ingin jawaban pasti.

"Saya tidak puas sama sekali. Pmerintah seharusnya memberitahu kami di mana dia karena merekalah yang mengambilnya. Kami melihat mereka mengambilnya. Jadi mereka setidaknya mengatakan di mana dia. Kami tidak pernah diberi tahu."

Dalam penyelidikan yudisial, kepolisian menyebut suami Saddah melompat dari sebuah truk dan melarikan diri selagi dibawa ke kantor polisi.

Bagaimanapun, enam tahun berlalu, masyarakat tidak lagi takut berjalan atau tinggal dekat Masjid Musa dan para pedagang kembali lagi ke kawasan sekitar masjid.