Covid di India mencapai 332.000 kasus sehari, pemerintah Indonesia hentikan pemberian visa bagi WNA dari India

Seorang perempuan menanti ditempatkan di rumah sakit di Delhi.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Seorang perempuan menanti ditempatkan di rumah sakit di Delhi.

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menghentikan pemberian visa bagi warga negara asing (WNA) yang pernah tinggal atau mengunjungi wilayah India dalam kurun waktu 14 hari terakhir guna mencegah penyebaran Covid-19.

Keputusan itu ditempuh ketika India mencatat kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia, mencapai 332.000, di tengah gelombang kedua yang menyebabkan fasiltias kesehatan kewalahan.

Sejauh ini, India mencatat kasus total melampaui 16 juta, kedua tertinggi di dunia dari Amerika Serikat dengan total mendekati 32 juta.

India juga mencatat angka kematian harian tertinggi dalam 24 jam ini dengan lebih 2.200 orang meninggal dunia. Adapun total kematian mencapai 186.920 orang.

Baca juga:

Penghentian pemberian visa ini dilakukan setelah muncul laporan terdapat 135 WNA India yang memiliki KITAS atau kartu izin tinggal terbatas, yang masuk ke Indonesia dengan pesawat carter, dan setidaknya sembilan di antaranya positif Covid.

Pengumuman pemberian visa kepada warga asing dari India dikemukakan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers daring di Jakarta, Jumat (23/04).

"Pemerintah tentu mendorong beberapa hal yang dilakukan khusus untuk India tentu pemerintah mengingatkan bahwa peraturan Menkumham Nomor 26 tahun 2020 tentang visa dan izin dinyatakan tertutup untuk kedatangan WNA dengan beberapa pengecualian," kata Airlangga sebagaimana dikutip kantor berita Antara.

Sumber gambar, European Pressphoto Agency

Keterangan gambar,

Pasien Covid-19 di India terus bertambah.

Ditambahkannya, bagi WNI yang telah tinggal atau mengunjungi wilayah India ini dalam kurun waktu 14 hari tetap diizinkan masuk dengan protokol kesehatan yang diperketat. Di antaranya, karantina di hotel khusus selama 14 hari dan melakukan tes RT-PCR.

"WNI tersebut wajib dilakukan karantina selama 14 hari dilakukan di hotel khusus berbeda dengan hotel yang lain. Kemudian lulus tes PCR dengan hasil negatif maksimum 2x 24 jam sebelum keberangkatan dan hari pertama kedatangan dan hari 14 paska karantina akan kembali di PCR tes," jelas Menko Airlangga.

Lebih lanjut Menko Airlangga mengatakan pemerintah juga akan melalukan pengetatan akses masuk dari India ke Indonesia.

"Pengetatan protokol ini diberlakukan untuk semua moda transportasi darat, laut dan udara dan ketentuannya akan dilanjutkan dengan surat Edaran Dirjen Imigrasi Kumham dan juga dari lembaga lain yang terkait," ujar Menko Airlangga.

Kebijakan penghentian pemberian visa tersebut mulai berlaku pada Minggu, 25 April 2021 dan peraturan ini sifatnya sementara dan akan terus dikaji ulang.

Sumber gambar, European Pressphoto Agency

Keterangan gambar,

Kasus di Maharashtra terdiri dari seperempat kasus di India dari hampir 16 juta.

Apa latar belakang penghentian pemberian visa bagi WNA dari India?

Keputusan penghentian pemberian visa bagi WNA asal India diambil setelah Kasubdit Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kementerian Kesehatan, dr Benget Saragih, mengungkapkan bahwa banyak WNA dari India masuk ke Indonesia.

"Kemarin sudah banyak warga India masuk ke Indonesia, banyak sekali," kata Benget dalam rapat bersama tim Satgas Covid-19 di Pekanbaru, Riau, pada Rabu (21/04), yang dipimpin langsung Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo dan Gubernur Riau Syamsuar.

Dalam catatannya, WNA asal India datang ke Indonesia melalui jalur udara. Mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dan dilakukan karantina oleh Kemenkes.

"Kami hari ini telah lakukan pemantauan perketat, karena informasi ada eksodus. Jadi untuk di Soekarno-Hatta, kami telah minta mereka tempatkan satu hotel biar mudah mengawasi," kata Benget seperti dikutip Detik.com.

Menurut Benget, eksodus warga India terjadi setelah negaranya dihantam pandemi COVID-19. Mereka kemudian ramai-ramai masuk ke Jakarta dan beberapa daerah lain.

"Sekarang India sedang tsunami COVID-19 dan mereka masuk ke Jakarta sekarang. Di Samarinda sudah ada yang positif, jadi kami tadi sudah bahas dengan pimpinan untuk diperketat, kita mau tahu apakah ada varian baru," katanya.

"Mereka banyak masuk mempunyai Kitas (kartu izin tinggal terbatas) dan pakai visa. Ini mungkin yang menjadi tugas juga dari Imigrasi," kata Bengat.

Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo langsung merespons laporan tersebut. Ia meminta Ditjen Imigrasi dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bertindak cepat.

"Saya baru tahu nih ada WNA bisa masuk ke Indonesia. Ini informasi penting, tolong didalami, karena kita ini masih melakukan pelarangan WNA masuk, kecuali kalau dia punya Kitas, di luar itu tidak boleh," tegas Doni.

"Dirjen Imigrasi dan Kemlu, tolong jangan sampai kita membiarkan kedatangan WNA. Satu sisi mudik tidak boleh, tapi ada WNA yang difasilitasi," tambah Doni.

Apa yang terjadi rumah sakit rumah sakit India?

Keterangan video,

Suasana di luar rumah sakit di Delhi. Banyak yang sekarat tanpa sempat dirawat.

India kewalahan menangani jumlah kasus yang meningkat tajam.

Pasokan oksigen merupakan salah satu masalah besar, dengan sejumlah rumah sakit di ibu kota Delhi, kehabisan oksigen pada Kamis (22/04), menurut wakil menteri kepala, Manish Sisodia.

Karantina ketat sepekan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Petugas kesehatan khawatir tentang apa yang menurut para ahli bisa menjadi gelombang kedua yang lebih mematikan

Pekan ini, ibu kota India, Delhi, memberlakukan karantina selama sepekan ke depan.

Kantor pemerintah dan layanan penting, seperti rumah sakit, apotek, dan toko grosir, dibuka selama karantina, yang dimulai pada Senin (19/04) malam.

Kota itu telah memberlakukan jam malam pada akhir pekan, namun lonjakan kasus harian tertinggi terjadi pada hari Minggu (18/04), dengan 24.462 kasus.

India kini dilanda gelombang kedua Covid-19 yang mematikan sejak awal April.

Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal mengatakan kota itu hampir kehabisan tempat tidur di unit perawatan intensif rumah sakit (ICU) dan pasokan oksigen tidak mencukupi.

"Saya selalu menentang karantina, tetapi yang ini akan membantu kami menambah jumlah tempat tidur rumah sakit di Delhi," katanya dalam konferensi pers virtual pada hari Senin.

Dia juga mengimbau para pekerja migran yang ada di ibu kota untuk tidak pergi, seperti pada karantina nasional tahun lalu yang membuat jutaan dari mereka kembali ke kampung halaman setelah mendapati diri mereka menganggur dan kehabisan uang.

"Ini adalah keputusan yang sulit untuk diambil, tetapi kami tidak punya pilihan lain," kata Kejriwal.

"Saya tahu ketika karantina diumumkan, pekerja berupah harian menderita dan kehilangan pekerjaan mereka. Tapi saya mengimbau mereka untuk tidak meninggalkan Delhi. Ini adalah karantina singkat dan kami akan menjaga Anda."

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Krematorium kota Delhi juga kewalahan

Krematorium di daerah itu juga kewalahan, lapor wartawan BBC Rajini Vaidyanathan di Delhi.

Gambar-gambar menyedihkan menunjukkan mayat dibakar di trotoar, di luar salah satu pinggiran ibu kota.

Satu dari tiga orang di Delhi dinyatakan positif.

Aturan karantina:

  • Tempat keagamaan diperbolehkan untuk dibuka, tetapi tidak dapat menerima pengunjung
  • Hanya 50 orang yang diizinkan di pesta pernikahan dan maksimal 20 orang di pemakaman
  • Pusat perbelanjaan, bioskop, restoran, taman umum, gym, dan spa akan tetap ditutup selama karantina
  • Semua pertemuan sosial, politik dan agama dilarang
  • Acara olahraga tanpa penonton diperbolehkan
  • Transportasi umum seperti bus dan metro akan berfungsi dengan kapasitas tempat duduk hingga 50%
  • Siswa yang hadir untuk ujian dengan dokumen yang sah akan diizinkan melakukan perjalanan
  • Makanan yang dikirim rumah dan makanan dibawa pulang yang dibuat oleh restoran diperbolehkan
  • Orang yang bepergian untuk vaksinasi atau pengetesan Covid-19 diizinkan jika mereka memiliki dokumen yang valid

Selagi dilanda gelombang baru virus corona yang parah, pemerintah India mengumumkan bahwa setiap penduduk dewasa, akan mendapatkan vaksin mulai awal bulan depan.

"Dalam pertemuan yang dipimpin oleh [Perdana Menteri] Narendra Modi, keputusan penting yang mengizinkan vaksinasi untuk semua orang yang berusia di atas 18 tahun mulai 1 Mei telah diambil," tulis Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita AFP.

India telah melaporkan lebih dari 200.000 kasus setiap hari sejak 15 April - melewati puncaknya tahun lalu, ketika rata-rata mencapai 93.000 kasus per hari.

Imbas dari gelombang kedua Covid-19 di India, pada Senin (19/04) Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membatalkan perjalanan yang direncanakan ke negara itu.

Keterangan video,

Virus Corona India: 'Tsunami Covid yang belum pernah kami lihat sebelumnya'

Pemimpin kedua negara dijadwalkan akan berbicara pada akhir bulan ini untuk "meluncurkan rencana ambisius untuk kemitradaan masa depan," kata sebuah pernyataan.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock juga mengumumkan pada Senin sore bahwa India telah dimasukkan dalam daftar merah perjalanan negara itu, yang berarti orang-orang yang telah berada di India dalam 10 hari terakhir dilarang memasuki Inggris.

Mantan Perdana Menteri India Manmohan Singh dirawat di rumah sakit setelah dinyatakan positif terkena virus, laporan media India.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Antrian panjang di pusat pengetesan Covid-19 saat pelonjakan kasus terjadi.

Maharashtra, yang beribu kota di pusat finansial Mumbai, tetap menjadi negara bagian yang paling parah terkena dampak, terhitung hampir sepertiga dari sekitar 1,9 kasus aktif di India.

Tapi Delhi menjadi kota yang paling parah terkena dampak, dengan mencatat lebih banyak kasus harian ketimbang Mumbai dalam beberapa hari terakhir.

Rumah sakit sedang berjuang untuk mengakomodasi pasien positif Covid di Delhi dan kota-kota lain, yang terkena dampak parah seperti Mumbai, Lucknow, dan Ahmedabad.

Beberapa negara bagian telah melaporkan kekurangan tempat tidur di bangsal Covid dan ICU.

Bahkan hasil tes ditunda karena banyaknya permintaan, yang menurut dokter, menyebabkan orang tidak didiagnosis dan dirawat tepat waktu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Delhi memberlakukan karantina selama sepekan ke depan

Para ahli mengatakan pemerintah India mengabaikan peringatan gelombang kedua dan tidak berbuat banyak untuk mencegahnya atau bahkan menahannya.

Mereka merujuk pada pertandingan kriket yang dihadiri oleh kerumunan orang yang tanpa mengenakan masker, pawai politik besar-besaran yang tampaknya mengabaikan aturan dasar keselamatan Covid, dan festival Hindu besar di mana jutaan orang berkumpul di tepi sungai Gangga pada awal bulan ini.

Didukung oleh penurunan tajam dalam jumlah kasus dan dimulainya program vaksinasi, India memulai tahun ini dengan apa yang tampak sebagai kondisi normal.

Tetapi keadaan segera berubah menjadi lebih buruk ketika orang-orang mulai lebih sering meninggalkan rumah, lebih sedikit mengenakan masker dan bersosialisasi dalam kelompok yang lebih besar.

Masuknya varian dan kelambatan dalam upaya vaksinasi hanya meningkatkan infeksi lebih lanjut, kata para ahli.

Dalam beberapa pekan, India melesat ke puncak daftar negara dengan kasus Covid terbanyak dunia, mencatat lebih banyak kasus setiap hari daripada negara lain.