Pengunjuk rasa mulai tiba di Bangkok

Pengunjuk rasa Thailand
Image caption Unjuk rasa rencananya akan mencapai puncak Minggu 14 Maret

Ribuan pengunjuk rasa anti pemerintah mulai berkumpul di ibukota Bangkok untuk menuntut pelaksanaan pemilihan umum.

Para pengunjuk rasa yang mengenakan kaus merah itu merupakan pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang dijatuhkan lewat kudeta militer pada 2006.

Pihak panitia mengatakan unjuk rasa yang akan berpuncak Minggu akan berjalan damai.

Pemerintah Thailand mengerahkan sekitar 40.000 aparat keamanan dan menempatkan pos-pos pemeriksaan untuk mencegah kemungkinan terjadi berbagai kerusuhan.

Undang-undang Keamanan Dalam Negeri sudah diaktifkan, yang berarti tentara memiliki wewenang untuk memberlakukan jam malam serta membatasi jumlah orang yang berkumpul.

Unjuk rasa terakhir pendukung Thaksin ini terjadi April lalu dan diwarnai kekerasan dengan dua korban jiwa dan belasan lain cedera.

Pemilihan umum

Image caption Thaksin Shinawatra ditunjuk menjadi penasehat pemerintah Kamboja.

Gerakan "kaus merah" yang dipimpin oleh Barisan Demokrasi Penentang Kediktatoran, UDD, menegaskan akan terus menggelar unjuk rasa sampai Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva menggelar pemilihan umum.

Mereka berpendapat Perdana Menteri Abhisit meraih kekuasaan secara tidak sah dengan dukungan militer dan kaum elit di ibukota Bangkok.

Thaksin masih memiliki basis dukungan yang kuat di kawasan pedesaan di Thailand bagian utara.

Dia digulingkan ketika sedang menghadiri sidang Majelis Umum PBB di New York dan kini hidup dalam pengasingan di luar negeri.

Walau tinggal di luar negeri, Thaksin -yang juga diangkat oleh Kamboja sebagai penasehat pemerintah- masih melakukan kontak rutin dengan para pendukungnya di Thailand.

Thailand sedang menghadapi sengketa dengan Kamboja sehubungan dengan kepemilikan atas Pagoda Preah Vihear di kawasan perbatasan kedua negara.

Pengangkatan Thaksin sebagai penasehat pemerintah Kamboja semakin meningkatkan ketegangan keduanya.

Berita terkait