Militer jatuhkan presiden Niger

Presiden Mamadou Tandja
Image caption Presiden Tandja banyak dikritik karena mengubah konstitusi Niger

Kudeta bersenjata telah berlangsung di Niger, salah satu negara di kawasan Afrika Barat.

Setelah baku tembak terjadi di ibu kota Niamey, militer diyakini menahan Presiden Mamadou Tandja di sebuah barak tentara.

Selain menahan presiden, militer juga diduga telah menangkap sejumlah menteri dalam pemerintahan Presiden Tandja.

Dalam pernyataan di televisi lokal, juru bicara pelaku kudeta mengatakan konstitusi Niger telah dibekukan dan semua institusi negara telah dibubarkan.

Setelah kudeta, lanjut sang juru bicara, roda pemerintahan negeri berpenduduk sekitar 15 juta jiwa ini dijalankan oleh sebuah Majelis Tertinggi untuk Restorasi Demokrasi (CSRD)

Saat tampil di televisi, sang juru bicara kudeta mengenakan seragam militer dan dikelilingi banyak tentara.

Dia meminta rakyat Niger untuk tetap tenang, tetap bersatu dan mendukung CSRD demi menciptakan Niger sebagai contoh demokrasi dan pemerintahan yang bersih.

"Kami menyerukan dukungan nasional dan internasional atas aksi patriotik untuk menyelamatkan Niger dan rakyatnya dari kemiskinan, penipuan dan korupsi," kata sang juru bicara.

Berbagai berita di media lokal mengabarkan bahwa perbatasan negeri itu telah ditutup dan jam malam sudah diberlakukan.

Kudeta ini menjadi puncak ketegangan politik yang terjadi selama satu tahun terakhir di negeri yang kaya kandungan uranium itu.

Presiden Tandja sering dikritik karena mengubah konstitusi yang memungkinkan dia menduduki jabatan presiden untuk ketiga kalinya.

Ketegangan berlarut-larut

Wartawan BBC di ibukota Niger, Niamey melaporkan puluhan tank melepaskan tembakan dan sejumlah saksi mata melihat banyak orang terluka dibawa ke rumah sakit.

Image caption Akibat kudeta semua perbatasan Niger dengan negara tetangga ditutup

Sedangkan seorang pejabat Prancis yang tidak ingin disebutkan namanya kepada AFP mengatkan militer telah menangkap presiden.

"Yang bisa saya katakan adalah Presiden Tandja saat ini tidak dalam posisi yang bagus," kata pejabat itu.

AFP kemudian melaporkan Presiden Tandja kemungkinan besar ditahan di sebuah barak militer yang berjarak sekitar 20 km sebelah barat Niamey.

Sementara itu sumber BBC di pemerintahan Niger mengatakan tentara menangkap Presiden Tandja saat dia tengah memimpin rapat kabinet mingguan.

Sejauh ini situasi di ibukota Niamey belum menentu namun tidak terlihat pengerahan pasukan besar-besaran di sana.

Sebenarnya kondisi politik di Niger sudah lama memanas. Perundingan antara pemerintah dan pihak oposisi yang ditengahi Masyarakat Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) untuk menyelesaikan krisis politik belum menuai hasil positif.

Pendekatan konstruktif

Kepada BBC Ecowas mengatakan badan itu secara cermat terus mengamati perkembangan politik di Niger. Direktur Politik Ecowas Abdel-Fatau Musah mengatakan jika diperlukan Ecowas akan membantu Niger secepat mungkin untuk memastikan pemerintahan tetap berjalan dan konstitusi segera ditegakkan.

Musah menambahkan karena Ecowas tidak pernah mengakui pergantian pemerintahan hasil kudeta militer, maka organisasi itu akan terus menerapkan sebuah pendekatan konstruktif dengan siapa pun yang kelak berkuasa di Niger.

Presiden Mamadou Tandja, seorang mantan perwira militer, terpilih menjadi presiden untuk kali pertama pada 1999 dan terpilih kembali pada 2004.

Niger, negeri bekas jajahan Prancis ini, sudah lama merasakan kehidupan di bawah rejim militer sejak merdeka pada tahun 1960.

Negeri ini adalah salah satu negeri termiskin di dunia, namun pendukung Presiden Tandja bersikeras selama masa kepemimpinan Tandja perekonomian negeri ini membaik.

Dalam masa pemerintahan Tandja, negeri ini mulai memanfaatkan kandungan uraniumnya yang terbesar kedua di dunia itu dengan menandatangani perjanjian energi dengan perusahaan-perusahaan Cina.