Hak asasi manusia di Iran: Pengunjuk rasa yang ditahan dalam unjuk rasa tahun lalu 'dicambuk, dilecehkan secara seksual dan disetrum', ungkap Amnesty International

Iranian protesters gather around a fire during a demonstration against an increase in petrol prices in Tehran (16 November 2019)

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar,

Demonstrasi pada November lalu dipicu oleh dinaikkannya harga bensin sebesar 50% oleh pemerintah Iran.

Pasukan keamanan Iran melakukan "sejumlah pelanggaran hak asasi manusia yang mengejutkan" terhadap mereka yang ditahan dalam demonstrasi November lalu, menurut temuan Amnesty International.

Puluhan pria dan perempuan melaporkan kepada kelompok hak asasi manusia tersebut bahwa mereka dipukul, dicambuk, disetrum atau dilecehkan secara seksual untuk memaksa pengakuan.

Lebih dari 7.000 warga - termasuk anak-anak berusia 10 tahun - ditahan dalam kerusuhan hampir setahun lalu. Ratusan lainnya meninggal dunia.

Pemerintah Iran belum memberi tanggapan atas laporan Amnesty International tersebut.

Namun sebelumnya, mereka menolak kritik atas catatan hak asasi manusia yang mereka sebut tidak berdasar.

Demonstrasi November lalu dipicu oleh kebijakan pemerintah Iran menaikkan harga bensin sebesar 50%.

Keputusan itu disambut dengan kemarahan yang meluas di negara yang ekonominya sudah goyah akibat sanksi AS, membuat ratusan ribu orang turun ke jalan.

Pemimpin tertinggi Iran mengecam para pengunjuk rasa sebagai "pelaku kejahatan" yang dihasut oleh "musuh asing", dan pasukan keamanan melancarkan tindakan keras dalam merespons demonstrasi itu.

Keterangan video,

Pengunjuk rasa melakukan demonstrasi ketika harga baru bensin diberlakukan

Sementara, Menteri Dalam Negeri Iran mengisyarakatkan bahwa jumlah korban tewas dibawah 225 orang.

Setidaknya 7.000 orang lainnya ditangkap, menurut juru bicara komite keamanan nasional parlemen Iran, meskipun laporan media menunjukkan angkanya jauh lebih tinggi.

Laporan terbaru Amnesty yang bertajuk "Iran: Trampling Humanity", mengumpulkan testimoni dari 60 tahanan dan 14 orang yang menjadi saksi atau menyelidiki pelanggaran yang dilaporkan.

Tolak jawab,'level tegangan dinaikkan'

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Para tahanan menuduh penyiksaan secara rutin dilakukan untuk mendapatkan "pengakuan" dan pernyataan yang memberatkan, tidak hanya tentang keterlibatan mereka dalam demonstrasi, tetapi juga tentang dugaan hubungan mereka dengan kelompok oposisi, pembela hak asasi manusia, media di luar Iran, serta dengan pemerintah asing.

Amnesty menyebut metode penyiksaan yang dilakukan termasuk "penyemprotan dengan air, pemukulan, cambuk, sengatan listrik, semprotan merica pada alat kelamin, kekerasan seksual, pencabutan kuku dan kurungan isolasi, terkadang selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan".

Salah satu dari mereka yang disiksa dengan disetrum dengan tegangan listrik mengatakan: "Rasanya seperti seluruh tubuh saya ditusuk dengan jutaan jarum."

"Jika saya menolak menjawab pertanyaan mereka, mereka akan menaikkan level tegangan dan memberi saya sengatan listrik yang lebih kuat ... Penyiksaan itu memiliki efek yang bertahan lama pada kesehatan mental dan fisik saya."

Keterangan gambar,

Setidaknya tiga orang dihukum mati atas keterlibatan mereka dalam demonstrasi itu.

Seorang warga lain mengaku tangan dan kakinya digantung pada tiang dengan cara yang menyakitkan, yang oleh para interogatornya disebut sebagai "ayam kebab".

"Sakitnya menyiksa. Ada begitu banyak tekanan dan rasa sakit di tubuh saya sehingga saya buang air kecil sendiri," katanya.

"Keluarga saya tahu bahwa saya disiksa, tetapi mereka tidak tahu bagaimana saya disiksa."

Amnesty mengatakan ratusan tahanan dihukum karena "tuduhan keamanan nasional yang tidak jelas atau palsu" menyusul "pengadilan tertutup yang sangat tidak adil yang dipimpin oleh hakim yang bias".

Tuduhan itu juga disebut berdasar pada "pengakuan" selama penyiksaan.

Banyak di antara mereka dijatuhi hukuman penjara atau cambuk, dan beberapa dijatuhi hukuman mati.