Terusan Suez sudah bisa dilewati, Mesir buka penyelidikan terhadap kapal kontainer yang kandas

Ever Given kini berlabuh di Danau Pahit Besar, tempat ia menjalani penyelidikan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Ever Given kini berlabuh di Danau Pahit Besar, tempat ia menjalani penyelidikan.

Mesir resmi memulai penyelidikan terhadap kapal kontainer raksasa yang memblokir Terusan Suez dan mengganggu perdagangan global selama hampir satu minggu.

Penasihat Otoritas Terusan Suez Sayed Sheaysha mengatakan tim pakar akan naik ke kapal Ever Given pada hari Rabu (31/03) dan mengumpulkan data yang relevan dengan insiden tersebut.

Penyelidikan ini akan memeriksa kelayakan kapal dan tindakan para awak kapal.

Ever Given kini berlabuh di Danau Pahit Besar, titik tengah kanal tersebut, setelah berhasil diapungkan kembali pada Senin lalu.

Kapal sepanjang 400 meter dan seberat 200.000 ton itu tersangkut dalam posisi diagonal di Terusan Suez pada 23 Maret setelah kandas dalam keadaan angin kencang dan badai pasir yang berdampak pada jarak penglihatan.

Ia berhasil dibebaskan setelah operasi penyelamatan besar-besaran melibatkan armada kapal tunda dan alat keruk yang memindahkan sekitar 30.000 meter kubik lumpur dan pasir.

Lebih dari 140 kapal telah melewati kanal tersebut sejak tak lagi tersumbat, sementara otoritas kanal berusaha mengurai kemacetan sekitar 400 kapal di utara dan selatan kanal.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Sekitar 12% dari perdagangan global melewati kanal sepanjang 193km itu, yang menghubungkan Laut Mediteranea dengan Laut Merah dan menyediakan jalur laut terpendek antara Asia dan Eropa.

Sheaysha berkata kepada kantor berita Reuters pada hari Rabu bahwa kapten Ever Given serta warga Jepang pemilik kapal tersebut telah menyatakan kesiapan untuk berkooperasi sepenuhnya dengan penyelidikan.

Namun, sang penasihat SCA mengeluh dalam wawancara dengan media mesir ON TV pada Selasa kemarin bahwa kapal tersebut tidak merespons email permintaan untuk mengirimkan semua dokumen yang relevan.

Manajer teknis Ever Given, Bernhard Schulte, berkata pada hari Senin bahwa penyelidikan awal menunjukkan kapal melenceng dari jalurnya karena angin kencang. Mereka juga memastikan kegagalan mekanis atau mesin bukanlah penyebabnya.

Bagaimanapun, kepala SCA Osama Rabie percaya angin bukanlah penyebab utama kecelakaan, dan bahwa "kesalahan teknis atau manusia" bisa jadi penyebabnya.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar,

Kapal kontainer melewati kota Ismailia, yang terletak di tepi barat kanal, Selasa kemarin.

"Terusan Suez tidak pernah ditutup karena cuaca buruk," kata Rabie kepada wartawan pada hari Senin.

Dia juga membantah ukuran kapal menjadi faktor, dan mengatakan "kapal-kapal yang lebih besar" telah menggunakan jalur air itu.

Hasil investigasi dapat memberikan dampak hukum yang besar, karena berbagai pihak berusaha menutup kerugian dari biaya perbaikan pada kapal Ever Given dan kanal, serta operasi penyelamatan dan penundaan kapal-kapal lain.

Pimpinan perusahaan asuransi Lloyd's of London berkata pada hari Rabu bahwa insiden ini akan mengakibatkan "kerugian besar".

Bruce Carnegie-Brown mengatakan kepada Reuters masih terlalu awal untuk memastikan besarannya, namun memperkirakan dapat mencapai $100 juta (Rp1,4 triliun) atau lebih.

Guy Platten, sekretaris jenderal Kamar Pengiriman Internasional, mengatakan kepada BBC bahwa industri akan perlu waktu untuk pulih setelah penyumbatan ini.

"Mereka berusaha mendorong kapal-kapal untuk segera melewati kanal, yang akan menyebabkan kemacetan di pelabuhan tujuan mereka. Jadi itu berarti ada penundaan di sana."

"Ini juga tentang penempatan aset di seluruh dunia. Kami tahu bahwa China, misalnya, kekurangan kotak kosong [kontainer] untuk diisi karena mereka juga tertunda."

"Semua ini akan mempengaruhi rantai pasokan," dia memperingatkan.