Virus corona: Pengawasan sejumlah perbatasan terlalu lemah, penyebaran Covid-19 'menjadi bom waktu'

  • Saira Asher
  • BBC News
People wait to cross into Afghanistan from Iran at the border cross of Islam Qala between Afganistan and Iran, in Herat, Afghanistan, 22 March 2020

Sumber gambar, European Photopress Agency

Ketika banyak negara menutup perbatasannya untuk mencegah penyebaran Covid-19, sejumlah negara lain justru tidak mengawasi secara ketat pergerakan orang di perbatasannya. Hal ini memunculkan kekhawatiran tentang penyebaran virus yang tidak terkendali.

Pada Maret lalu, lebih dari 150.000 warga Afghanistan secara spontan kembali dari Iran, salah satu negara yang paling parah terkena virus corona - ribuan lainnya tiba setiap hari.

Puluhan ribu orang juga baru saja kembali dari Pakistan, yang terkena dampak Covid-19 di Asia Selatan.

Kini para pejabat sedang berjuang untuk mengendalikan pergerakan orang yang melintasi perbatasan tanpa pengawasan ketat dan seringkali tanpa batas hukum.

Sejauh ini, Afghanistan bukan merupakan negara yang sangat parah terkena dampak virus corona.

Negara itu melaporkan 423 kasus dan 14 kematian, tetapi gelombang manusia ini telah menimbulkan kekhawatiran terkait tingkat penularan yang jauh lebih tinggi.

"Dengan jumlah orang, yang kemungkinan terinfeksi, yang telah melintasi perbatasan, saya perkirakan jumlah kasus dan kematian [di Afghanistan] meningkat secara signifikan," kata Natasha Howard, associate professor kesehatan global dan konflik di National University of Singapore.

Jika ada lonjakan kasus, seperti yang kita lihat di AS, Spanyol, dan Italia, sistem kesehatan Afghanistan yang hancur akibat perang dan kemiskinan akan sepenuhnya kewalahan.

Perbatasan Afghanistan-Iran: Kewalahan dengan banyaknya manusia

Abdul Maez Mohammadi dan keluarganya berada di Iran selama delapan tahun.

Tetapi setelah bos di perusahaan konstruksi tempat dia bekerja berhenti membayar gajinya, dia mengumpulkan istri, saudara laki-lakinya dan anak lelaki berusia satu tahun, untuk pulang menuju rumahnya di Afghanistan.

Sumber gambar, Aziz Ahmad Rahimi

Keterangan gambar,

Mr Mohammadi pulang ke rumahnya di Afghanistan yang dikendalikan Taliban setelah kehilangan pekerjaan di Iran.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Mereka menyeberang dari perbatasan Qala Islam, kota di perbatasan Afghanistan-Iran, ke Herat, Afghanistan, sebagai migran tanpa dokumen. Mereka berencana menuju desa mereka yang dikuasai Taliban, yang tidak memiliki fasilitas kesehatan.

"Situasi Covid-19 di Iran sangat berbahaya dan saya dengar tidak ada tempat untuk menerima pasien," kata Mohammadi.

Di pintu perbatasan ini, tidak ada pusat karantina baik di sisi Afghanistan maupun di sisi Iran. Pemerintah provinsi setempat sedang melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, tetapi kewalahan dengan jumlah orang yang hendak menyeberang.

Herat, salah satu kota terbesar di Afghanistan, kekurangan alat uji Covid-19 dan hasilnya memakan waktu empat atau lima hari bagi mereka yang dites - dan pada saat itu kemungkinan mereka sudah pergi ke desa mereka.

Mohammadi mengatakan dia harus segera bekerja begitu dia kembali di desanya. Dia juga tahu ia harus mengambil tindakan pencegahan.

"Kami harus mencuci tangan ketika kita bangun dari tidur, menyikat gigi tiga kali sehari, menghindari pertemuan massal, tidak bepergian ke daerah tetangga dan makanan harus dimasak dengan baik," katanya.

Sumber gambar, Hamed Sarafarzai

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sebagai bagian dari PBB, telah mendirikan pusat-pusat untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang paling rentan di antara khalayak yang kembali ke Afghanistan.

Aziz Ahmad Rahimi, direktur regional senior untuk IOM di provinsi Herat, mengatakan ketika mereka melihat seseorang menunjukkan gejala Covid-19, mereka memindahkannya ke rumah sakit setempat. sebanyak 10 hingga 15 orang sejauh ini dinyatakan positif.

Perbatasan Afghanistan-Pakistan: Terpaksa menghentikan kontrol

Situasi serupa terjadi di perbatasan Afghanistan dengan Pakistan.

Pemerintah Afghanistan meminta pihak berwenang Pakistan untuk membuka penyeberangan perbatasan untuk mengizinkan warga Afghanistan, yang terdampar setelah Pakistan menutup perbatasannya, untuk pulang.

Pihak berwenang mengatakan mereka akan mengizinkan 1.000 orang per hari, tetapi 20.000 dilaporkan telah menyeberang di perbatasan Chaman dalam dua hari terakhir.

Hal itu mendorong pihak berwenang untuk mengabaikan ketentuan bahwa hanya mereka yang memiliki dokumen yang sah saja yang diizinkan untuk menyeberang.

Sumber gambar, Hamed Sarfarzai

Keterangan gambar,

Tes kesehatan dasar di Islam Qala border antara Iran dan Afghanistan.

Pihak berwenang Afghanistan telah membuat pengaturan untuk mengkarantina 4.000 warga Afganistan selama 14 hari di Torkham, tetapi kewalahan dengan jumlah orang yang ada, kata laporan itu.

Total 60.000 orang menyeberang ke Afghanistan dalam tiga hari, menurut IOM.

Video yang belum terverifikasi, yang telah dibagikan secara luas oleh sejumlah media, menunjukkan orang-orang bergegas melintasi perbatasan tanpa menunjukkan dokumentasi apa pun.

Dan ini adalah orang-orang yang melalui pos pemeriksaan resmi.

Selama bertahun-tahun telah terjadi gerakan lintas batas ilegal antara Afghanistan dan Pakistan - angka-angka itu jauh lebih sulit dilacak.

Semua ini membuat badan-badan bantuan dan LSM yang bekerja di wilayah tersebut memberikan peringatan yang mengerikan tentang penyebaran virus corona di seluruh perbatasan ini.

Dan jika kasus-kasus di Afghanistan melonjak, mereka khawatir, hal yang menakutkan akan terjadi, mengingat negara-negara maju dengan sistem kesehatan kelas atas pun tengah berjuang mengatasi Covid-19.

Bagaimana Afghanistan dapat mengatasinya?

Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan memperkirakan bahwa 25 juta orang dari populasi 35 juta jiwa bisa terinfeksi virus corona.

Waheedullah Mayar, juru bicara kementerian kesehatan masyarakat, mengatakan dalam skenario terburuk 700.000 orang akan memerlukan rawat inap, 220.000 dari mereka mungkin memerlukan perawatan ICU.

Dari jumlah itu, 110.000 orang dapat meninggal karena Covid-19.

Afghanistan memiliki 10.400 tempat tidur rumah sakit di seluruh negara.

Di provinsi Herat, beberapa perkiraan menyebutkan jumlah ventilator sedikitnya hanya ada 12.

"Afghanistan tidak akan memiliki jumlah tempat tidur yang cukup bahkan dalam 10 tahun," katanya, menambahkan bahwa otoritas kesehatan fokus pada langkah-langkah pencegahan.

Kabul sekarang dikarantina sepenuhnya dan pertemuan publik telah dilarang di Herat.

Tetapi ini adalah populasi di mana banyak orang yang sudah menderita penyakit seperti TBC, kanker, diabetes dan ada sekitar 2,5 juta anak kurang gizi, menurut badan amal Save the Children.

Tetapi, jika situasi di Afghanistan begitu mengerikan mengapa begitu banyak yang ingin kembali?

Sebagian besar didorong oleh wabah Covid-19 di Iran dan Pakistan dan karantina wilayah telah membuat mereka tidak dapat bekerja.

Orang-orang juga takut mereka tidak akan mendapatkan perawatan medis di sana.

"Kesan di antara mereka yang kembali adalah, jika mereka akan mati, lebih baik mati di negara asal," kata Rahimi.

Beberapa ahli percaya sudah terlambat untuk mencegah penyebaran virus secara luas di Afghanistan. Dan bantuan tidak mungkin datang dari komunitas internasional yang sudah kewalahan menghadapi virus itu sendiri.

"Situasinya kemungkinan akan membuat depresi- kita hampir dapat menganggapnya sebagai bom waktu," kata Natasha Howard dari National University of Singapore.

Laporan tambahan oleh Mahfouz Zubaide di Kabul dan M Ilyas Khan di Islamabad.