Hong Kong 'berusaha tangkap' aktivis prodemokrasi yang melarikan diri ke luar negeri

Simon Cheng dan Nathan Law
Keterangan gambar,

Simon Cheng dan Nathan Law termasuk dalam enam aktivis yang dicari kepolisian Hong Kong karena diduga melanggar undang-undang keamanan baru.

Polisi di Hong Kong ingin menangkap enam aktivis pro-demokrasi yang sedang dalam pengasingan di negara-negara Barat, termasuk Inggris, menurut laporan sejumlah media.

Termasuk di dalam kelompok itu adalah mantan pekerja konsulat Inggris Simon Cheng, aktivis terkenal Nathan Law, dan warga negara AS Samuel Chu.

Mereka dicari karena diduga melanggar undang-undang keamanan baru yang diberlakukan di Hong Kong oleh Beijing, lansir TV pemerintah China, yang menyebut mereka "pembuat onar".

Kepolisian Hong Kong menolak berkomentar.

Perkembangan ini terjadi setelah pemerintah Hong Kong menunda pemilihan legislatif, yang telah dijadwalkan untuk September, selama satu tahun.

Pemerintah mengatakan langkah itu diperlukan karena lonjakan infeksi Covid-19, namun kelompok oposisi menuduhnya menggunakan pandemi sebagai alasan. Gedung Putih menyebut langkah itu mencederai demokrasi.

Para politikus prodemokrasi berharap bisa memanfaatkan kemarahan warga Hong Kong akan undang-undang keamanan baru untuk memenangkan mayoritas kursi di Dewan Legislatif.

Banyak orang di Hong Kong, mantan koloni Inggris yang dikembalikan ke China pada 1997, khawatir kebebasan mereka yang seharusnya dijamin hingga 2047 sedang dalam ancaman serius.

Inggris dan Australia termasuk jajaran negara yang telah menangguhkan perjanjian ekstradisi mereka dengan Hong Kong dalam beberapa pekan terakhir. Jerman melakukannya pada hari Jumat — salah satu dari aktivis yang dilaporkan berada dalam "daftar pencarian" baru telah mendapatkan suaka di sana.

Siapakah para aktivis yang dicari?

Jaringan televisi pemerintah China CCTV mengatakan enam orang sedang dicari atas dugaan menghasut rakyat Hong Kong untuk memisahkan diri dari China atau berkolusi dengan kekuatan asing — dua kejahatan yang dijatuhi hukuman maksimal penjara seumur hidup berdasarkan undang-undang keamanan baru.

Enam orang itu, menurut CCTV dan media Hong Kong, ialah:

Simon Cheng, mantan pegawai konsulat Inggris di Hong Kong yang baru-baru ini mendapat suaka politik di Inggris. Ia ditangkap Agustus lalu dalam perjalanan bisnis ke China daratan dan dituding menyulut kerusuhan politik di Hong Kong.

Ia membantah tuduhan itu dan mengatakan ia dipukuli dan dipaksa menandatangani pengakuan palsu saat dalam tahanan China.

Menanggapi berita tentang perintah penangkapan, Cheng mengatakan kepada BBC bahwa ia tidak akan berhenti berbicara tentang permasalahan di Hong Kong. "Rezim totaliter sekarang mengkriminalkan saya, dan saya akan menganggap itu bukan sebagai aib tapi suatu kehormatan," ujarnya.

Nathan Law, 27, seorang aktivis ternama yang melarikan diri ke Inggris. "Saya tidak tahu apa 'kejahatan' saya dan saya pikir itu tidak penting. Mungkin saya terlalu mencintai Hong Kong," katanya di Twitter.

Law menjadi terkenal setelah memimpin unjuk rasa mahasiswa pada tahun 2014. Ia mengaku kecewa dan takut karena harus tinggal di pengasingan, dan karena ia harus "memutus" hubungannya dengan keluarganya di Hong Kong.

Samuel Chu, warga negara AS. Ia adalah putra Pendeta Chu Yiu Ming, seorang pendeta Baptis yang merupakan salah seorang pendiri "Gerakan Payung" pada 2014.

Chu menjalankan Dewan Demokrasi Hong Kong yang berbasis di Washington DC, dan mengatakan ia terakhir kali mengunjungi Hong Kong pada November 2019.

"Saya mungkin menjadi warga non-China pertama yang menjadi sasaran, tapi saya tidak akan menjadi yang terakhir. Jika saya menjadi sasaran, warga Amerika dan warga negara mana pun yang berbicara untuk Hong Kong dapat, dan juga akan disasar," tuturnya.

Undang-undang keamanan nasional memiliki ketentuan ekstrateritorial yang mengatakan siapa pun, termasuk penduduk non-Hong Kong, bisa dituntut dengannya.

China mengatakan undang-undang tersebut diperlukan untuk memulihkan stabilitas dan ketertiban di pusat keuangan global itu.

Ray Wong, seorang aktivis pro-kemerdekaan yang melarikan diri ke Jerman pada tahun 2017 dan sekarang berada di Inggris, mengatakan kepada BBC bahwa daftar para eksil yang "dicari" disusun untuk "mengintimidasi" para aktivis pro-demokrasi yang berusaha menghimpun dukungan internasional untuk tujuan mereka.

Lau Hong (juga dikenal sebagai Honcques Lau), remaja berusia 18 tahun yang sekarang berada di Inggris, menjadi terkenal pada November 2017 ketika ia mengibarkan spanduk pro-kemerdekaan di sebelah pemimpin Hong Kong Carrie Lam.

"Ayo tangkap saya di Inggris," katanya seperti dikutip wartawan, Jumat (31/07).

Hentikan Twitter pesan, 1

Lompati Twitter pesan, 1

Wayne Chan, aktivis prokemerdekaan lainnya, juga berada di negara lain yang dirahasiakan.

"Bagi saya, situasi yang dihadapi oleh warga Hong Kong jauh lebih berbahaya daripada yang saya hadapi. Saya tidak bisa terlalu memikirkan keselamatan pribadi saya," katanya kepada kantor berita Reuters.