Afghanistan: Taliban membunuh warga sipil di Lembah Panjshir yang menjadi kantong kekuatan oposisi

Afghanistan, Taliban
Keterangan gambar,

Pria ini adalah seorang pemilik toko yang yakin dia aman dari Taliban, kata sumber.

BBC menemukan sedikitnya 20 warga sipil dibunuh di Lembah Panjshir, Afghanistan. Warga sipil di sini menjadi saksi atas pertempuran antara Taliban dengan pasukan oposisi.

Jaringan komunikasi telah dipadamkam di lembah ini, membuat laporan sulit dilakukan, tapi BBC punya bukti pembunuhan oleh pasukan Taliban. Padahal sebelumnya mereka berjanji untuk menahan diri dari aksi balas dendam.

Rekaman dari pinggir jalan berdebu di Panjshir menunjukkan seorang pria berseragam militer dikelilingi oleh pasukan Taliban. Tembakan meletus, dan dia ambruk ke tanah.

Masih belum jelas apakah pria yang tewas itu anggota militer atau bukan - tapi seragam tempur merupakan hal yang lazim digunakan di wilayah tersebut. Dalam rekaman video, seorang saksi bersikeras menyatakan pria itu adalah warga sipil.

Baca juga:

BBC menemukan setidaknya ada 20 kematian seperti itu di Panjshir.

Salah satu korbannya adalah penjaga toko, sekaligus ayah dari dua anak yang bernama Abdul Sami.

Para saksi mata setempat mengatakan pria itu tak akan melarikan diri ketika pasukan Taliban datang. Pria itu mengatakan kepada mereka: "Saya hanya pemilik toko yang miskin, dan tak punya hubungan dengan perang."

Tapi dia ditahan, dituduh menjual kartu selular kepada pasukan oposisi. Beberapa hari kemudian, mayatnya dibuang di dekat rumahnya. Saksi mata melihat mayat Abdul Sami memiliki tanda-tanda bekas penyiksaan.

Keterangan gambar,

Momen di mana pria yang dikelilingi ini pada akhirnya ditembak mati.

Lewati Podcast dan lanjutkan membaca
Podcast
Investigasi: Skandal Adopsi

Investigasi untuk menyibak tabir adopsi ilegal dari Indonesia ke Belanda di masa lalu

Episode

Akhir dari Podcast

Saat Taliban memperoleh kekuasaan di Afghanistan akhir bulan lalu, hanya satu wilayah belum sepenuhnya dikuasai, yatu Lembah Panjshir.

Lembah Panjshir, yang dikelilingi pegunungan, merupakan benteng melawan pasukan Uni Soviet pada dekade 1980-an dan pertahanan melawan Taliban pada tahun 1990-an.

Kelompok yang bertahan di sana sekarang adalah Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF) pimpinan Ahmad Shah Massoud.

Ahmad, putra Massoud memimpin perlawanan terhadap Taliban untuk kedua kalinya mereka mengambil alih Afghanistan. Tapi minggu lalu, kelompok militan itu menyatakan kemenangan dan mengunggah rekaman pasukan mereka mengibarkan bendera.

Pasukan oposisi telah bersumpah untuk tetap melakukan perlawanan, melalui Ahmad Massoud yang mengobarkan "pemberontakan nasional" melawan Taliban.

Sekarang perhatian beralih kepada apa yang terjadi selanjutnya di Panjshir, seperti tempat lain di Afghanistan, dengan kekuasaan Taliban.

Ketika Taliban memasuki lembah Panjshir, mereka mendorong warga untuk beraktivitas seperti biasa.

Keterangan gambar,

Peta Lembah Panjshir dalam Afghanistan.

"Mereka harus keluar, melakukan aktivitas sehari-hari," kata seorang juru bicara Taliban, Malavi Abdullah Rahamani.

"Jika mereka adalah pemilik toko, mereka bisa pergi ke toko. Jika mereka adalah petani, mereka bisa pergi ke ladang. Kami di sini untuk melindungi mereka, kehidupan mereka dan keluarga mereka."

Di tengah seruan ini, sebuah rekaman menunjukkan keheningan pasar yang dulunya ramai. Orang-orang setempat berusaha melarikan diri, antrean panjang kendaraan membuat garis pada punggung-punggung pegunungan yang terjal.

Ada peringatan tentang kekurangan makanan dan obat-obatan.

Taliban membantah telah mengincar warga wipil. Tapi kemunculan laporan setelah pembantaian anggota minoritas Hazara dan pembunuhan seorang polisi perempuan, ini menandakan bahwa kenyataan di lapangan berbeda dari janji Taliban untuk tidak melakukan serangan balas dendam.

"Laporan semacam ini tampaknya mengikuti pola yang telah kami dokumentasikan di seluruh Afghanistan," kata Patricia Grossman dari Human Rights Watch.

"Ketika perjalanan Taliban merebut Kabul dari Juli hingga Agustus, kami punya laporan serupa, dan kami dapat mendokumentasikan ringkasan eksekusi mantan anggota keamanan, mantan anggota pemerintah, dan warga sipil yang sering kali menjadi target pembunuhan yang dilatarbelakangi balas dendam. Ini sangat terlihat pola yang sama."